Saturday, October 07, 2017

Diafragma: salam supersaiya (3-habis ajalah ya..)

Kadang jika kita menutup mata dan membayangkan 'what if' ini dan 'what if' itu, semua hal bisa sangat berkebalikan, ada yang sangat bisa disukuri dan bisa jadi juga membuat satu sisi kita (sering) tak sengaja negatif.

What if, saya hidup di keluarga yang berbeda, atau bagaimana jika saya punya istri Raisa. #halah

Semua sawang sinawang.

Tentu Cristiano Ronaldo kesal setengah mati, di level "pmain sepakbola pro yang jarang banget cedera", dia malah cedera saat final euro terakhir kemarin saat pertandingan baru jalan beberapa menit. Ya untungnya sih menang.. kalo kalah, bisa beda banget ceritanya, untuk dia, untuk banyak hal di dalam karirnya.

Mungkin Leonardo Davinci tak bakal se-Amazing itu jika dia dilahirkan saat perang dunia kedua, penemuan-penemuan pentingnya sudah ditemukan orang lain, dan dia mungkin cuma jadi tentara infanteri yang mati tertembak di perbatasan Sisilia. Atau LebronJames jika terlahir saat basket belum ditemukan, mungkin doi cuma jadi jagoan di pasar lokal di Acron.

Atau saya, jika lahir dengan tumor yang sama , bisa banget mati muda tiba-tiba tanpa makna jika hidup di peradaban tengah saat bekerja di ladang di jaman Majapahit.


Hehehe. Maaf analogi saya semrawut tanpa benang merah.


Semua hal adalah berharga. Termasuk fungsi fungsi 'sepele' tubuh seperti batuk, bersin, nafas dalam, dan bahkan tertawa. Iya, operasi yang saya lewatin kemarin membuat hal kecil diatas selalu disertai nyeri sangat. Alhamdulillah itu berangsur membaik seiring penyembuhan. Walaupun harus berdamai dengan ambang batas kesabaran diatas rerata (mungkin).

Semua mengenai zona nyaman, seperti pemuda yang akhirnya menghargai sebungkus nasi bebek di saat ga mungkin gampang dapetin itu saat rantau di negri orang. #curhatdulusayanya
Atau arti sebuah keluarga, orangtua, pekerjaan, dan lainnya yang menjadi berlipat-lipat nilainya setelah keluar dari zona nyaman itu. Sengaja atau tidak.

Mungkin pelari profesional atau amatiran, penghobi roadbike yang bisa dan punya waktu untuk nglakuin longride/longrun bakal lebih merasa waktu yang dia telah habiskan itu sangat-sangat berharga: jika dia cedera, atau jatuh dalam kondisi yang membuatnya dari nol lagi, atau bahkan terpaksa berhenti. Rasanya pasti frustasi sekali. 



Mungkin tak smua orang diberi kekuatan yang sama untuk menghadapi jarak yang jauh dengan zona nyaman tadi. Juga kemampuan menjadi ikhlas yang membutuhkan waktu lama atau sebentar, karna keluar dari zona nyaman itu bukan dalam kasus yang kita bisa memilih saja (untuk keluar, untuk mencari tantangan, dll) , tapi itu juga semacam hukum alam dan relatif, atau sebagian besar kita menyebutnya qadar.
Dan sebagaimana manusia standar, setinggi apapun ikhtiar/rekornya/supersaiya-nya, tetap saja adalah se-atom partikel hasil evolusi yang sama sekali tak berdaya. Kecil sekali.

--------------------------------------


Saya ingat sekali saat saya berulang kali memanggil perawat melalui tombol itu saat saya cuma mau ambil minum atau hanya meminta tolong merubah posisi badan saya di kasur(tentu saya melakukannya karena terpaksa, karna saya tidak berdaya untuk itu, saat itu). Disaat hari ketiga setelah operasi, saya dilatih untuk berdiri dan berjalan yang menjadi berdiri tersulit (dalam hidup saya, so far) karena post 3 hari cuma tidur di icu, atau hari ke 5 post operasi, saat saya (mulai) latihan berjalan dan bernafas dengan diafragma 'baru' saya, yang cuma menempuh 500meter (tapi) rasa 5km.
Pada akhirnya saya seperti ditampar karena menyadari semua hal kecil yang saya sering anggap sepele atau bahkan tidak kepikiran itu berharga, berhargaaaaaa sekali. 

