Sunday, November 13, 2016

jibunnokarada

Hai semua. kiranya tidak perlu menjelaskan kenapa saya lagi-lagi jarang nulis disini.
namanya juga pengkhayal, bukan penulis. hehe
Kali ini, dibantu jaringan intenet lancar dan beberapa source di gugel,,bolehlah saya bercerita mengenai sistem asuransi kesehatan di Indonesia kami tercinta jika kita lihat dari sudut pandang perbandingan dengan sistem asuransi nasional yang analoginya adalah BPJS-nya Jepang.

Terinspirasi oleh satu link yang di-forward di grup aplikasi komunikasi di smartphone mengenai tulisan yang beraroma positif mengenai BPJS, sistem asuransi nasional yang (tak terasa) sudah dicanangkan di UU no.24 Th2011 mengenai lahirnya sistem BPJS (sebelumnya jamkesmas, askes, dll. terus dijadiin satu namanya dan sistemnya) yang secara resmi diberlakukan sejak 2014. (source: WIKIPEDIA).

Kalo kita mencoba review di dunia maya dimana media sosial, terutama, dan tulisan di situs situs berita mengenai BPJS ini, mungkin separoh lebih isinya mengenai betapa ngga bagusnya sistem ini.
Tapi ga kalah banyak juga loh yang nulis mengenai bagusnya dan betapa sistem yang belum lama jalan ini untuk membantu dan meningkatkan kesehatan rakyat Indonesia tercinta tanah air beta pusaka abadi nan jayaaaa.

Kedua, secara statistik, BPJS telah berhasil mengkaver lebih dari separoh penduduk yakni sekitar 60% (http://infobpjs.net/ , bps.go.id) dibalik masih memprihatinkannya statistik anggaran pemerintah di bidang kesehatan yang menduduki peringkat 4 dari bawah di dunia (data bank dunia). bingung? satu dulu. Dan sebagai negara berkembang yang sudah lumayan berkembang (menurut asumsi awam saya, hehe) dibandingkan negara asean saja, Indonesia masih pada urutan terbawah mengenai pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan. Nyambung gak nyambung sih, lebih ke efisiensi sistem kesehatan yang belum sepenuhnya sampai ke yang membutuhkan. Semoga saya aja yang salah memahami data data itu karna bpjs ini tergolong masih baru sedang data-data global tadi belum terlalu baru, yang pasti, sistem kesehatan Indonesia masi dalam tahap perkembangan yang baik namun pelan  dan atau telat saja.

Kebetulan saya juga berpengalaman terhadap sistem ini berdasar pengalaman kurang lebih 4 tahun mengabdi, eh, bukan, bekerja, eh , bukan juga, atau apalah pokoknya slama saya menjalani program ppds di RSUD Sutomo Surabaya (2012-2015). Yang pasti, asuransi kesehatan  nasional di Indonesia sudah sangat menolong masyarakat.

Entah, detailnya mari kita lebih memahaminya mulai besok.

.....

Saya kebetulan sudah merayakan satu tahun merantaunya saya di negeri maju ini (baca: nippon), dan kebetulan juga sudah beberapa kali berobat. Yap, dibalik betapa giatnya saya dan keluarga untuk hidup sehat dan pemahaman prevensi terhadap penyakit, tidak terhindarkan juga adanya kebutuhan yang tinggi terhadap fasilitas kesehatan. Mulai dari alergi dingin dan infeksi (orang tropis gitu loch), dan beberapa kondisi fisiologis yang butuh pemeriksaan penunjang dan konsultasi ke spesialis. Maka dari itu kami merasakan efek beruntungnya mengikuti asuransi kesehatan nasional disini, iya, bpjs nya Jepang.

Sistem asuransi kesehatan di Jepang (sebut saja HOKKEN) ini sudah berjalan secara menyeluruh sejak 5 dekade lalu (tahun 60an) walau sejatinya diawali saat post perang dunia satu sampai sekarang dimana saat dekade awal, ditambah hancurnya Jepang di segala bidang setelah kukut kalah perang. Yaaa dasar Nippon, kondisi jatuh dan kepepet itu justru berakibat konsistensi untuk membangun sumberdaya dan sitem yang benar-benar-benar jitu, dimana menurut WHO , Jepang merupakan jajaran teratas negara didunia dengan sistem asuransi kesehatan nasional yang yang paling efektif. (sumber: wikipedia)

