Friday, January 20, 2017

Mr.Nyeri

Hai kawan, saat menulis ini sudah 2 minggu post operasi pngangkatan hemoroid dan kantung abses di an*s saya hehehe
Ada ada aja ya pnyakit saya, Alhamdulillah slalu dikasi ingat sama Pemilik saya =]

Sekilas mengenai 'nyeri'.

Secara ilmu patofisiologi medis, rasa nyeri berarti sebuah diskripsi berdasar pengalaman hidup yang sangat subjektif dari setiap individu terhadap sinyal yang diberikan tubuh yang secara umum disebabkan oleh kerusakan jaringan/proses aktifnya reseptor nyeri karna impuls tertentu. (ini pengertian berdasar pengetahuan saya pribadi, pas nulis ini kuota internet abis jadi ga bisa nyari sumber, hehehehe)

Rasa nyeri, secara antropologi, menimbulkan banyak gambaran yang dihubung-hubungkan dengan dewa kegelapan. Contoh saja konsep 'neraka' yang pertama muncul di mitologi Yunani, underworld adalah tempat yang penuh dengan kengerian, rasa sakit. Peradaban lain lalu memiliki konsep yang mirip mirip tentang dosa-siksaan-nyeri, pradaban mesir kuno memunculkan paham timbangan baik-jahat, dewa kematian, dll,,(kalo diceritain detil panjang banget, males). Jadi presepsi nyeri (karna siksaan) adalah yang membuat spesies manusia menghindari hal-hal yang dianggap negatif, hidup dengan luhur, kalo bisa tanpa nyeri sampai abadi setelah mati. Dan sebagian penemuan manusia, mungkin sepertiganya adalah di bidang medis, penyakit adalah sepaket dengan kehidupan, dan adalah rasa nyeri sebagai indikator. Ribuan tahun terus berkembang, dan membuat rasa 'nyeri' adalah sesuatu yang sangat ber-jasa pada perkembangan peradaban (yang menurut saya) diatas perasaan lain seperti rasa senang, atau rasa asin. 

.....

Tubuh adalah kumpulan organ yang tersusun dari jaringan yang kompleks. Satu kesatuan dan komperhensif, jika ada sesuatu yang diluar proses fisiologis, maka akan berakibat respon untuk menjadikannya se-fisiologis mungkin. Prosesnya yang membuat rasa nyeri muncul, hampir bisa dikatakan derajat nyeri sebanding dengan derajat 'kerusakan' yang timbul baik dalam proses awal atau selanjutnya untuk kembali ke level fisiologis tadi. (walaupun rasa nyeri tergantung dari densitas reseptor nyeri di lokasinya, misal kulit wajah dan selangkangan yang tinggi daripada kulit bagian lain). Kerusakan tadi bisa sangat macam-macam, contohnya: hancurnya sel yang bukan karna proses apoptosis, tekanan tinggi yang menyebabkan perenggangan ikatan antar sel dilanjutkan oleh pernggangan kapiler berlanjut awal proses infark/kekurangan pasokan sirkulasi sel-nya. Hal hal tadi bisa sangat dihubung-hubungkan ke semua hal yang menimbulkan nyeri. Dan tubuh kita yang ajaib ini pun memiliki proses untuk mengontrol rasa nyeri tersebut, salahsatunya dengan pengecrotan endorfin / morfin endogen ke dalam sirkulasi tubuh jika nyeri sudah di ambang tertentu. Dan (hampir semua) terapi medis itu berdasar gejala dan tanda berupa rasa tidak nyaman, iya, berupa nyeri.

Bagaimana jika seorang tidak bisa merasakan nyeri? (*diluar proses medikasi anestesi atau kondisi iatrogenik tertentu). Bisa dipastikan tak ada kontrol terhadap dirinya, jika kita ambil contoh ekstrim: kaki diabetik, pada penderitanya, salah satu komplikasi kronis berupa neuropathy distal yaitu kemampuan sensorik di ujung tubuh (kaki) berkurang sampai hilang, menyebabkan luka di kaki yang tidak bisa sembuh sampai membusuk tanpa merasa apa apa selain mencium bau busuk pada kaki dirinya sendiri (kondisi ini diperparah vaskulopati dan imunodefisiensi, dan lain lain). Mungkin secara kasar bisa di analogikan dengan kondisi umum jika tak ada kontrol terhadap bayangan nyeri(hukuman) akibat dosa (misal) mungkin manusia biasa (seperti saya) enak aja gitu ngelakuin hal negatif, bebas sampai melanggar norma apapun. Baik , ini salah satu contoh saja.
........