Semoga saya tidak lupa semua kenikmatan ini, karna saya diberi qadar untuk keluar dari zona nyaman saya sebagai manusia normal, untuk diberi pemahaman bahwa semua hal , kluarga, teman, talenta apapun, batuk , bersin, ketawa, menelan, sendawa, berpikir, senang, sedih, nyeri, nyeri banget, pemahaman spiritual, cara menikmati langit, pringles, nasi bebek, nasi goreng pak Hadi, nasi goreng tek-tek lewat depan rumah, gojek, martabak telor, sepatu nike, internet, otot diafragma, dan smua smua smua smua smua (hehehe apalagi ya.. pokonya smua) itu berharga sangat tinggi.

SALAM SUPER


#termarioteguh


Gambar: asik nih karna kena sakit di rantau jadi dijengukin oma nya anak-anak.. hehe (baca: perbaikan gizi)

Sunday, September 24, 2017

Diafragma: mimpi (ter)buruk (part2,from3)

"hasbunallah wani'mal wakil ni'mal maula wani'nan nasir"
Adalah doa yang semalam sebelum operasi itu saya baru hapalkan. Doa untuk menikmati rasa nyeri. Yang terucap dalam ketidakberdayaan saya dimulai saat saya pelan pelan sadar di pagi itu. Tentu saya disorientasi sampai profesor Sato , ahli BTKV-sang operator, datang dan menyapa saya ohayou gozaimasu.
Tangan saya terikat , dan mulut saya tak berdaya akibat ada selang endotrakheal beserta ganjel-ganjelnya di dalam mulut saya, iya, saya masih terintubasi dan dalam proses ekstubasi. Lalu mungkin saya sedikit gelisah dan diberi obat supaya tenang karna saya ingat saya merasa sedikit teler sampai sadar penuh kembali saat tim dokter ICU melepas selang endotrakeal saya. Rasanya sakit sekali saat benda itu bergesek di dalam saluran nafas di dada saya terutama saat sekitar tenggorok (saat proses melepas selang). Saya pun disuruh batuk, tapi perih di luka oprasi saya (dada kiri) begitu nyelekit juga saat saya batuk. Saya ingat sekali dua kali saya merasa seperti tersedak, ada lendir besar di tenggorok saya yang sangat sulit keluar tapi saya pun sulit baruk karna terbatas nyeri. Sampai keringat dingin, walaupun berhasil pada akhirnya.

Saya sepenuhnya berorientasi baik sesaat setelah ekstubasi menyakitkan tersebut, karna itu pula ikatan saya dilepas. Saya bisa mengeluarkan suara walau serak dan pelan, dan masih ganjel di tenggorokan selang hidung-perut (NGT), kateter urin, 2 IV line, 1 Arterial Line, banyak kabel kabel monitor di sekujur badan saya, dan terutama 2 buah selang besar yang tertancap di dada kiri saya. Sangat jelas betul  semuanya di ingatan sampai saya menulis ini.
Walau terbatas gerak, saya langsung menemukan jam dinding yang kelihatan di kanan saya dan monitor di sedikit kiri belakang saya. Sayapun menemukan tombol penggerak kasur untuk mengelevasi kepala atau kaki saya.

Saya beri tahu untuk pembaca disini: orientasi baik dan kepahaman akan pengetahuan medis dan hampir smua hal di ICU adalah seperti kutukan jika diri sendiri yang dirawat di ICU. Sungguh.
 
Setiap detiknya saya bisa merasakan bahwa jam berputar sangat lambat karna diiringi rasa tidak nyaman oleh nyeri-posisi-selang-selang. Alhamdulillah si NGT & kateter di lepas setelah si tim bTkV datang visite pada sorenya, walau didahului drama plebhitis di sekitar Arterial line yang mau acc aff nya aja nunggu prawatnya nanya dokter jaganya, hadeeeeh , itu nyerinya ga nyaman banget..
Oya, jangan tanya rasanya saat aff NGT dan kateter urin. Jujur saya traumatik secara psikis untuk aff-aff ini.