Setahu saya seluruh fasilitas medis di sini bisa memakai hokken. Singkatnya, sistem ini memungut premi asuransi sebanyak 10 kali satu tahun , pembayaran cukup mudah, bisa diatur untuk autodebet ke akun tabungan di bank, atau bisa bayar sesuai dedline setiap nomor urutnya di convenient store terdekat. kalo di indonesia kaya indomaret atau alfamaret. besar premi tergantung laporan pajak yang dilaporkan sekali setaun sesuai tenggat waktunya, contoh seperti saya yang hidup dari beasiswa pemerintah Jepang, maka akan dikenakan premi terendah, kira kira 1.500an yen (asumsi 1 yen 120 rupiah, makan sekitar hampir 200 ribu rupiah), setaun sekitar 15.000 alias 2 juta rupiah, jadi kalo dianalogikan ke BPJS yang kelas satu misalnya, perbulan 60ribu rupiah, setahun ga nyampe satu juta, broooooo. Mungkin memang karna sistem pembayaran yang tampak ribet, (padahal ga ribet loh ya), dan kompleksitas mental dan kebiasaan bayar premi bagi masayarakat endonesia yang bikin lumayan susah tepat bayar.
Untuk biaya kesehata, mirip-mirip sama bpjs yang punya sistem sendiri dengan jatah poin dan lain sebagainya yang bikin ada limit tertentu untuk setiap diagnosis dan biaya untuk menejemennya sampe tuntas terapi. Di sistem hokken ini sistemnya cukup mudah dimengerti, yaitu: 70% asuransi, 30% pribadi. Artinya, smua hal dari A sampe Z dari kelas satu sampe presidensial, biayanya 'cuma' 30% dari semua konsumsi. Walau ada beberapa kondisi tertentu 100% negara (usia, penyakit, dll, saya kurang paham).

Sistem ini sempat berubah-ubah sebelum akhirnya fix di tahun 70an sampai sekarang, iya, uda jalan 40tahunan.

Fasilitas kesehatan di Jepang ini standar negara maju alias semuanya bisa dibilang hi-end dan terpusat, mirip-mirip lah yaa, ada yang kelas puskesmas atau klinik yang jadi satelit, sistem rujuk-rujukannya oke, selain fasilitas, waktu dan transportasi jarang jadi kendala (sepertinya jumlah ambulan dan doctor-heli mreka ga terbatas hehe). Mereka juga ada pembagian untuk pilihan kelas untuk fasilitasnya loh..

Untuk administrasi, ga terlalu ribet, iya mungkin karna sistemnya uda established lama, tinggal urus sehari di di city hall, langsung jadi deh.. antri? yaaa tetep lah antri. trus untuk pemakaiannya di rumah sakit umum, misal seperti univ.hospital disini (analogi kaya RSCM deh kalo di jakarta), tetep antri panjaaaaaang dan laaaamaaaaaa loh, sumpa deeeh.. yang periksa di rumah sakit pusat disini juga bejibun banyaknya. Jadi yang namanya periksa ke rumahsakit pusat itu dimana-mana bakal kudu siap cape antri. titik.

Pemeriksaan semua disini sudah pakai sistem digital , terutama untuk buku status pasien, dan hasil pemeriksaan penunjang, tapi untuk informconsent dan beberapa hal lain tetep hardcopy. Jadi tetep aja pasien dan petugas bakal berurusan dengan dokumen, ga beda jauh kan?

Nah, SDM nya nih yang sedikit beda, budaya manusia disini yang respek tinggi terhadap yang lebih tua, anak-anak, dan terutama orang sakit, bikin smuanya kerasa dimudahkan. Ditambah sosial budaya kecil lain seperti antri, bersih, dan sebagainya yang sulit dijelaskan disini.

Tenaga medis disini, saya kurang bisa tau banyak sih, sepertinya ga ada masalah mengenai pendapatan mereka berhubungan dengan asuransi, ya itu tadi, karna sistem uda jalan berpuluh tahun, secara sistem semuanya lancar-lancar aja. Sepaham saya di Jepang, dokter termasuk di 3 besar pendapatan tertinggi selain pengacara dan guru.

Dan walaupun segalanya seperti sudah enak dan nyaman,  negara ini memiliki masalah tersendiri dan akan menghadapi kerumitan kedepan karna penyakit kronis dan degeneratif akan sangat tinggi mencatut biaya kesehatan karna selain masalah beranak pinak, orang Jepang dengan pemahaman dan tingkah laku sehatnya berakibat masa hidup lebih panjang dan dominasi penduduknya adalah : orang tuwir yang sepaket dengan pnyakit-penyakit yang tidak bisa dihindari yaitu pnyakit orang tua.

BPJS di Indonesia?
baru banget.

