BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Thursday, March 08, 2012

mendaki Kembar Dua (Arjuna) -2,end-

Kami mengikuti setapak setapak yang biasa dilalui para pencari kayu bakar, mbah Garmin hanya bisa nunjukin arah puncak, stidaknya itu ngebantu biar ga salah arah, ga lucu kan, kita nanjak segitunya tapi ga sampe puncak malah k ujung tebing yang jurangnya nuju ke istana underworld-nya Hades?

Setapaknya banyak banget yang bercabang, streamline (tali-temali/tanda yang ditinggalkan para pendaki di dahan-dahan buat nunjukin jalan 'yang bener') yang ada malah kadang bikin kita tersesat. Kalo dikumpulin, kami tersesat bisa ada 3-4jam sendiri, kami ngkikutin streamline, lalu ga ada jalan lagi, ato malah ke tebing yang g ngarah kepuncak, ditambah hujan, lalu kami turun ke titik lebih bawah untuk mengulang meniti setapak lagi, yang ternyata setapak yang benar banyak yang ketutupan semak semak dan dahan yang menyilang.

Kami pun menyimpulkan kalo jalur kami ke puncak ini memang jarang dilewati, sampah-sampah seperti bungkus permen atau yang lain yang Alhamdulillah sering jadi penunjuk jalan ini, juga sudah pada usang, nunjukin kalo itu udah lama. Dan yang paling asoi adalah pada ketinggian sekitar 2700an, kami harus menembus hutan pinus yang hutan itu (mungkin) satu-dua tahun trakhir ini mengalami kebakaran, absolut ga ada setapak, jadi kami melewati, menembus pohon-pohon besar sampai kecil yang rubuh, berlapis arang, dan sarang laba-laba yang dengan keterpaksaan kami rusak biar bisa lewat. So much critical point in those journey we had through, iya, emosi kami berdua begitu diuji, selain fisik tentunya. Senangnya saya sama Zaki sama-sama tipikal bisa mendam, hanya diem-diem aja, mungkin sama-sama memehami filosofi perjalanan seperti ini, pasti adddaaa aja... *tsaaah

Banyak sekali keindahan yang kami temukan disamping penderitaan-penderitaan itu, ini gunung pertama yang banyak 'hot steam' (lubang-lubang yang mengeluarkan asap panas dari inti bumi, kadang berbau belerang) nya di ketinggian tertentu. Jadi kaya setting film-film kolosal cina saat pendekar-pendekar bertarung dalam hutan yang keluar asep2 sebagai backgroundnya *opotoh..

Kami berjalan diatas hutan dengan tanjakan lumayan tajam, Alhamdulillah perjalanan yang kami tempuh dari jam 8-9an pagi kami akhiri pada skitar pukul 4-5an sore di padang rumput yang lumayan datar dan luas buat ngecamp, terletak antara puncak satu dan dua, kami memutuskan disini, dan melanjutkan misi muncak kami pada sebelum subuh keesokannya, kami sangat lelah dan kedinginan (tadi sempet kehujanan juga), setelah bersih-bersih, bangun tenda, masak-masak, kami menikmati sunset (sebenarnya zaki aja yang nikmatin, saya uda di dalam sleepingbag karna menggigil kedinginan skitar 1jam-an), kami istirahat sampai jam3 dini hari. Malam itu begitu sunyi, langit sangat cerah, sesekali kami menengok keluar dan menikmati indahnya ribuan rasi bintang yang dengan tak senonoh terlihat jelas di langit malam yang sangat cerah.

Pada jam 3an kami bangun, skitar stgh jam kami bersiap-siap, hanya membawa minum dan sejumlah cemilan di ransel kami, berjalan menuju puncak dua, ujung dari misi kami, yang kami tempuh skitar 45menit dari tempat kami ngecamp.

Kami sampai puncak tepat pada saat matahari masuk gerbang terbit, lanit di atas kepala kami masih gelap, namun fenomena di ufuk timur yang warnanya mulai nyampur antar biru dongker dan orange. indah. speechless.
Zaki bertanya pada saya, siapa yang mau azan, saya spontan mengiyakan, slama ini saya 'cuma' solat di puncak, kali ini saya azan. merinding, bukan karna dingin (meski jari saya uda ga krasa karna hampir beku, lupa bawa kaostangan euy), tapi karna merasa begitu kecil , begitu lemah, begitu... hmmm, ga ngerti diskripsinya gimana. Sungguh pengalaman spiritual indah. Mentaripun pelan-pelan terbit, sekeliling pandangan kami hanya langit, batas cakrawala, puncak arjuna, welirang, dan beberapa gunung kecil d sekitar awan-awan yang begitu indah menutupi kaki-kakinya.