Setelah diberi tahu bahwa saya akan menginap semalam lagi setelah itu di ICU untuk monitoring nafas saya, perut saya keroncongan, ya iyalah ya, itu selasa sore dan saya terakhir makan makanan padat minggu malem. Dan ironisnya jatah makan saya baru boleh diberi rabu pagi. (Artinya saya puasa makan minum , tentu dengan parenteral rehidration, selamat sekitar 50jam).
Perut saya lapar, lalu sangat menjadi lapar, lalu perut saya seperti sebah, tidak enak, lalu gas  seperti memenuhi perut saya, kentut banyak kali dan sendawa juga sering, TETAP TIDAK DIBERI MAKAN, mgkn memang kasus saya memang mengharuskan lambung tidak boleh terisi bahan padat selamat fase akut post op. Saya kolik pada tengah malam, saya meminta sejumput apapun untuk diisi ke lambung saya yang perih naik turun itu, akhirnya 1jam kemudian diberi obat untuk lambung 'saja'. Sekitar jam 3an saya merasa kolik yang mereda akibat obat tadi, datang lagi dengan kekuatan super. Mungkin saya adalah pasien ter-resek malam itu bagi perawat ICU karna setiap setengah jam saya memencet tombil panggil perawat untuk semua hal kecil. Bahkan saat subuh saya meronta-ronta kesakitan karna tidak kuat menahan semuanya hanya dengan diam. Jujur saat itu nyeri kolik perut saya mengalahkan nyeri oprasi saya. Malam yang buruk. Tanpa tidur seditik pun.

Dengan sangat pelan jam akhirnya menunjukkan pukul 7.55 saat makanan datang: sekotak kecil susu, stangkap roti tawar plus sesachet selai anggur, dan 1/3 pisang. JUJUR INI SARAPAN TERNIKMAT SEUMUR HIDUP SAYA. Walau sempat seperti tersedak saat awal makannya, karna pasti sistem tubuh saya kaget karna di tidurkan dengan terintubasi lebih dari 24 jam dan usus ini dipuasakan hampir 3hari.

Jam 10.30 hari rabu itu, saya dipindahkan ke ruang rawat saya. 
Lega rasanya saat kembali ke ruangan, 
Dengan operasi sebesar itu (terutama dalam hal resiko komplikasi), walau di tempat dengan sarana terdepan, rasa itu tetap ada: takut tidak kembali.

-------------------------------------------

Thoracotomy yang dilakukan terhadap saya membuat dada kiri saya terdapat bekas sayatan insisi sepanjang sekitar 15cm, tepat di Intercostal space 6, batas depan linea axilaris anterior , batas belakang linea scapularis lateral. Durante, ditemukan tumor kesan berasal dari diafragma (seperti DD awal preOp), diameter terbesar 10cm, putih, batas tegas, berbenjol-benjol ke superior dan ke inferior, batas ke lien dan paru mudah dilepaskan dengan peritoneum dan pleura yang intak. Dilakukan wide eksisi dengan defek eksisi tumor di ganti dengan artifisial mesh (gore-tex) dan dijahit sangat erat dengan tepi diafragma yang masi ada (Alhamdulillah bagian otot diafragma kiri saya katanya sbagian besar masi utuh), terdapat sedikit kesulitan karna tumor sedikit 'mepet' ke posterior dan mengakibatkan ikatan mesh ke bagian posterior tidak mudah.
Lalu operasi dilanjut eksisi nodul di bagian apical dari lobus inferior paru kiri saya, yang diduga tumor juga. 
Sekiranya begitu yang saya simpulkan sendiri dari laporan tim oprasi ke saya.
Lama oprasi sekitar 6jam (tepatnya saya ga tau).

--------------------------

Saat menulis ini saya sudah H+14 post operasi. Kemarin saya discharge dari rumah sakit dengan kondisi Alhamdulilah terlihat seperti orang normal. Hehehehhe
Maaf tulisannya mungkin ringkas kali ini, jujur masih meninggalkan trauma jika diingat detail.