Jadi, apapun ke-negatifan dan kepositifan yang kita tangkap dari semuanya mengenai BPJS kita, InsyaAllah kedepan bakal bertransformasi menjadi baik, sangat besar kesempatannya untuk itu. bagi pasien, bagi masyarakat, bagi pemerintah, dan bagi pekerja di bidang medis, bagi smuanya. Amiin

Sekian, mohon maklum jika kurang panjang karna pendek itu belum tentu ga kuat, *halah



Tuesday, September 13, 2016

Rumah (yang) kokoh

Hai kawan!
Rasanya cari waktu yang pas untuk melakukan sesuatu yang tidak masuk daftar prioritas itu sulit sekali ya, contohnya rutin nulis di blog pribadi seperti ini. 

Sudah hampir satu tahun saya di perantauan yang sebenarnya, digaji untuk belajar mengenai hal yang nyata namun butuh maintenance terutama untuk menyambung semangat. Seperti iman, semangat belajar itu, walaupun sesuai passion, itu sungguh seperti rollercoaster. 

Kehadiran Kiana Naira, si putri bulan kami, juga hampir terhitung satu tahun. Kami masih merasa separoh mimpi dikaruniai si mungil ini. Kami sadar kami termasuk spesies manusia yang normal yang setelah ada anak di keluarga kecil kami ini, segalanya ya untuk anak. Pengorbanan pengorbanan kecil sampai mungkin besar,(ga pernah nonton bioskop, ga pernah spedaan lebih dari 2-3jam, ga pernah belanja , makan makan hedon, baju simple yang ga ada bukaannya buat nyusuin, tidur pelukan tanpa baju , dll dll) kami jalani sepenuh hati, mungkin kadang kami meratapi, tapi menjadi ikhlas sekejap setelah melihat gelak tawa, bahkan membayangkan nafas tidurnya saja. Seperti jadi adem gitu, kaya relanya tu rela banget gitu..

Begitu natural alami atau apalah bahasanya,, 
Hari hari yang terasa pendek dirumah dan panjang di laboratorium karna ga nemenin si kecil, Subhanallah ya pemberianNya ini.
Betapa rasa akan 'rumah' itu setiap waktu akan tumbuh dan luas, dahulu kita anak yang  tak tahu apa apa, lalu menjadi pemberontak dan tak merasa disayang, sampai merasa orangtua dan saudara itu priceless saat kita melamun dan dirundung rindu akan bau masakan ibu dan keunikan kakak adik kita saat harus lama tidak dirumah. Lalu kita menikah, memiliki orangtua asing yang menjadi orangtua kita juga, dan kita pun berkembang biak, lalu kita menjadi orangtua anak yang setiap detilnya adalah tanggung jawab kita, tanpa merasa harus maintenance rasa kasih kepada mereka karena semuamuanya begitu didapat secara otomatis dan gratis (rasa).

Iya, membangun rumah (yang kokoh) itu ternyata sudah dimulai sejak kita lahir, sejak kita dirawat penuh ikhlas oleh leluhur kita, sekelompok manusia yang kita sebut keluarga.

Hehe,
Have a good day, homosapiens!




Sunday, July 17, 2016

(im)possible? -rekap musim 2015/2016-

Sebenernya uda pengen nulis dari dulu rekapan hasil hasil dari liga liga banyak cabang olahraga skala internasyenel yang saya ikuti. Tapi uda kaya beruntun aja ga slese slese sejak mei kmrn, ni aja tour de france masi baru slesai duapertiga tapi ya gimana ya mumpung sempet. Oya sebelumnya, saya ga nulis rekapan tiap taun tontonan saya (liga inggris, nba, basket indonesia & tour de france) kalo ga spesial, trakhir taun 2009 pas  boston celtic juara.
*belagak ini tulisan penting

Oke taun ini (musim 2015-2016) memang ajib. Saya itu bukan pengikut setia smua liga sepakbola bahkan liga indonesia saya ga tau (eh masi ada ga sih?). Tapi liga inggris jangan tanya ya (baca: sel setan merah mengalir di vena saya), yang dijuarai sama leichester city, iya, smua tau dan stuju kalo cara mreka menjuarai EPL taun ini ajaib. Dimana secara fakta awal musim taruhan mreka menjuarai EPL (bandar taruhan apa gitu saya lupa, pokoknya kelas internesyenel) itu 5000:1, perbandingan angka yang sama kaya kim kadharsian jadi presiden Amerika. Hehe

Lalu ada kisah dimana tim CLS surabaya yang 'akhirnya' pertama kali jadi juara iBL. Memang nyatanya si Jamar yang mulai musim pertamanya d CLS ini menjadi rookie of the year sekaligus MVP musim ini tanpa tandingan, tapi yang ga cuma liat final IBL kemaren itu pasti setuju kalo mereka membangun timnya uda sejak ratusan tahun lalu, perlahan dan pasti gitu hehe.. Sebagai penduduk kota (kedua saya) Surabaya, saya turut berbahagia (sangat).