Baik, mungkin narasi diatas sangat melanglang tanpa tujuan. Kita ambil saja kesimpulannya. Untuk saya, nyeri adalah teman, seperti Kapten Tsubasa terhadap bola. Kita harus bisa akrab dengan nyeri, mengerti bahwa rasa 'nyeri' ini berperan besar terhadap sejarah, merupakan kontrol terhadap kehidupan, dan perlu banget dimengerti, obat pereda nyeri tidak boleh dibiasakan dikonsumsi alias harus sesuai indikasi ekstrim. Karna kalo dikit dikit ga nyaman tanpa dinikmati dulu langsung konsumsi obat anti nyeri lalu ngrasa enakan, niscaya hal tersebut lebih kepada efek placebo. (Hipotesa pribadi). Selain itu reseptor nyeri di setiap inci tubuh kita bakal berkurang fungsinya, hingga jika diberi kondisi nyeri yang 'beneran' nanti, reseptornya ga terlalu sensitif dan membutuhkan anti nyeri yang lebih tinggi tentu dengan paketan efek samping obat yang tinggi juga, jadinya ya ngrusak fisiologi tubuh. Oke kembali lagi, ambang nyeri setiap individu berbeda, tergantung pngalaman terhadapnya, bagaimana individu tersebut menikmati dan berhubungan baik dengan si mr.nyeri ini. 


Oke saya mulai gajelas karna mulai memanusiakan myeri, sebaiknya sekian dulu. 
Terimakasih =D


Wednesday, January 04, 2017

Kenapa kanker otak?

Rasanya sebagai dokter yang pengetahuannya sungguh dangkal, boleh juga kan ya share tentang kesehatan? 

Tulisan ini saya bikin saat duduk di ruang makan di rumahsakit khusus, maaf, penyakit daerah anus. Hehe Tadi pagi saya baru masuk kesini untuk rawat inap dalam rangka operasi pnyakit yang tiba tiba muncul dan demi kelancaran jadwal studi dan terutama jadwal event full marathon saya (dua bulan lagi), walaupun tidak terlalu mengganggu, saya putuskan untuk di terapi operasi karna ada resiko penyakit bertambah parah jika dibiarkan. Pengalaman ter-akward yang pernah saya alami selama ini ketika bukan hanya di RT (rectal toucher), tapi di USG intra rectal alias ada alat probe yang dimasukkan ke lubang saya, anjay. Dan tadi pagi si prawat (standar) cantik, mencukur rambut di sekitar lubang saya itu. Hahahhahahahahahaha 

Semoga ini terjadi skali aja seumur hidup saya, dan ini sangat berarti bagi saya sbagai dokter umum yang pasti pernah memeriksa RT ke pasien. Betapa hebatnya pasien yang bisa 'rileks' saat diituin. #respect

Iya, kesehatan adalah salah satu nikmat yang paling yahud diberikan Sang Pemberinya. Dan bukan hanya pada diri, tapi pada keluarga atau orang dekat yang pasti kena dampaknya jika kesehatan terganggu, jadi secara naluri, manusia normal harusnya jaga diri(kesehatan). Dan caranya itu tergantung pemahaman individu terhadapnya, ada yang seperti saya, jaga output input psikis natural tanpa suplemen apalagi obat. Ada juga yang punya pemahaman: sehat itu ya minum suplemen semaksimal mugkin, dan ga boleh ada gejala apapun di tubuh alias dikit dikit ngobat, dilemari rumahnya pasti penuh dengan pil dan macem macem macem macem obat yang seperti di stok. Ada juga yang tipe, nanti aja deh jaganya, belum sakit ini, misal para perokok yang dalam hatinya selalu tersirat "mulai besok saya berhenti". Terserah sih.. =]