Oya, masi ada part 3 ya setelah ini.. hehe..

#keterangan gambar: luka op saya sesaat setalah lepas chest tube..

Saturday, September 16, 2017

Diafragma: Kejutan (part1)

Kali ini , lanjutan dari sekuel pngalaman saya sebagai penderita neurofibromatosis pada post-post saya sebelum ini, (ya kali pada baca ya hehe)

Ada kejutan yang cukup membuat saya menyadari bahwa selama ini ada teman yang tumbuh dalam diri saya yang seperti 'diam diam'. Setelah menjalani pemeriksaan PET-Scan, semacam imaging ct-scan tapi ini ke seluruh tubuh memakai indikator FDG (gula) untuk menskrining "keganasan" atau tumor lain yang bisa muncul di setiap bagian tubuh. Berguna untuk keganasan dan penyebarannya atau yang kaya saya (harapannya) jinak tapi bisa dimana-mana.
Dokter Radiologi yang menjelaskan kepada saya bahwa ada tumor di atas limpa (lien) saya. Cukup besar, dan ada efusi pleura.
Iyalah, saya kaget, galau, mbuh opo lah ngono rasane, tapi uda bisa biasa aja langsung sih setelah menenggak espreso warung kopi voila yang terletak dekat dengan tempat PET Scan tersebut.

Ada sedikit kecewa namun langsung memaafkan dan maklum, bahwa setelah dicek, hasil ct scan saya tahun lalu dan MRI yang saya lakukan sebelum PET Scan tadi , ternyata sudah ada. They didn't even mention it on radiologic review. Saya juga sering melakukan kesalahan yang sama saat bekerja sebagai ppds di surabaya dan saat jadi dokter umum dulu. Tidak melihat secara komperhensif. Rada takjub juga sih dokter disini juga bisa melakukan 'skip' yang sama. Not a mistake, though.

Saya pulang kerumah, ngobrol sama istri, memikirkannya beberapa hari, menghubungi kerabat di indonesia yang sudah ahli bedah (umum) dan bedah thorax (karna efusi), mencari sejumalah case report dan jurnal, juga dengan sensei di bedahsaraf yang seharusnya akan melakukan oprasi tumor saya yang di punggung. Semua setuju menunda yang punggung demi sesuatu yang lebih mengancam jiwa saya. Alhamdulillah akses saya di fasilitas medis disini sangat enak, jadi bisa mikir sendiri tanpa nyusahin temen-temen lain. Untuk disisi ini, pengetahuan saya membantu. Dengan pemeriksaan lanjutan yang dilakukan, kesimpulan terakhir adalah tumor ada di diafragma. Memebesar menekan lien ke bawah, dan paru keatas, karna ukuran yang membesar makanya terjadi gangguan gerak sebagian diafragma saya. Pelan, kronis, dan pada satu titik saya menyadari bahwa sejak sekitar bulan puasa, nafas saya ga bisa spanjang biasanya saat tadarusan, slanjutnya penurunan performa saya dalam hal lari dan spedaan. Kalo diterusin mungkin juga akan ganggu aktifitas sehari-hari.
Dan kalo dipikir lagi dengan ukuran lebar 10cm-an tersebut, jika memang venar jinak, itu uda mulai muncul sejak 5-10tahun lalu.. hmmm...

Persiapan lain dilakukan bebarengan kerja semirodi untuk research saya yang sudah tinggal dikit selse, hehe.. diantara ga boleh kecapean dan tekanan prioritas studi.

Satu lagi yang skali lagi sangat membuat semangat sembuh satu sisi, tapi kudu sama-sama ngelewatin masa sulit dikala saya oprasi dan pemulihan: istri dan anak-anak.

Oke.. nanti lanjut episode dua yaa hehe
*keterangan gambar: anatomi diafragma (grab random via google)

Friday, August 04, 2017

DemiKianKai



Hai! 

Sudah beberapa lama ini seperti susah cari waktu yang tepat buat mulai nulis disini. Iya, ada satu yang mau saya share, tentang diri saya yang ditakdirkan spesial, hehe, mksdnya kena penyakit spesial.