Lanjut cerita heroik kakak LebronJames yang mematahkan kedigdayaan Goldenstate warriors yang secara lagi anj*ng banget (hehe maaf saya ga suka mreka), baru aja mecahin telor, eh, rekor musim nba dengan angka kalah menang 73-6. Padahal difinal cavs ktinggalan 1-3, iyap sejarahnya ga ada tuh yang bisa bangkit dari ketertinggalan segitu di final nba sejak hercules lahir di ribuan taun sebelum masehi. Saya nonton finalnya sampe terharu, secara sedikit paham posisi mas lebron yang punya alasan sendiri balik ke cavs dan ikut bangun tim itu,, keren yaa..

Lalu lanjut ke piala eropa, dunia di pertontonkan oleh kisah heroik mas mas islandia, siapa yang naroh ekspektasi ke mreka? pasti banyak juga yang ngarep mreka bakal nyampe lebih jauh daripada prempat final nyamain kisahnya leichester tapi beneran uda cukup ngasi tau dunia bahwa mreka eksis. Iya, negara yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit daripada followers akun instagram cr7. Ternyata masuk akal setelah kita tau bahwa keseriusan menejemen (sepakbola) negara yang cuma bisa mainin liga 4 bulan dalam setaun itu, dan ratusan excuse buat ga usa maju di sepakbolanya, berhasil mulai memanen yang mreka tanam semenjak 2002. Inspiratif, seperti juga cara mreka merayakannya ala ala viking yang dengan konyolnya jadi inspirasi buat tim prancis yang niru pas lolos ke final namun sangat gagal niru hehe, langsung kena karma kalah di final. Bahkan belum habis cerita karna sang juara, adalah tim yang sampai ke final dengan 'cuma' sekali kemenangan sejak penyisihan dalam 90 menit pertandingan, lolos dari grup aja karna konspirasi michel platini (sbagai kepala uefa) pas maksa 24 tim di final euro dan itu bikin beberapa tim pringkat tiga di fase pnyisihan, termasuk tim portugal ini. Kisahnya tambah dramatis karna ronaldo cuma main 10 menit scara efektif dan nyentuh bola 8 kali saja. Kalo kata pange (penulis favorit saya via pandit footbal.com) ituh mas ronaldo jelas lebih baik daripada messi yang (putus asa setelah) ga pernah jadi juara satupun di 4 final negaranya yang dia ikut main, dan setidaknya masi rutin bayar pajak. Hehe. Emang sih saya juga nangkep si platih portugal (pak santos) ini jenius, terutama pas mutusin masukin si bebek buruk rupa 'eder' yang tiba tiba jadi angsa cantik di perpanjangan waktu dengan gol classic no.9 nya. Wah, panjang juga ya ceritanya..

Trakhir saya nulis ini, beberapa hari kemarin rada epik lagi karna di stage 12 tdf, si froomey (pmegang sementara jersey kuning) melakukan hal yang baru skali terjadi di spanjang sejarah tdf berlangsung seabad ini. Iya, dia lari, pake spatu cleat, tanjakan, ventoux pula. Ditambah sampai hari ini si kaka cavendish, di taun taun trakhirnya di pro cycling, uda menangin 4 stage. Kalo kata paman sam: what the F*ck!

Hmmm apa lagi ya hehe

Kira kira begitulah ya,, 
Disini uda summer, ga enak blas, enakan panas di indonesia. Huff, dasar saya manusia, slalu aja ngeluh hehe

*foto lari dibawah terik di udara summer (pertama) saya disini*

Tuesday, May 03, 2016

Sakurajima-loop-ride (dropbarjournal)


I wrote this after 5 time did my (lonely) ride on this track.

Sakurajima mount located on the center of Kyusu island, surrounded by the sea (so it also called sakurajima island, as we know geograpically Kyusu has a huge gulf, yes, this active mountain is like on the center of Kyusu. (see on the map)



From kagoshima, everyone can reach this island by local ferry. These ferry, as a general transportasion, is very comfortable and appropriate for every vehicle especially (road)bike. The fare for 1 bike 1 way is 270yen. Not too cheap but i think is worth to pay this amount for beautiful scenery of sakurajima mount, kagoshima port, and the sea between with its kind of solitude of the diswave sea, even only 15 minute cross. (Because of the sea actually is a huge gulf, there is no wave, very 'calm' sea).