Singkat cerita, sperti pendaki pada umumnya, kami menikmati 1-2jam an momen di puncak dengan diam, foto-foto, diam, foto-foto, diam,, =]

Pada jam8an kami meringkaskan barang-barang kami, mengisi perut kami, lalu mulai turun... Kami pun beberapa kali tersesat tapi cepat menemukan jalan yang benar (turun gunung lebih jelas ngeliat setapak). lutut saya, angkle saya mulai lemas, tapi saat itu hanya kepulangan yang dirindui.

Kami sampai di Surabaya skitar sore jam4an, Alhamdulillah. Kepulangan adalah 'the real finish' kata Zaki.















Wednesday, February 29, 2012

Mendaki Kembar Dua (Arjuna) -1-


"Naik gunung yok!" itu yang saya katakan secara spotan dari dalam hati kepada teman baru saya, Zaki, yang notabene adalah tipikal (passionnya) pecinta alam.

Kebetulan atau bukan, jarang sekali teman-teman sejawat saya, di lingkungan saya yang masih mau diajak untuk berpetualang. (baca: naik gunung)

Saya adalah tipikal pendaki 'seadanya', ga terlalu curious, tapi butuh ngalam setidaknya 2-3kali setahun. Iya, puncak gunung itu salah satu get away terindah, absolut. Saya sendiri selalu minjem semua peralatan outdoor untuk naik gunung.

Tanggal 25 kemaren, saya dan zaki mulai melakukan perjalanan itu. Kami hanya berdua.
Kali ini saya mendaki dengan lengkap, tentu saja minjem zaki smua, hehe. Dari carier, plonco, alat masak dan makan, spatu outdoor, dll dll, pokoknya anak pcinta alam banget deh.

Gunung Kembar dua (3126mdpl/meter diatas permukaan air laut), adalah salah satu dari 4 puncak yang berjejeran. Mulai dari Welirang (3156mdpl), kembar 1 (3052mdpl), dan Arjuna (3339mdpl). Zaki sendiri belum pernah ke sini, motivasi dia untuk memuncaki kembar 2 adalah karena hanya penasaran, karena ke 3 gunung di sebelahnya ida dia daki. Sangar ni anak.. hehehe
kami 'hanya' bermodalkan embah Garmin (GPS tools ituloh) dan keterangan dari http://www.gunungbagging.com/arjuno/

Kenapa 'hanya' karena didalam perjalanannya, saya tersadari bahwa gunung kembar dua ini jarang di daki. Setapak 'gak jelas' dan bekas kebakaran hutan di beberapa spot membuat kami seperti 'nerabas' hutan. Hal paling 'GILA' yang pernah saya lakukan selama berpuluh kali saya naik gunung.

Kami diantar seorang teman dari Surabaya ke daerah Cangar (1700mdpl) via Pacet (mojokerto) yang memeakan waktu 2,5jam dari Surabaya. Kami berangkat pada Jumat sore, dan sampai pada kaki gunung, di depan sebuah desa yang menjadi pintu masuk perjalanan kami.

Tepat jam setengah8 malam itu, kami memulai. tampak sunyi, cuaca cerah, bintang-bintang begitu indah, angin malam yang membuat pori-pori kami menutup, uap yang terlihat keren keluar dari mulut kami saat ekspirasi, dan dengungan lagu-lagu akira kosemura di kepala saya.

Iya, saya selalu gembira saat seperti itu, memulai yang saya kangeni.

(gambar diunduh dari sini )

Tuesday, February 07, 2012

finally, WE ARE THE CHAMPION! -Undip Medical basketball team as the winner of Solo Medical Cup 2012-

AKHIRNYA!!!!!!


iya, ini kata kata yang tepat untuk ngegambarin prasaan saya untuk tim baket FK Undip yang saya cintai. Trakhir, di kejuaraan antar FK yang diadain di Solo, yang diikuti 'hanya' 12 tim (lebih kecil dari kejuaraan sejenis STOVIA di Jakarta (FK UI) yang jumlah pesertanya skitar 18-20.

Iya, saya meng-klaim bahwa saya adalah pmain terlama di tim itu, sejak saya masuk kuliah disana (th 2004) langsung gabung ke tim yang, yaaah bisa dikatakan seadanya. Walau masuk papan atas antar fakultas di undip, tapi jarang berbicara di tingkat nasional. Setelah tahun ke4 saya ikut STOVIA di jakarta, akhirnya kami merebut peringkat ke 3. Saat itu seperti juara bagi kami. Tahun berikutnya sama, kami juara 3 di Stovia Jakarta, dan juara 2 di Solo. Itu tahun trakhir saya bermain, tahun kemarin, saya tetap ikut di tim walau sbagai official saja, *iyalah saya uda lulus*, namun kami rada menurun, pringkat 4 di Stovia dan pringkat 3 di Solo...

Dan saya tahu, anak2 masih berkobar, masi 'pnasaran' mengenai juara 1. Dan kami membuktikannya.

Kami, iya, saya masih merasa 1 tim dengan mereka. Satu2nya organisasi informal di FK Undip yang kekeluargaannya nomor 1. Tim Basket FK UNDIP. Trimakasih untuk temen2 yang ngebuat smua jadi nyata, walau susah didiskripsikan, saya seperti ada disana, ikut ngrasain smuanya, dari konflik2, sampe seneng2. Trimakasih buat twitter, saya jadi tau suasana disana! Thx buat admin @Basket_FKUndip
Bravo BASKET FK!!

*berikut foto2 saya dan tim fk undip sejak 2005 sampe 2012,, =]





















Sunday, January 15, 2012

Bulan ke2: Hierarkisme residensi.


Jujur, saya nulis ini saat sedang dalam kelas untuk mengikuti kuliah MKDU, entah apa kepanjangannya. Jadi semua residen atau mahasiswa sekolah spesialis angkatan saya, Januari 2012 ini dari semua program studi di UNAIR, diwajibkan ikut program MKDU ini. Kerjaan tiap hari adalah: kuliah (seperti saat S1) dengan beberapa mata kuliah yang aduhai pentingnya. Antara lain: Statistika, Etika, Metode penelitian, studi prognosis, farmako, evidence base medicine, dll dll.. So far, slama dikelas yang saya lakukan adalah: tidur, dengerin 5menit dan buntu, ngabisin novel, twitteran, pokoknya banyak lah.. hahahaha.. Tapi lumayan, nambah temen yang 'satu nasib' seperti anak2 ortopedi ataupun obsgyn.


Kenapa saya sebut satu nasib. Yang karena semestinya anak-anak smester 1 (MKDU) ini secara dejure gak boleh dikenain tugas tugas apapun di bagian. Tapi nyatanya kami dikenakan tugas-tugas mulia dari kakak-kakak kelas.

Iyah, budaya 'Hirarki' yang sudah 'mengakar' di Endonesa tercinta ini, sangat bisa dirasakan di lingkungan sekolah spesialisasi disini. Yang saya tau langsung sih, di Unair dan di Undip begitu, dan isu yang berkembang, tsaaaaah, di smua center pendidikan lain di tanah air ini juga begitu.
Maksud dari hirarkisme disini adalah, ga boleh berkata 'ngga' sama kakak kelas. simpelnya begitu. Banyak hal yang jadi 'ga sehat' disini. Beruntungnya di bagian saya ngga bgitu 'keras' seperti bagian lain yang saya sebutkan tadi diatas, karna stidaknya tugas-tugas saya 'cuma' hal-hal yang berkaitan dengan pasien dan data operasi blablabla, bukan yang gak berhubungan dengan tugas-tugas aneh seperti gantiin galon, ngamplas kayu, atau nganter jemput kakak kelas ke luar rumah sakit.

Saya bisa bilang begitu karena saya pernah tahu langsung keadaan sekolah di Jepang dulu. Yah, memang beda budaya beda sistem sih... So far, saya masih dalam tahap menilai superfisial saja, baru 2bulan gitu loh, tapi konklusi sementara yang saya dapat adalah: Sistem yang uda 'kadung' mengakar ini mengakibatkan naluri untuk berhenti melanjutkan hal-hal yang menjurus negatif dalam hirarkisme sekolah residensi disini. Saya sendiri pesimis kalo mau membuat revolusi untuk mengubah itu, seperti biasa, saya jadikan ini tantangan untuk belajar menyikapi nya se-kamil mungkin,., hehehe..

Tapi seru kok, beneran, ketemu sama karakter-karakter asing, beradaptasi optimal, dan saya juga sedang mengembangkan dan mempraktekkan cara mencuri ilmu serakus-rakusnya. fight fight fight!! =]


( gambar: seragam keseharian saya.. *instagram @kamilpopo )

Friday, January 13, 2012

hidup dalam rumah paradigma


  • Anak harus mencintai orangtuanya
  • Orang muslim harus mencintai Rasulnya
  • Dokter harus bergaya dokter, pakai kemeja, spatu pantofel, clana kain, stetoskop.
  • dll dll dll
Beberapa hal diatas adalah secuil idiom yang menempel pada otak otak subjek kita.. Iya, saya sendiri ga bisa menjeneralisasi pada pikiran smua orang, setidaknya di lingkungan saya, hal hal seperti itu bisa diambil sbagai contoh.

Bagaimana bisa, misal, komunikasi yang sulit terjalin dari orangtua dengan anak sejak kecil, membuat anak mencintai orangtuanya, secara naluri , iya. Tapi lihat saja, semakin kesini, tuntutan itu tak bisa masuk logika bila gaya hubungan ortu-anak yang biasa 'ga deket'?

"KITA HARUS MENCINTAI ALLAH DAN RASULNYA LEBIH DARI APAPUN", ini adalah kalimat monoton yang seriiiiing banget saya dengar. NORMATIF. Bagaimana saya mencintai tuhan dan rasul saya bila cuma kalimat ini yang saya dengar, jika apa yang saya ketahui ttg Allah dan Rasul cuma ini ini aja... Saya ga kenal Allah, saya ga kenal Rasul. Al Quran yang bahasa arab itu, yang tulisannya Arab smua, yang lancar saya baca, yang artinya jg bisa semena-mena saya diskripsikan setelah saya baca Quran terjemahan obralan di gramedia. Tiap hari yang ada di kuliah2 agama di tivi hanya sputar nata hati dan kalimat2 normatif para ustad beken karena ngawinin artis.. *ups

Saya juga sering dikomentarin: "kok dokter kaya gini ya? ga keliatan kalo dokter" setelah mereka, ngeliat pnampilan saya. Padahal saya rapi-rapi aja... Mungkin ditempat anda atau di nan jauh disana uda ngga. Tapi di sekitar saya, dokter itu: serius mukanya, badannya ga boleh atletis, baju bapak-bapak, ga boleh punya hobi ekstrem, pakai spatu pantofel. Pokoknya ga boleh rebel lah.... haha, ssetiap kluar kalimat tadi, saya ngrasa menari di mindset mreka. so shallow..

Skali lagi saya ga menjeneralisasi, tapi di lingkungan saya demikian adanya.
Hidup dalam paradigma itu menjemukan. Mengikuti hati, mengikuti mimpi, membiarkan 2hal tadi berteriak lebih keras dari teriakan pita suara kita. bebas.

Semakin kesini, saya pun banyak belajar, banyak hal yang membuat saya ga cuma ngikutin naluri dan mindset. Arti keluarga yang muncul perlahan, arti Tuhan yang ga semonoton ceramah siraman rohani di tivi, profesi dokter yang kompleks. Dan belum selesai smua pencarian ini. sangat belum.

Temukan diri. yuk..

*foto: hasil mainan instgram, cek account @kamilpopo

Sunday, December 25, 2011

Get Away


Setiap Sabtu dan Minggu setiap 7 hari. Kadang hari Minggu saja.

Rehat.
Dan beribu analogi lain untuk mengartikan bahwa secara naluri, manusia, kita, butuh istirahat dari smua hal. tak ada yang nonstop.

we need to get away, even a view second.

Seni untuk beristirahat, yang saya sadari, bukan hanya dalam bentuk tidur dirumah, dikamar yang paling nyaman. bukan. sangat bukan.
Saya yakin, 20-30 tahun bahkan lebih, manusia menemukan passion nya masing-masing, khususnya passion passion sampingan. atau hobi, atau kegemaran, atau apalah namanya.
hmmm, kok omongan saya lama-lama kaya Tony Blank ya? hehe

Berjuta jenis hiburan dengan berjuta bentuknya, medianya, terus saja tersedia, semakin dekat, ada juga yang semakin jauh. Mall dan isinya, toko2, travel agent, gdung olahraga, gedung nikah, lalala lilili nyepeda luar kota, main basket, renang 1 jam, joging 5km, lalala lilili sampai objek alam seperti sunset dipantai, langit pagi di teras kos-kosan butut, lalala lilili sampai setegup kopi panas tanpa gula atau segelas bir dingin, lalala lilili sampai mendengarkan dangdut koplo, atau terdiam mendengar sigur ross atau akira kosemura yang mengiris lalala lilili sampai solat sunah di sepertiga trakhir sunyi malam sambil bercerita dengan Si pawang hati.

Mengenali diri sendiri. mulai dari selera, sampai rasa yang dirasa. Apapun itu, 'get away' yang se efektif mingkin, absolut untuk bisa hidup. Setidaknya mulai 'hidup' lagi.

"Is not easy, to be me.." kata Superman.