Saat saya nulis ini di notes smartphone saya, pas banget lagi abis disuntikin FDG dan nunggu (kira kira sejam, disediain kasur gitu keren deh) si gula ini beredar merasuki smua kapiler di tubuh saya ini untuk selanjutnya diperiksa PET. Sebuah pengalaman yang satu sisi asik tapi sedikit ngasi santapan besar ke sisi mental saya.


Tahun 2006 dan 2014 lalu saya dioperasi pngangkatan tumor di punggung, diagnosisnya neurofibroma WHO grade I.

Lalu sejak satu-dua tahun lalu entah kapan tepatnya saya merasa sering nyeri di daerah luka oprasi dahulu,, nyeri yang sama, tapi saya mengelak (ada tumor lagi) karna masi ada tempat untuk nyeri karna bekas luka, kan tumornya juga berasal dari serabut saraf..


Setelah kehamilan Si Kai, saya merasa ada tonjolan disitu, dekat luka oprasi dahulu. Saya langsung tahu itu tumor (lagi), namun karna banyak hal yang menjadi prioritas seperti research dan kelahiran Kai disini, saya dan istri memutuskan akan 'beresin' ini setelah Kai lahir. Soal nyeri nya, memang terasa lebih progresif dari yang dahulu, atau saya lupa juga sih dulu gimana hehe.. yang pasti masih bisa saya tahan tanpa obat anti nyeri baik oles atau minum. Maklum lah saya anti obat gitu deh orangnya.. so far masi bisa tahan.


Mulailah rangkaian saya untuk menyudahi si tumor ini. Mengaku ke profesor saya disini, lalu MRI, lalu ktahuan  besarnya,, tapi karna tetep harus pake kontras (saya alergi kontras, hehe, lucu juga ya ga punya alergi apa apa kcuali sama zat godolinum inih..), akhirnya MRI lagi pakai kontras dengan premedikasi anti alergi. Tumornya lumayan besar. Dan surprise... banyak tempat dan invasi ke beberapa level tulang di dekatnya.. hehe,, its like: my neurofibromas just change its naturalform. Not too agressive, but its very clear that they hv changed. My mind blown to the future that i have genetically special condition that couldn't made this tumor 100% dissapeared. At least once in a year i should take general examination include MRI/PET to find them, can be everywhere in my body. This is Special, right?? =]

Makanya biar skalian tau itu tumbuh dimana aja sekarang, saya kudu periksa PETscan, moga ga banyak surprise sih ya heheheheheh


Pas banget kemaren abis selese baca novel : "when breath becomes air"-Paul Kalanithi.

Sekilas, dalem. Karna ada kemiripan kondisi sama si penulis: neurosurgery resident, neuroscientist, & dia suka nulis. Walau yang trakhir ini jauh sih ya saya nulisnya gini ginian doank hehe ( baca: nge-blog ngasal ). 


Ada banyak bagian di bukunya yang ninggalin kesan untuk saya, perjalanan menerima penyakitnya, hubungan dengan arti pekerjaan untuknya, arti keluarga, dan paling dalem itu adalah perjalanan si almarhum ini dalam memposisikan diri sebagai pasien. Iya saya akui, satu sisi pengetahuan saya sbagai dokter, khususnya bidang bedah saraf dimana penyakit saya ini , yang jarang ini, adalah salah satu bidang yang bedahsaraf adalah kompetensinya, membuat mudah. Alhamdulillah. Si Dia merancang segitunya ya... 


Terutama untuk saya, arti keluarga, terutama istri, Kiana, dan Kai, dan orang-orang terdekat saya menjadi berkali-kali lipat nilainya karna penyakit saya ini.

Sulit untuk didiskripsikan kenapa seperti itu. 

Kalau untuk menghadapi nyeri dan lainnya, sepertinya ga sebanding dengan arti orang-orang dekat tadi, dan arti nikmat-Nya untuk pribadi saya yang begitu jor-joran ini.


Rencananya akhir bulan ini saya akan menjalani oprasi saya yang ketiga,, dan secara teori mungkin 1-2tahun depan akan ada lagi oprasi selanjutnya untuk tumor di bagian lain yang meski sekarang uda ketahuan tapi ukurannya masih 'un-operable' alias statusnya dia :'wait and see'.

Dan kejutan-kejutan lain menanti,, setidaknya Allah memberi saya jalan yang lebih terang yang selkilas bertuliskan: "Aku beri neurofibromatosis untukmu seumur hidup, supaya kamu menjaga hubungan baikmu dengan Aku..dan lingkungan kamu....." =]


Walaupun ga sesimpel ini, pikiran saya sudah 'mulai' menerimanya. Menyusun semua hal kedepan dengan detail, rencana ikut FullMarathon, Triathlon, Audax, bikin karya apa gitu, dll dll, trutama untuk melihat Kiana dan Kai tumbuh ngadepin smuanya.. 


Saturday, June 03, 2017

Si kecil Kai

Yes, Minggu ke 40 dari prakiraan lahir (secara teori), jatuh pada 11 Mei kemarin. Kehamilan istri saya setelah belum segenap satu tahun usia si Kiana, anak pertama kami.
Kalo kata seorang temen saya disini: anaknya belum bisa merangkak ayahnya "mrangkak" duluan hihihi. Rasanya bersukur sekali jika mengingat saat pertama tahu, walau jujur saya dan istri sempat kaget karna ini terlalu 'nyundul' si Kiana. Tapi kami secara naluri langsung ikhlas menikmatinya. Rasanya ingin slalu memeluk istri untuk menemani sukaduka kehamilannya. Iya, di perantauan ini pasti ga se-enak di tanah air untuk menghadapi kehamilan dan proses kelahirannya. Iya sih semua-mua teratur/jelas/terjamin dll dll di negara yang sangat maju ini, tapi pasti tau lah ada barier enak-ga enak nya kalo jauh dari 'rumah'.

Iya, intinya saya pun tersiksa setiap istri yang mengalami proses yang Subhanallah sekali sejak awal hamil sampai melahirkan. Kalo ada pilihan saya ikut merasakannya tentu saja saya rela. ( #respect sama setiap wanita dan ibu umat manusia ) 
Sedikit lebay, saya pun memikirkan istri yang begitu hebat ini ( : hamil besar dan ngemong kiana yang masih todler awal ini bersamaan,) saat saya menyelesaikan fullmarathon pertama saya yang begitu suffer itu bulan maret lalu. Karna itu ga ada seujung jari perjuangan doi.

Di Jepang ini, negara maju yang punya masalah menurunnya populasi, sama seperti negara maju lainnya: negara sangat sangat sangat (kalo bisa diulang 1000x) menunjang warganya atau warga asing yang akan memiliki anak di tanah jepang. Mulai dari sejak kehamilan (periksa khamilan gretongan), proses melahirkan (fasilitas nomor wahid, gretongan juga fulll gretongan anjis ga sih, malah dapet duit loh yaa ngrasa  aneh ya nglahirin dikasi duit banyak sama negara), sampai membesarkan anak setelah lahir (jaminan kesehatan full cover, plus tiap bulan dapet uang "susu" alias di gaji cash sampe usia smp) denger denger sih sekolah sampe lulus SmA juga gretong. 

Kembali lagi ke inti pembicaraan, namanya Kai Abduljabbar (kai: laut; abduljabbar: (hamba Allah) Tegas). Lahir pada Senin, 15 mei 2017, di rumahsakit universitas Kagoshima,pukul 15.47. Usia kehamilan 40minggu lebih 4 hari (dulu kiana 40minggu lebih 5hari) ,Normal spontan, BB lahir 3234gr, pj 49cm. apgar score 10-10-10 (mnurut saya). Jujur saya brebes mili saat melagukan azan di telinga kanannya sesaat setelah lahir. Rasa yang begitu campur aduk. Alhamdulillah.

Momen-momen saat ini akan menjadi cerita yang akan slalu kami ingat dan ceritakan pada generasi kami selanjutnya, betapa seorang ibu itu hebat. Susah sekali mendiskripsikan betapa kompleksnya fisik dan mental kami sejak subuh senin itu, impartu dimulai, ketuban bocor alus, kontraksi otot uterus yang mulai rutin, masuk ruangan bersalin langsung. Beda dengan di Indonesia, disini proses lahir normal dilakukan se-alami mungkin. Tanpa obat. Tanpa induksi medikamentosa alias 'cuma' monitoring standar dan kontinyu dari impartu itu. Menurut istri sih ini ampun dah sakitnya drpd yang pertama dulu,, lebih lama juga dari impartu sampai fase 3 (lahir plasenta). Hampir 12jam. Saya Alhamdulillah full menemani (dan juga ibu mertua yang datang sminggu sebelumnya), uniknya pihak medis dirumahsakit "besar" ini ga ada yang bisa bahasa enggris, hehe, jadi proses menemani kontraksi sampe memimpin mengejan seolah langsung oleh saya sendiri yang menjadi translator si dokter obsgyn dan bidan ke pasien. Untung banget ya kebetulan saya orang medis juga hehe, ga kebayang deh kalo posisi saya bukan orang medis dan barier bahasanya terlalu jauh.

Satu lagi hal besar yang kami harus hadapi, bahwa aturan protokol yang cukup strict dari pihak rumahsakit bahwa sang ibu dan bayi lahir normal harus rawat inap selama 5 hari post melahirkan. Tanpa boleh ada yang menemani menginap di rumahsakit dan tidak boleh ada anak dibawah 6 taun yang menjenguk. Alias Kiana ga boleh bertemu mamanya slama itu. Hal yang sangat wow terutama untuk mama kiana dan kiana, dan juga saya dan ibu mertua yang gantian megangin kiana dirumah. Sama-sama ikut sedih karna setiap hari, si Kiana yang belum 'mengerti' itu mencari mamanya saat berangkat dan pulang daycare, setiap malam selalu terlelap setelah lelah menangis, dll dll. Benar benar momen yang worth it sekali dengan kehadiran si Kai.
ada cerita.
=]

Selamat datang di atmosfer bumi ini, Kai. Nama mu adalah doa kami, filosofi yang akan kamu pahamin setiap saat nanti. Di dunia dengan percepatan perubahan peradaban begitu berbeda dengan saat ayahmamamu ini hadapin dulu. Apapun untuk kalian, Bulan dan laut kami. Kiana dan Kai =]

Monday, March 20, 2017

Kagoshima Marathon 2017: pre&post (PART2-END)

Saya jadi teringat saat saya mulai "terjun" ke hobi olahraga endurance. Memang olahraga adalah bagian penting hidup saya, walau cupu, saya tumbuh di lingkungan basket. Banyak prinsip dasar hidup yang saya dapet karena kesan yang dalam di perbasketan sejak saya SMP, terutama saat hidup saya basket banget saat SMA, lalu saat kuliah (walaupun ga ikut club lagi) tapi hampir tiap hari ke lapangan peleburan UNDiP buat main satu-dua game..

Setelah lulus menjadi dokter, rupanya tantangan hidup sedikit berbelok yaitu terutama mengenai waktu dan prioritas. Namun tetap, tidak bisa menggeser 'olahraga' dari prioritas utama hidup saya. Dan susah juga ya ngumpulin temen buat slalu main bareng, kan prioritas sendiri-sendiri dan berbeda. Walau basket juga masih banget jadi hobi, akhirnya lari dan sepeda jadi pilihan hobi. 

Tepatnya sekitar 2010-2011an, selalu menjadi fase terindah saat saya membeli sepeda balap seadanya ( total 4juta rupiah, tabungan hasil jualan kaos manusia-kamil, dari cuma nyepeda ke cfd sampe keliling semarang) dan pertama ikut event lari 10k. Adalah Adidas King Of The Road (KOTR), di Ancol september 2011, ga pernah latian lari, diajak temen, pake clana basket, 56menit, dan tentu setelah lari badan saya kaku sampai seminggu berjalan kaya wayang kulit. Tapi justru itu jadi tonggak.

Jujur, pace saya ga pernah lebih baik dari pertama saya lari sampe skrg. Tapi (berhasil) 'konsisten' sampai titik sekarang, dan sepertinya jantung saya juga lebih baik dibanding sebelumnya. Terutama, walaupun berat badan (sebagai indikator paling simpel), sejak saya SmA sampai titik ini (15tahunan) 'cuma' naik ga sampe 10kg. Hehe masih jelek sih ya ini, tapi kalo misal ga olahraga rutin, kayanya saya ga bakal bisa makan se-enaknya dan meng-gendut (seperti orang-orang di lingkungan saya). Tapini insyaAllah target mau BB ideal lagi lah ya besok besok (masi susah nih ngatur selera makan hehehhe)
.........................................................................

Ada barier seperti tembok raksasa mengenai limitasi saya sebagai pelari. Walau konsisten, saya cuma lari 10-15km per minggu, alias sebulan sekitar 50km, staun juga sekitar 600km saja. Paling jauh longrun 10km, ga lebih. Saya selalu menikmati detilnya, saat lari dan bersepeda. Udara, angin, matahari, hujan, gesekan aspal, bangunan, dan terutama alam, saya yakin sbagian besar penghobi olahraga endurance tahu prasaan itu. Dan merupakan naluri yang wajar tentang  kebutuhan akan tantangan lain. Kali ini tentang full marathon. 42,195kilometer.

Beruntung saya tau dan kenal beberapa teman yang menginspirasi saat yang tepat. Kali ini kakak-kakak di grup sepeda dokter bedah di whatsapp ( www.yscc.web.id). Ada salah satu kakak saya yang sebelumnya berkutat di kehidupan yang termasuk sedentary life, lalu saat ini bertransformasi, dan menggunakan acuan cardiobased training. Saya langsung 'fallin in lope' dengan konsep tersebut. Dan setelah ngobrol dalem sama beliau dan lanjut menjadi acuan saya untuk percaya diri menembus barier saya sebagai pelari yang sudah lama lari tapi masih virgin full M! Kagoshima Marathon 2017. Saya punya 4 bulan untuk persiapannya.
.........................................................................

Investasi pertama saya adalah membeli heart rate monitor. Pilihan saya jatuh ke sportwatch type m200 polar. (Maklum lah budget minimal), dan membuat program yang tersedia di website polar, cardiobased training. Walaupun akhirnya saya cuma memenuhi 60% saja programnya, ini sangat penting bagu keberhasilan saya di event full marathon kemarin.

Dan satu pelajaran lagi, konsisten itu sangat tidak mudah. (Padahal program latian saya buat simpel banget loh ya.. lawong target saya cuma 'finish' dibawah cutting time)
.......................................................................

Seperti yang saya tulis di postingan saya bulan januari lalu tentang 'musibah' di daerah anus saya. Hehe.
Iya, selama bulan januari saya skip latihan, karna kesembuhan luka oprasi-nya menuntut saya total istirahat. Bukan hanya itu, pada bulan febuari sampai h-satu minggu, saya masih menggunakan semacam pad/tampon di pantat saya karna luka masi basah. (Penyembuhan luka oprasi fistula-nya membutuhkan waktu minimal 6-8minggu).

Alhamdulillah saya jadi tahu, rasanya frustasi. Persiapan yang saya bangun sebelumnya, sperti cuma-cuma. Betapa menderitanya para atlet yang terpaksa bersabar cederanya sembuh, apalagi yang kehilangan kariernya karna cedera parah.

Iya, saya juga frustasi, bahkan berjalan biasa saja rasanya sakit dan 'terbatas'.  Hal ini pun bersamaan dengan puncak musim dingin. Nyambung-gak nyambung, rangkaian itu menjadi satu hal yang dramatis di persiapan full-marathon pertama saya. Karna memang cuma itu yang ada di pikiran saya.
........................................................................

Kesimpulan yang saya dapati setelah fm kemarin:

Transformasi dari short-mid distance fun runner pace 5-6min/km HR (selalu zona 3-4), menjadi long-distance runner (lover) & fun runner pace 7-8min/km (hr zone 2-3).
Menyenangkan.
.........................................................................

Okey, kemarin fm pertama saya, alhamdulillah finish , enjoy while & after running. Next project: join full marathon event (one) every year until my age is 50. Itu artinya saya bakal punya 20 medali insyaAllah. Dan ga muluk muluk lah, tujuan personal best saya 5 jam, 10tahun lagi. =]
InsyaAllah insyaAllah