The sakurajima ferry port face kagoshima at west direction, we can choose any direction to start to ride around the island. To the left/north or to the right/south. 

Track:
1 time round: 35km, just follow the main road. Most of the track is the seashore outside, foot of the mountain inside.(depend on which side you rode. I prefer start to north because nearer to the sea, just beside). Awfuly beautiful. Some kilometers are break through the hills and the forest. Rolling, 50% of the track is hill climb and down , in average 3%-6% grade, with short and long variation. Lil bit strong headwind sometime (from the sea and the mount) also if the active sakurajima blow the ash (not always, and not a big deal). Good asphalt, quiet from the cars, and no red light stop signal, hmm maybe from 35km only 2 red light.(the last two is really make comfy for ride!)
 

There is a park with foot onsen just beside the ferry port, i like to go there before cross back by ferry about 15-30minute foot relaxing in onsen. Enjoy pain, enjoy life =]

Here some image i took there, sorry for  narcism contain.







Thursday, April 07, 2016

Gaya jempol

Jempol:
Dalam ilmu antropologi asik, dalam benak saya berdasarkan feeling dan hipotesa random, memberikan jempol memiliki makna bahwa dalam kondisi oke, bisa juga memberikan info bahwa objek itu atau ini adalah baik.

Dalam perkembangannya, seiring pertumbuhan kapabilitas potret memotret dalam arti alat mengambil gambar potret yang smakin kesini semakin canggih, tumbuh juga satu 'gaya' yang menjadi umum. Iya, gaya 'jempol'.

Mungkin ini beda dengan gambar potret secara umum seperti lenskep, atau selfi selfian.

Saya, dalam hati yang dalam, kurang suka atau rada geli jika gaya manusia dalam potret tersebut memakai gaya 'jempol'. Namun peradaban sekarang , tanda data yang terpercaya, saya yakin sparo manusia terutama kaum lelaki muda, memakai gaya jempol jika dipotret, bisa sendiri, bisa pas foto rame rame. Ini tidak baik, mengalahkan simbol potret perabadan damai dengan gaya telunjuk dan tengah. ( gaya piss )

Kebetulan saya adalah murid dari sistem sekolah spesialis bedahsaraf, dan sering mengambil gambar (klinis) pasien dengan gaya jempol, untuk ini sih kami pakai karna untuk menunjukkan kondisis saraf secara general. Itu pun kami jaga arsip tersebut untuk keperluan medis saja.

Entah ini berhubungan atau tidak, 
Saya geli aja kalo ada mas mas yang slalu pakai gaya jempol.

Hehehe

Maaf ya nulis ini, daripada ga diungkapkan ntar bisa bebelen *halah


Wednesday, March 30, 2016

(Not) A trivial self achievement



For running, i've been using nike lunar family since first time running. 
At the end of 2011, when randomly joined 10k running event, that time i didn't have any running shoes so i wore nike free sole sneakers (training shoes). Since that moment i just like falling love with run but considered that i needed proper shoes also.

After reviewed some types of (nike) running shoes, researching from every refrences (youtube, magz, etc.) , i decided to wore lunar sole. Yes, i am neutral runner half stable. Zoom and airmax is too hard for me  ( forgive me i'm still 'nike'fanboy hehe )

I used to wore: lunarfly, then lunarglide 4, and lunarglide 6 until last month (2016). In average i retiring my running shoes after it used for 600km.(For me it took around 1year, recorded on my nikerunning acount)
Beside, some time i run with my flyknit airmax1 (present from my mom) but usually i wear for daily sneak,beside it not tooncomfy for my running, its too good model to wear you know.. 

Now i'm wearing blackout nike lunartempo2.
Honestly, before bought this one, i thought that i wil break my contract with nike (haha) and change to the very tasty adidas ultraboost. Because of that ultraboost is overbudget, (almost 300bucks US!) so i decided to still using lunarfamily.

Now i've been run this lunartempo2 around 50k, and feel fantastic. I think this is the most comfortable lunarfamily i've been used. Much better than lunarglide, maybe lunartempo upper site is not too 'soupy' and more flex than thicky construct of lunarglide. Yes my foot is lil bit transfer to more neutral from stable last couple years of running.

Those shoes i bought not because it was discount price or something else like that. Thats expensive for me, (around 100-200 bucks US) but i think that all worth for my self achievement for finishing the target, like 600km running per year. Yes you can not buy happiness but you can buy shoes! =D

Happy run, all!




*above to below:  blue lunarfly; red lunarglide4; light green lunarglide6; flyknit airmax; blackout lunartempo2(2012-2016)*