Alangkah bersukurnya ketika hobi seorang berkaitan erat bukan hanya dengan kesehatan mental tapi juga jasmani. (Kebetulan menimpa saya), tapi apakah hobi olahraga sepenuhnya karna ingin sehat? Tentu saja tidak, hobi berhubungan dengan keegoisan manusia untuk sekedar merasa puas secara psikis, jika tak percaya monggo tanya aja yang pada ekstrim lari/speda/atlet, mereka pasti ga cuma nyari sehat tapi nyari titik kenyamanan diri setelah mencapai kenikmatan khusus saat melakukan hobi itu. *Hehe ini kok tulisannya ga ngarah gini ya*

Saya sendiri sejak kecil akrab dengan penyakit. Saat Sekolah menengah pertama, mata kiri saya terkena koroiditis karna parasit toxoplasma, terapi 6 bulan obat plus berakibat kecacatan lanjut mata kiri saya. Pas itu sempet drop secara mental karna awal mata kiri cacat sempat ga bisa main basket, sekolah mata satu dan pesimis tentang cita cita saya sbagai scientist (ciee kamil). Tapi alhamdulillah, itu ga terlalu berpengaruh karna makula perifer di retina kiri saya beradaptasi dan saya malah diplot sbagi shooter di tim basket SMA juga tim inti di fakultas saya saat kuliah. Dan kegalauan sempat hadir lagi saat saya ikut seleksi sekolah spesialis bedahsaraf, tapi atas ke-objektifan dan kebijaksanaan tim seleksi saya akhirnya lolos untuk mengambil sekolah itu, walaupun saya cacat seperti itu. *susah dijelaskan*

Penyakit hebat saya yang lain, yaitu tumor yang selalu ada di bungkus saraf punggung saya. So far sudah dua kali operasi di tempat yang sama di level vertebra thioracal 2-3-4 , ramus posterior nervus spinalis sinistra saya (maaf pake bahasa latin, susah pake bahasa indonesia hehehe). Dan gejala itu muncul lagi blakangan ini, barusan terdiagnosis, insyaAllah kalo lancar saya akan naik meja operasi lagi pertengahan tahun ini untuk pengangkatan tumor yang sama (disisi yang beda). Kenapa tengah tahun dan bukan sekarang? Hmmm bukannya saya sok sok tahan dengan gejala nyeri yang menerpa lokasi tumornya, bukannya saya sok sombong tumornya ga akan kompresi sumsum tulang belakang saya sampai saya lumpuh, tapi ini karna prioritas lain (keluarga) dan secara medis masih bisa "ditunggu" untuk dioperasi lagi. Cuma butuh tahan aja nyerinya. Sekali lagi, saya anti obat, jadi nahan nyerinya ya pake nafas , ngeluarin endorfin (morfin endogen) secara optimal hehehe,
Trust me, it works 
*gaya bicara iklan L-Men*

Saya pun sudah bekerja sbagai klinisi (2008-2010 sebagai koas di RS.Kariadi semarang & 2011-2015 sebagai residen di RS.Sutomo surabaya), iya kira kira total 6tahun. Saya pun aliran yang mengakrabkan diri dengan pasien dan keluarganya. Mungkin karna pengalaman sendiri bahwa sakit itu bukan cuma individu si pnyakitan itu sendiri tapi juga keluarganya. Sepaket. Jadi tugas dokter pun adalah mengelola si pasien dan si keluarganya. #prinsip

Atas dasar itu pula, menjadi faktor keputusan saya untuk mendalami salah satu bagian kecil di bidang sekolah saya.
Satu waktu saat saya residen dahulu, pas saya jadi penanggung jawab poliklinik bdahsaraf, datanglah suami istri dari kota terdekat surabaya, membawa beberapa hasil mRI kepala sang pasien (si suami). Saat itu si suami "cuma" mengeluh pusing dan kalo ga salah masalah bicara (apasia motorik), MRI menunjukkan adanya gambaran keganasan. Saya secara pelan-pelan menerangkan kepada keluarga dan pasien secara konkrit sesuai kaidah edukasi secara medis. Saya kasih rujukan ke rumahsakit terdekat rumahnya, saya hubungi ahli bedahsaraf di rumahsakit tersebut lalu pasien pergi membawa entahlah itu solusi atau apapun yang pasti kenyataan bahwa si suami terjangkit kanker otak dan waktunya secara biologis tak lama walau diterapi maksimal. Kira kira 4-5 bulan setelahnya saya dapat sms dari si istri, saya lupa detilnya, intinya berisi: " terimakasih, benar kata dokter, suami saya sangat cepat buruknya dan meninggal sesuai prakiraan, tapi saya masih ga sangka secepat ini, bagaimana nasib saya dan anak anak saya selanjutnya saya masih belum tahu".
...
Sekilas isi smsnya cuma sebatas info ke saya, bahwa si pasien meninggal, bukan minta pertanggungjawaban saya, bukan minta saya untuk mengawini janda. Bahwa sms itu sungguh terlekat ke kepala saya bahwa, apa yang saya bisa lakukan untuk pasien lain seperti si suami tadi. 

Kanker adalah musuh utama di kehidupan antropologi homosapiens sabagai pengontrol populasi. Pnyakit yang tidak menular, tapi tidak bisa dicegah timbulnya, sangat acak, mematikan, cepat, ngobatinnya aja bikin si pasien dan keluarga, bahkan teman-teman dekatnya menderita. 

1 dari 5000 manusia secara data menderita kanker otak setiap tahun. (wHO) Kalo diitung estimasinya jika pasien itu meninggal setahun, maka di Indonesia yang penduduknya 250juta, maka setiap tahun ada 50.000 orang yang terjangkit lalu meninggal cepat di Indonesia. Kemungkinan kesembuhan: nihil. Harapan hidup dalam 5 tahun: rendah , itu pun dengan terapi lengkap (termodern), oprasi plus kemo plus radiasi *silahkan search sendiri tentang glioma, wikipedia aja uda lengkap banget, ini musuh sluruh dunia*

Di indonesia kita tercinta yang miskin data, se-pengalaman saya di lingkungan bedahsaraf saya, glioma (kanker otak primer) masih merupakan momok. Standar global yang mengharuskan diagnosis molekuler untuk terapi yang benar benar tepat supaya angka survival meningkat BELUM SAMA SEKALI bisa jalan di Indonesia. Ketahuan-oprasi-kemo-radiasi-sehat bbrp bulan-kambuh-mati/oprasi lagi. Knapa di Indonesia bisa begitu? Fasilitas ada, sistem bisa diusahakan, tinggal tenaga yang mau belajar 'lebih'. Kejar-kejaran. 

Iya, itu yang bikin saya memutuskan mendalami musuh itu, research saya selama 4tahunan disini. Lanjut mendalaminya terus di center bedahsaraf di indonesia. Demi pasien di Indonesia insyaAllah.

Doaken ya!



Tuesday, December 13, 2016

Kelan smua suci aku penuh fofa *halah

Sesuai antropologi manusia yang hidup bersosial di lingkungan tertentu, saya hampir yakin kalo semua orang akan menilai orang lain dari luarnya, kesan pertama dari tindak tanduknya sebelum melaju ke area paradigma jenis orang yang menjadi objek tersebut. Tidak serta merta negatif, menilai orang lain dengan cepat mutlak dibutuhkan untuk menempatkan diri supaya kondisi kondusif. Misal ketemu orang yang kesannya rapi, maka si penilai itu akan menyesuaikan diri supaya tidak jorok. Semua ini termasuk naluri untuk menghormati skaligus bertahan hidup. Naluri manusia untuk berlaku adil terhadap lingkungannya. Benar kan ya?

Tapi tidak semua sesimpel hal tadi, meski asumsinya semua orang berniat baik. Kita (sebagai objek) selain dinilai kelebihannya, juga dinilai kekurangan. Kelebihan yang diasumsikan membawa kita ditempatkan di posisi yang (seringnya) lebih baik daripada jika kita dinilai kurang/negatif.

Misalkan saja, objek ikut main basket di tempat yang asing/baru, ball handling dan cara objek bermain akan mudah sekali dinilai sekejap. Lalu pasti setelah game, bakal lebih diajak ngobrol sana sini dan lebih diterima oleh lingkungan baru tersebut jika dibandingkan dengan objek dua yang biasa-biasa saja atau malah 'ga bisa main'. Objek pertama mendapat posisi yang baik karna dinilai baik, dan sebaliknya. Ini contoh yang nyata dan sangat memotivasi untuk selalu menjaga kesan yang  baik dimanapun.

