Saturday, January 06, 2018

Ternyata Sarkoma: Fase Akut (part2)

Setiap menutup mata, selalu saja muncul halusinasi yang mirip seperti mimpi. Mirip, karena tidak sama, semua seperti bisa diatur awalnya , lalu berlanjut tanpa kontrol. Gambaran langit dengan ribuan bintang dengan latar belakang gelap malam, saya seperti penonton di tengah padang dengan ribuan api unggun, serigala-serigala yang bernyanyi menatap langit seolah menonton sirkus bintang-bintang yang menarikan irama yang juga hadir secara acak. Satu sisi saya membiarkan diri tenggelam dalam entah ketenangan atau kebinaran yang absurd itu. Playlist di gadget dengan lagu-lagu ambiens dan klasik dari gardikagigih dan akira kosemura saya mix begitu rupa untuk menadah khayal. Tanpa nyeri, tanpa terasa tersiksa panasnya luka-luka operasi 3 hari lalu. Tiba-tiba saya terbangun, ingin kencing, menengok jam yang ternyata baru 1-2jam dari terakhir saya melakukan hal ini, menekan tombol perawat untuk meminta tabung pispot , memiringkan tubuh sedikit, menahan kekakuan di leher-punggung atas, membuka celana sedikit dan kencing miring ke pispot, memanggil perawat lagi untuk mengambil kencing saya di tampungan itu, sambil menunggu selalu saya perhatikan warna dan volume kencing saya. Begitu saja terus sampai besoknya.. 

Hari itu malam hari ketiga setelah saya di operasi untuk kesekian kalinya. (Eh, baru empat kali denk). 

Iya, fase akut paska bedah adalah seperti neraka dunia. Puncak inflamasi terjadi sebagai respon tubuh terhadap manipulasi besar terhadap fisiologisnya. Pembuluh darah dan kapiler membesar, jantung memompa lebih giat, semua tentara sel darah dokerahkan untuk mengembalikan fungsi, berakibat medan perang di area luka operasi seperti membara demi kebaikan. Dengan efek samping ketidakberdayaan si empunya tubuh untuk membantu perang itu selesai cepat selain beristirahat penuh. Tanpa pilihan yang banyak untuk posisi istirahat. Pegal dimana-mana namun hanya bisa dibiarkan. Kontrol nyeri. Obat-obat bius saat operasi (terutama operasi panjang) yang masih tersisa dan menyebabkan daya hayal dan halusinasi.

Kali ini operasi saya adalah mengenai pengangkatan si tumor di punggung saya yang berukuran panjang 15cm-an, sedikit menginvasi bagian kecil beberapa tulang belakang, dan sedikit merasuki saluran sumsumnya. Tim dokter disini memutuskan untuk bertindak se-agresif mungkin, pertimbangannya saya ini nantinya akan bekerja aktif sebagai dokter bedah juga, masih muda dan petakilan. Maka untuk semua itu tiga ruas tulang belakang saya diambil sebagian (laminektomi v.th1-2-3) dan pemasangan cagak besi di dalam untuk menopangnya (stabilisasi dengan pedicle screw & rod), plus graft tulang dari iliaca. lalu supaya ruang kosong yang ditinggalkan tumor(dan otot disekitarnya yang ikut diambil) maka otot sayap saya sebelah kanan diputar ke tengah (rotational flap latissimus dorsi dex.)
Total 9 jam dari insisi sampai tutup lagi. Menginap di ICU dua malam (semalam ditidurkan), dan proses ekstubasi dan lepas-lepas selang lain yang saya sadar saat dilakukan, kepahitan-kepahitan yang seperti dejavu. Lebih ke ujian mental karena tidak cuma kali ini saya lalui.

Sebelum malam ketiga tadi, datangnya malam adalah sesuatu yang saya kurang suka, ngantuk sekali namun tak bisa tidur karna halusinasi dan ketidaknyananan super yang mengganggu, perasaan kepanasan dan kedinginan yang berganti dan serba salah,, ketenangan yang bisa didapat hanya beberapa saat setelah obat antinyeri masuk.. adaptasi yang terasa gagal secara mental. Namun saya secara sadar cuma berbekal percaya bahwa itu hanya sesaat, itu hanya fase sebentar, dan Alhamdulillah bisa melaluinya walau terasa babak belur secara perasaan, tapi itu langsung terhapus perasaan sukur yang saya bangun diparoh otak saya yang lain.

Iya, semua ini tergantung pikiran kita yang kita bisa kontrol walaupun tidak seluruhnya.

Cuma Alhamdulillah. =]




No comments: