Saturday, September 16, 2017

Diafragma: Kejutan (part1)

Kali ini , lanjutan dari sekuel pngalaman saya sebagai penderita neurofibromatosis pada post-post saya sebelum ini, (ya kali pada baca ya hehe)

Ada kejutan yang cukup membuat saya menyadari bahwa selama ini ada teman yang tumbuh dalam diri saya yang seperti 'diam diam'. Setelah menjalani pemeriksaan PET-Scan, semacam imaging ct-scan tapi ini ke seluruh tubuh memakai indikator FDG (gula) untuk menskrining "keganasan" atau tumor lain yang bisa muncul di setiap bagian tubuh. Berguna untuk keganasan dan penyebarannya atau yang kaya saya (harapannya) jinak tapi bisa dimana-mana.
Dokter Radiologi yang menjelaskan kepada saya bahwa ada tumor di atas limpa (lien) saya. Cukup besar, dan ada efusi pleura.
Iyalah, saya kaget, galau, mbuh opo lah ngono rasane, tapi uda bisa biasa aja langsung sih setelah menenggak espreso warung kopi voila yang terletak dekat dengan tempat PET Scan tersebut.

Ada sedikit kecewa namun langsung memaafkan dan maklum, bahwa setelah dicek, hasil ct scan saya tahun lalu dan MRI yang saya lakukan sebelum PET Scan tadi , ternyata sudah ada. They didn't even mention it on radiologic review. Saya juga sering melakukan kesalahan yang sama saat bekerja sebagai ppds di surabaya dan saat jadi dokter umum dulu. Tidak melihat secara komperhensif. Rada takjub juga sih dokter disini juga bisa melakukan 'skip' yang sama. Not a mistake, though.

Saya pulang kerumah, ngobrol sama istri, memikirkannya beberapa hari, menghubungi kerabat di indonesia yang sudah ahli bedah (umum) dan bedah thorax (karna efusi), mencari sejumalah case report dan jurnal, juga dengan sensei di bedahsaraf yang seharusnya akan melakukan oprasi tumor saya yang di punggung. Semua setuju menunda yang punggung demi sesuatu yang lebih mengancam jiwa saya. Alhamdulillah akses saya di fasilitas medis disini sangat enak, jadi bisa mikir sendiri tanpa nyusahin temen-temen lain. Untuk disisi ini, pengetahuan saya membantu. Dengan pemeriksaan lanjutan yang dilakukan, kesimpulan terakhir adalah tumor ada di diafragma. Memebesar menekan lien ke bawah, dan paru keatas, karna ukuran yang membesar makanya terjadi gangguan gerak sebagian diafragma saya. Pelan, kronis, dan pada satu titik saya menyadari bahwa sejak sekitar bulan puasa, nafas saya ga bisa spanjang biasanya saat tadarusan, slanjutnya penurunan performa saya dalam hal lari dan spedaan. Kalo diterusin mungkin juga akan ganggu aktifitas sehari-hari.
Dan kalo dipikir lagi dengan ukuran lebar 10cm-an tersebut, jika memang venar jinak, itu uda mulai muncul sejak 5-10tahun lalu.. hmmm...

Persiapan lain dilakukan bebarengan kerja semirodi untuk research saya yang sudah tinggal dikit selse, hehe.. diantara ga boleh kecapean dan tekanan prioritas studi.

Satu lagi yang skali lagi sangat membuat semangat sembuh satu sisi, tapi kudu sama-sama ngelewatin masa sulit dikala saya oprasi dan pemulihan: istri dan anak-anak.

Oke.. nanti lanjut episode dua yaa hehe
*keterangan gambar: anatomi diafragma (grab random via google)

Friday, August 04, 2017

DemiKianKai



Hai! 

Sudah beberapa lama ini seperti susah cari waktu yang tepat buat mulai nulis disini. Iya, ada satu yang mau saya share, tentang diri saya yang ditakdirkan spesial, hehe, mksdnya kena penyakit spesial.

Saat saya nulis ini di notes smartphone saya, pas banget lagi abis disuntikin FDG dan nunggu (kira kira sejam, disediain kasur gitu keren deh) si gula ini beredar merasuki smua kapiler di tubuh saya ini untuk selanjutnya diperiksa PET. Sebuah pengalaman yang satu sisi asik tapi sedikit ngasi santapan besar ke sisi mental saya.


Tahun 2006 dan 2014 lalu saya dioperasi pngangkatan tumor di punggung, diagnosisnya neurofibroma WHO grade I.

Lalu sejak satu-dua tahun lalu entah kapan tepatnya saya merasa sering nyeri di daerah luka oprasi dahulu,, nyeri yang sama, tapi saya mengelak (ada tumor lagi) karna masi ada tempat untuk nyeri karna bekas luka, kan tumornya juga berasal dari serabut saraf..


Setelah kehamilan Si Kai, saya merasa ada tonjolan disitu, dekat luka oprasi dahulu. Saya langsung tahu itu tumor (lagi), namun karna banyak hal yang menjadi prioritas seperti research dan kelahiran Kai disini, saya dan istri memutuskan akan 'beresin' ini setelah Kai lahir. Soal nyeri nya, memang terasa lebih progresif dari yang dahulu, atau saya lupa juga sih dulu gimana hehe.. yang pasti masih bisa saya tahan tanpa obat anti nyeri baik oles atau minum. Maklum lah saya anti obat gitu deh orangnya.. so far masi bisa tahan.


Mulailah rangkaian saya untuk menyudahi si tumor ini. Mengaku ke profesor saya disini, lalu MRI, lalu ktahuan  besarnya,, tapi karna tetep harus pake kontras (saya alergi kontras, hehe, lucu juga ya ga punya alergi apa apa kcuali sama zat godolinum inih..), akhirnya MRI lagi pakai kontras dengan premedikasi anti alergi. Tumornya lumayan besar. Dan surprise... banyak tempat dan invasi ke beberapa level tulang di dekatnya.. hehe,, its like: my neurofibromas just change its naturalform. Not too agressive, but its very clear that they hv changed. My mind blown to the future that i have genetically special condition that couldn't made this tumor 100% dissapeared. At least once in a year i should take general examination include MRI/PET to find them, can be everywhere in my body. This is Special, right?? =]

Makanya biar skalian tau itu tumbuh dimana aja sekarang, saya kudu periksa PETscan, moga ga banyak surprise sih ya heheheheheh


Pas banget kemaren abis selese baca novel : "when breath becomes air"-Paul Kalanithi.

Sekilas, dalem. Karna ada kemiripan kondisi sama si penulis: neurosurgery resident, neuroscientist, & dia suka nulis. Walau yang trakhir ini jauh sih ya saya nulisnya gini ginian doank hehe ( baca: nge-blog ngasal ). 


Ada banyak bagian di bukunya yang ninggalin kesan untuk saya, perjalanan menerima penyakitnya, hubungan dengan arti pekerjaan untuknya, arti keluarga, dan paling dalem itu adalah perjalanan si almarhum ini dalam memposisikan diri sebagai pasien. Iya saya akui, satu sisi pengetahuan saya sbagai dokter, khususnya bidang bedah saraf dimana penyakit saya ini , yang jarang ini, adalah salah satu bidang yang bedahsaraf adalah kompetensinya, membuat mudah. Alhamdulillah. Si Dia merancang segitunya ya... 


Terutama untuk saya, arti keluarga, terutama istri, Kiana, dan Kai, dan orang-orang terdekat saya menjadi berkali-kali lipat nilainya karna penyakit saya ini.

Sulit untuk didiskripsikan kenapa seperti itu. 

Kalau untuk menghadapi nyeri dan lainnya, sepertinya ga sebanding dengan arti orang-orang dekat tadi, dan arti nikmat-Nya untuk pribadi saya yang begitu jor-joran ini.


Rencananya akhir bulan ini saya akan menjalani oprasi saya yang ketiga,, dan secara teori mungkin 1-2tahun depan akan ada lagi oprasi selanjutnya untuk tumor di bagian lain yang meski sekarang uda ketahuan tapi ukurannya masih 'un-operable' alias statusnya dia :'wait and see'.

Dan kejutan-kejutan lain menanti,, setidaknya Allah memberi saya jalan yang lebih terang yang selkilas bertuliskan: "Aku beri neurofibromatosis untukmu seumur hidup, supaya kamu menjaga hubungan baikmu dengan Aku..dan lingkungan kamu....." =]


Walaupun ga sesimpel ini, pikiran saya sudah 'mulai' menerimanya. Menyusun semua hal kedepan dengan detail, rencana ikut FullMarathon, Triathlon, Audax, bikin karya apa gitu, dll dll, trutama untuk melihat Kiana dan Kai tumbuh ngadepin smuanya.. 


Saturday, June 03, 2017

Si kecil Kai

Yes, Minggu ke 40 dari prakiraan lahir (secara teori), jatuh pada 11 Mei kemarin. Kehamilan istri saya setelah belum segenap satu tahun usia si Kiana, anak pertama kami.
Kalo kata seorang temen saya disini: anaknya belum bisa merangkak ayahnya "mrangkak" duluan hihihi. Rasanya bersukur sekali jika mengingat saat pertama tahu, walau jujur saya dan istri sempat kaget karna ini terlalu 'nyundul' si Kiana. Tapi kami secara naluri langsung ikhlas menikmatinya. Rasanya ingin slalu memeluk istri untuk menemani sukaduka kehamilannya. Iya, di perantauan ini pasti ga se-enak di tanah air untuk menghadapi kehamilan dan proses kelahirannya. Iya sih semua-mua teratur/jelas/terjamin dll dll di negara yang sangat maju ini, tapi pasti tau lah ada barier enak-ga enak nya kalo jauh dari 'rumah'.

Iya, intinya saya pun tersiksa setiap istri yang mengalami proses yang Subhanallah sekali sejak awal hamil sampai melahirkan. Kalo ada pilihan saya ikut merasakannya tentu saja saya rela. ( #respect sama setiap wanita dan ibu umat manusia ) 
Sedikit lebay, saya pun memikirkan istri yang begitu hebat ini ( : hamil besar dan ngemong kiana yang masih todler awal ini bersamaan,) saat saya menyelesaikan fullmarathon pertama saya yang begitu suffer itu bulan maret lalu. Karna itu ga ada seujung jari perjuangan doi.

Di Jepang ini, negara maju yang punya masalah menurunnya populasi, sama seperti negara maju lainnya: negara sangat sangat sangat (kalo bisa diulang 1000x) menunjang warganya atau warga asing yang akan memiliki anak di tanah jepang. Mulai dari sejak kehamilan (periksa khamilan gretongan), proses melahirkan (fasilitas nomor wahid, gretongan juga fulll gretongan anjis ga sih, malah dapet duit loh yaa ngrasa  aneh ya nglahirin dikasi duit banyak sama negara), sampai membesarkan anak setelah lahir (jaminan kesehatan full cover, plus tiap bulan dapet uang "susu" alias di gaji cash sampe usia smp) denger denger sih sekolah sampe lulus SmA juga gretong. 

Kembali lagi ke inti pembicaraan, namanya Kai Abduljabbar (kai: laut; abduljabbar: (hamba Allah) Tegas). Lahir pada Senin, 15 mei 2017, di rumahsakit universitas Kagoshima,pukul 15.47. Usia kehamilan 40minggu lebih 4 hari (dulu kiana 40minggu lebih 5hari) ,Normal spontan, BB lahir 3234gr, pj 49cm. apgar score 10-10-10 (mnurut saya). Jujur saya brebes mili saat melagukan azan di telinga kanannya sesaat setelah lahir. Rasa yang begitu campur aduk. Alhamdulillah.

Momen-momen saat ini akan menjadi cerita yang akan slalu kami ingat dan ceritakan pada generasi kami selanjutnya, betapa seorang ibu itu hebat. Susah sekali mendiskripsikan betapa kompleksnya fisik dan mental kami sejak subuh senin itu, impartu dimulai, ketuban bocor alus, kontraksi otot uterus yang mulai rutin, masuk ruangan bersalin langsung. Beda dengan di Indonesia, disini proses lahir normal dilakukan se-alami mungkin. Tanpa obat. Tanpa induksi medikamentosa alias 'cuma' monitoring standar dan kontinyu dari impartu itu. Menurut istri sih ini ampun dah sakitnya drpd yang pertama dulu,, lebih lama juga dari impartu sampai fase 3 (lahir plasenta). Hampir 12jam. Saya Alhamdulillah full menemani (dan juga ibu mertua yang datang sminggu sebelumnya), uniknya pihak medis dirumahsakit "besar" ini ga ada yang bisa bahasa enggris, hehe, jadi proses menemani kontraksi sampe memimpin mengejan seolah langsung oleh saya sendiri yang menjadi translator si dokter obsgyn dan bidan ke pasien. Untung banget ya kebetulan saya orang medis juga hehe, ga kebayang deh kalo posisi saya bukan orang medis dan barier bahasanya terlalu jauh.

Satu lagi hal besar yang kami harus hadapi, bahwa aturan protokol yang cukup strict dari pihak rumahsakit bahwa sang ibu dan bayi lahir normal harus rawat inap selama 5 hari post melahirkan. Tanpa boleh ada yang menemani menginap di rumahsakit dan tidak boleh ada anak dibawah 6 taun yang menjenguk. Alias Kiana ga boleh bertemu mamanya slama itu. Hal yang sangat wow terutama untuk mama kiana dan kiana, dan juga saya dan ibu mertua yang gantian megangin kiana dirumah. Sama-sama ikut sedih karna setiap hari, si Kiana yang belum 'mengerti' itu mencari mamanya saat berangkat dan pulang daycare, setiap malam selalu terlelap setelah lelah menangis, dll dll. Benar benar momen yang worth it sekali dengan kehadiran si Kai.
ada cerita.
=]

Selamat datang di atmosfer bumi ini, Kai. Nama mu adalah doa kami, filosofi yang akan kamu pahamin setiap saat nanti. Di dunia dengan percepatan perubahan peradaban begitu berbeda dengan saat ayahmamamu ini hadapin dulu. Apapun untuk kalian, Bulan dan laut kami. Kiana dan Kai =]

Monday, March 20, 2017

Kagoshima Marathon 2017: pre&post (PART2-END)

Saya jadi teringat saat saya mulai "terjun" ke hobi olahraga endurance. Memang olahraga adalah bagian penting hidup saya, walau cupu, saya tumbuh di lingkungan basket. Banyak prinsip dasar hidup yang saya dapet karena kesan yang dalam di perbasketan sejak saya SMP, terutama saat hidup saya basket banget saat SMA, lalu saat kuliah (walaupun ga ikut club lagi) tapi hampir tiap hari ke lapangan peleburan UNDiP buat main satu-dua game..

Setelah lulus menjadi dokter, rupanya tantangan hidup sedikit berbelok yaitu terutama mengenai waktu dan prioritas. Namun tetap, tidak bisa menggeser 'olahraga' dari prioritas utama hidup saya. Dan susah juga ya ngumpulin temen buat slalu main bareng, kan prioritas sendiri-sendiri dan berbeda. Walau basket juga masih banget jadi hobi, akhirnya lari dan sepeda jadi pilihan hobi. 

Tepatnya sekitar 2010-2011an, selalu menjadi fase terindah saat saya membeli sepeda balap seadanya ( total 4juta rupiah, tabungan hasil jualan kaos manusia-kamil, dari cuma nyepeda ke cfd sampe keliling semarang) dan pertama ikut event lari 10k. Adalah Adidas King Of The Road (KOTR), di Ancol september 2011, ga pernah latian lari, diajak temen, pake clana basket, 56menit, dan tentu setelah lari badan saya kaku sampai seminggu berjalan kaya wayang kulit. Tapi justru itu jadi tonggak.

Jujur, pace saya ga pernah lebih baik dari pertama saya lari sampe skrg. Tapi (berhasil) 'konsisten' sampai titik sekarang, dan sepertinya jantung saya juga lebih baik dibanding sebelumnya. Terutama, walaupun berat badan (sebagai indikator paling simpel), sejak saya SmA sampai titik ini (15tahunan) 'cuma' naik ga sampe 10kg. Hehe masih jelek sih ya ini, tapi kalo misal ga olahraga rutin, kayanya saya ga bakal bisa makan se-enaknya dan meng-gendut (seperti orang-orang di lingkungan saya). Tapini insyaAllah target mau BB ideal lagi lah ya besok besok (masi susah nih ngatur selera makan hehehhe)
.........................................................................

Ada barier seperti tembok raksasa mengenai limitasi saya sebagai pelari. Walau konsisten, saya cuma lari 10-15km per minggu, alias sebulan sekitar 50km, staun juga sekitar 600km saja. Paling jauh longrun 10km, ga lebih. Saya selalu menikmati detilnya, saat lari dan bersepeda. Udara, angin, matahari, hujan, gesekan aspal, bangunan, dan terutama alam, saya yakin sbagian besar penghobi olahraga endurance tahu prasaan itu. Dan merupakan naluri yang wajar tentang  kebutuhan akan tantangan lain. Kali ini tentang full marathon. 42,195kilometer.

Beruntung saya tau dan kenal beberapa teman yang menginspirasi saat yang tepat. Kali ini kakak-kakak di grup sepeda dokter bedah di whatsapp ( www.yscc.web.id). Ada salah satu kakak saya yang sebelumnya berkutat di kehidupan yang termasuk sedentary life, lalu saat ini bertransformasi, dan menggunakan acuan cardiobased training. Saya langsung 'fallin in lope' dengan konsep tersebut. Dan setelah ngobrol dalem sama beliau dan lanjut menjadi acuan saya untuk percaya diri menembus barier saya sebagai pelari yang sudah lama lari tapi masih virgin full M! Kagoshima Marathon 2017. Saya punya 4 bulan untuk persiapannya.
.........................................................................

Investasi pertama saya adalah membeli heart rate monitor. Pilihan saya jatuh ke sportwatch type m200 polar. (Maklum lah budget minimal), dan membuat program yang tersedia di website polar, cardiobased training. Walaupun akhirnya saya cuma memenuhi 60% saja programnya, ini sangat penting bagu keberhasilan saya di event full marathon kemarin.

Dan satu pelajaran lagi, konsisten itu sangat tidak mudah. (Padahal program latian saya buat simpel banget loh ya.. lawong target saya cuma 'finish' dibawah cutting time)
.......................................................................

Seperti yang saya tulis di postingan saya bulan januari lalu tentang 'musibah' di daerah anus saya. Hehe.
Iya, selama bulan januari saya skip latihan, karna kesembuhan luka oprasi-nya menuntut saya total istirahat. Bukan hanya itu, pada bulan febuari sampai h-satu minggu, saya masih menggunakan semacam pad/tampon di pantat saya karna luka masi basah. (Penyembuhan luka oprasi fistula-nya membutuhkan waktu minimal 6-8minggu).

Alhamdulillah saya jadi tahu, rasanya frustasi. Persiapan yang saya bangun sebelumnya, sperti cuma-cuma. Betapa menderitanya para atlet yang terpaksa bersabar cederanya sembuh, apalagi yang kehilangan kariernya karna cedera parah.

Iya, saya juga frustasi, bahkan berjalan biasa saja rasanya sakit dan 'terbatas'.  Hal ini pun bersamaan dengan puncak musim dingin. Nyambung-gak nyambung, rangkaian itu menjadi satu hal yang dramatis di persiapan full-marathon pertama saya. Karna memang cuma itu yang ada di pikiran saya.
........................................................................

Kesimpulan yang saya dapati setelah fm kemarin:

Transformasi dari short-mid distance fun runner pace 5-6min/km HR (selalu zona 3-4), menjadi long-distance runner (lover) & fun runner pace 7-8min/km (hr zone 2-3).
Menyenangkan.
.........................................................................

Okey, kemarin fm pertama saya, alhamdulillah finish , enjoy while & after running. Next project: join full marathon event (one) every year until my age is 50. Itu artinya saya bakal punya 20 medali insyaAllah. Dan ga muluk muluk lah, tujuan personal best saya 5 jam, 10tahun lagi. =]
InsyaAllah insyaAllah

Friday, March 10, 2017

Kagoshima marathon 2017: durante (PART1)

7kilo lagi.
Kesunyian sangat terasa di titik itu, sudah sekitar 5 jam-an (entah berapa tepatnya) saya ada di dalam event full marathon pertama saya. Sebuah hal besar bagi seorang saya, sudah mulai 'lari' 4 tahun sebelumnya, rutin (disamping bersepeda), hidup di lingkungan (terutama teman sosmed) yang bahkan sudah finish beberapa kali fm padahal baru 1-2tahun mulai lari). Barier mental yang akhirnya saya tembus di usia saya yang sudah kepala 3 ini. Lumayan lah ya..

Check point kilometer 35, terhampar pemandangan laut dan kaki gunung sakurajima di sebrang sana. Iya, kaki saja karna hampir semua tertutup awan tebal sejak malam sebelumnya, gerimis dan hujan bergantian tanpa mengijinkan sinar matahari bebas menerpa para pelari. Angin yang biasanya bertiup dari utara kini berkhianat karna seperti datang dari mana-mana. Bukit bukit indah yang ditutupi kabut di sisi kanan, dan jalan raya sebagai jalur kami yang kelihatan legam paduan aspal dan genangan. Mungkin untuk sebuah event marathon pertama, kondisi cuaca buruk adalah sangat diluar ekspektasi.

Mungkin saya rombongan yang trakhir-trakhir di titik itu dari total hampir 10.000 peserta, (kalo dilihat dari sertifikat setelah finish, saya urutan 6600an) cuma segelintir yang masih 'lari' termasuk saya, semuanya berjalan sambil hanya konsen pada nafasnya. Kelam. Betapa hebatnya para penonton yang masih saja ada di setiap 1-2km sambil memberi semangat ke semua pelari yang lewat. Begitupula para volunteer yang memakai jaket panitia yang tetap berdiri kedinginan di pos mereka. Paling tidak kami ini ada kesamaan, kehujanan dan kedinginan.

Di kilometer 30, sportwatch polar m200 saya tiba-tiba lowbat dan secara otomatis menonaktifkan gps dan hrm-nya. Artinya saya uda ga tau pace saya brapa, hr saya brp, uda brapa persen saya lari (saya pakai %  jarak kali ini). Yaa memang ekonomis sih itu sportwatch, jadinya ya maklum deh ya erornya cepet, tapi kok ya pas event to ya... hadeeeh). Tujuan saya kali ini cuma 3, niru om muramaki di buku "what i talk about when i talk about running" yang lebih mirip atobionya doi soal dirinya dan hobinya: pass the finish line, keep running not walking, enjoy the event.

Alhamdulillah saya berhasil memenuhi 3 itu.
Dan di kilometer terakhir saya bisa naikin pace sampe 7. Finish dengan senyuman, karna memang benar-benar bahagia saya bisa menyelesaikan 42,195 km dengan berlari, tanpa berjalan, dan menikmati setiap detil moment-nya. Tanpa kram, tanpa kelaparan, tanpa kehabisan nafas.6jam30menit (nett 6jam2menit) 


Sampai km30(sebelum jam saya mati) tercatat hr saya 150an terus (zona3 latihan), pace sampai sebelum berhenti pipis (yang ke 5) dan lutut kanan dan kedua angkle saya mulai nyeri (lebih ke fatigue) saya bjsa jaga di sekitar 8-8.30. Setelah itu kayanya pece saya 9 sih hehe.. selain godaan untuk pace terlalu cepat pada kilometer pertama setelah start, saat semua orang dengan semangat mulai berlari, godaan untuk jalan muncul terus terutama setelah km 35, tapi Alhamdulillah saya nahan diri =]
Maintanance untuk hidrasi dan balans elektrolit saya jaga dengan minum air dan sportdrink 100-200cc setiap waterstop, makan pisang di foodstation tiap 10km, juga saya lahap gel carbohidrat setiap 10km dan 5km trakhir. 
Justru masalah paling besar kmrn yang diluar estimasi adalah toilet time. Entah kenapa, diluar kbiasaan tubuh saya, saya sering skali pipis. (Sebelum start aja saya pipis 2kali). Mungkin kaitannya dengan suhu dingin dan hujan (realfeel sekitar 5-10celsius). Dan bukan saya saja sepertinya, karna semua titik yang disediakan toilet, terlihat antrian yang paaaaaaaanjaaaaaaaaaaang. Di catatan jam saya (dan 10km trakhir pakai nikerunning stelah jam mati) waktu aktif lari saya adalah 5 jam 56 menit. Berarti kalo 5 kali antri pipis, saya rata rata ngabisin 5menit setiap berhenti itu, dan tentunya bikin kacau adaptasi tubuh juga kehilangan momentum. Di sisi lain, saya memang perlu ngitung secara cermat rehidrasi saya, walaupun berhasil ga dehidrasi tapi kalo buang buang waktu karna overbalans juga ga asik.


Wah, panjang juga ya cerita saya, hehe
Oke saya lanjut ke tulisan lain tentang kisah persiapan dan post race-nya yaaaa

Wednesday, March 01, 2017

Soal mimpi

Tentang bermimpi dan cita-cita(dunia), kiranya akan saya bebaskan kepada generasi penerus saya. iya, setelah berkeluarga dan melihat perkembangan si kecil, secara naluri saya menaruh harapan dia akan menjadi apa saat nanti sudah dewasa. Tapi beneran ga mau itu menjadi batasan. Soal penanaman nilai nilai hidup, agama, tentu saya dan istri memiliki pandangan (yang normal pula) untuknya, tapi ini mengenai cita cita yang spesifik. 

Mungkin orang tua si pendiri gojek (atau transportasi online lain) tak pernah berpikir anak mereka , bahkan cenderung agar anak mereka tidak menjadi sekedar pengelola sopir speda motor, jika itu menjadi cita-cita si anak sejak kecil. Begitu juga si pendir-pendiri  usaha online / sosial media global saat ini , saya yakin saat kecil mereka bahkan ga pernah ngebayangin apa yang mreka dirikan.

Dunia ini dinamis, berubah setiap rotasi dan revolusi bumi. Di bidang saya, bedah saraf, mungkin saat saya masuk kuliah medis dahulu, sama sekali ga ada bayangan akan terjun ke hal hal yang berbau molekuler. Masih jelas di ingatan saya saat pilihan belajar bedah saraf atau bedah ortopedi ada di hati saya sebelum akhirnya memutuskan blajar otak. Dan masih jelas juga saat berangkat belajar kemari, saya masih membayangkan saat pulang nanti akan menjadi ahli pembuluh darah otak.
Dan akhirnya ninggalin cita-cita trakhir itu untuk lebih mendalami bidang molekuler untuk keganasan. Pelan-pelan saya mencintai itu.

Kadang kita semacam kaget atau menaruh kedalam hati kata-kata ungkapan diri sendiri yang terucap. Pernah suatu saat saya siratkan kepada istri saya saat pillowtalk, "menjadi apapun kelak nanti, aku cuma yakin satu hal: bahwa ada hal besar yang menunggu aku di depan."
saya sendiri menjadikan ini sbagai salah satu kalimat motivasi diri sendiri, dan sudah tersurat sejak dulu, contoh pas lulus s1, trus sumpah dokter, masuk residensi, meski saya bersukur sekali bisa melewati tahap-tahap tadi, tapi rasanya saya ga ada bangga-bangganya sama diri sendiri, sangat menganggap perayaaannya berlebihan, ngrasa ga pantas diucapkan selamat, istilahnya itu semua ga ada spesialnya gitu heheheh, mgkn lebih ngrasa spesial dapet medali fm pertama saya nanti hehehehehehhehehehehe



Saya selalu exciting dengan masa depan, untuk karier saya, terlalu banyak yang saya khayalkan sejak dulu, terlalu banyak inspirasi yang saya temui di setiap mata saya memandang, telinga saya mendengar. Ilustrator medis dan bikin buku, menolong komunitas penderita kanker dan menjadikan mereka keluarga, ikut membuat pondasi sistem di tempat bakti saya nanti, banyak hal, banyak, dan yang paling penting, bisa menjaga konsistensi dalam passion saya yang lain seperti sepeda dan lari, dan terutama, tidak kehilangan waktu dengan keluarga dan akherat. Duh banyak banget yak, kayanya 24jam ga cukup hehehe
Orang bilang kalo cita-cita ketinggian kalo jatuh terjun malah bikin lebih sakit, jadi yang realistis aja, ,,,,,,, iya terserah sih ya semua ini ungkapan-ungkapan general yang ga ada garis batas jelasnya, setiap individu cuma dibatasi imaji dan khayalannya, caranya mengelola rasa ihklas terhadap semua hal, caranya memilih senyum atau sedih jika diri sendiri dikasi ujian sama yang Kuasa, cara lobus limbiknya merespon lingkungannya, caranya adaptasi di setiap perbedaan.


Btw, buat kiana dan brother K -nya nanti, jadi apapun kalian nanti, TERSERAH.
=D