Tapi disini saya lebih menekankan ke objek negatif. Contoh basket tadi misalnya, si objek yang negatif mungkin saja ga baik karna punya alasan lain, habis cedera, atau uda ratusan taun ga nyentuh bola, atau apalah. 

Di-remeh-kan.

Iya, hal ini tidak enak, siapa suka diremehkan? Tapi niscaya hal ini justru beberapa kali lipat lebih memotivasi daripada  dianggap baik tadi. 
Jika kita tahu, sebagian besar atlet yang juara awalnya diremehkan. Para penemu dibidang sains, Einstein misalnya, awalnya dia diremehkan. Memang sebagian lagi hidup karna talenta (yang tentu dimenej dengan baik). Dan apa yang membuat sebagian besar objek yang diremehkan menjadi berkebalikan?

Mungkin kita yang pernah atau sedang merasa atau dengan nyata diremehkan tentang sesuatu, harusnya secara otomatis menjadikan sebagai pupuk bahwa hal itu bukan mustahil untuk sebaliknya.

Michael Jordan, awalnya tidak bisa jumpshoot. Dia menyadari itu, justru itu menjadi titik balik untuknya, dan berhasil menjadi jumper terbaik dunia. (Buku referensi: how to be like Mike)

Saya sendiri sangat biasa diremehkan. Mungkin secara tampang dan selera penampilan di mata orang lain, kadang status sosial juga. Namun saat dengan sabar dan konsisten membuat hal-hal itu menjadi positif, rasanya seperti menari dan semakin juga menemukan jatidiri. Tetapi tantangan tersendiri untuk selalu menyambung asa supaya selalu positif. Seperti meditasi, fokus untuk mendiamkan suara monyet di kepala kita sendiri.

Mengenal diri bukan saat remaja saja, mungkin sampai usia senja nanti proses ini akan terus berlangsung. Iya, dinilai dan dinilai, tinggal mengatur dan bermain dengan respon yang positif.

Sumpah ini tulisan panjang paling belibet yang saya buat hahaha
Selamat malam.
*foto: si kecil uda gede aja nih*

Sunday, November 13, 2016

jibunnokarada

Hai semua. kiranya tidak perlu menjelaskan kenapa saya lagi-lagi jarang nulis disini.
namanya juga pengkhayal, bukan penulis. hehe
Kali ini, dibantu jaringan intenet lancar dan beberapa source di gugel,,bolehlah saya bercerita mengenai sistem asuransi kesehatan di Indonesia kami tercinta jika kita lihat dari sudut pandang perbandingan dengan sistem asuransi nasional yang analoginya adalah BPJS-nya Jepang.

Terinspirasi oleh satu link yang di-forward di grup aplikasi komunikasi di smartphone mengenai tulisan yang beraroma positif mengenai BPJS, sistem asuransi nasional yang (tak terasa) sudah dicanangkan di UU no.24 Th2011 mengenai lahirnya sistem BPJS (sebelumnya jamkesmas, askes, dll. terus dijadiin satu namanya dan sistemnya) yang secara resmi diberlakukan sejak 2014. (source: WIKIPEDIA).

Kalo kita mencoba review di dunia maya dimana media sosial, terutama, dan tulisan di situs situs berita mengenai BPJS ini, mungkin separoh lebih isinya mengenai betapa ngga bagusnya sistem ini.
Tapi ga kalah banyak juga loh yang nulis mengenai bagusnya dan betapa sistem yang belum lama jalan ini untuk membantu dan meningkatkan kesehatan rakyat Indonesia tercinta tanah air beta pusaka abadi nan jayaaaa.

Kedua, secara statistik, BPJS telah berhasil mengkaver lebih dari separoh penduduk yakni sekitar 60% (http://infobpjs.net/ , bps.go.id) dibalik masih memprihatinkannya statistik anggaran pemerintah di bidang kesehatan yang menduduki peringkat 4 dari bawah di dunia (data bank dunia). bingung? satu dulu. Dan sebagai negara berkembang yang sudah lumayan berkembang (menurut asumsi awam saya, hehe) dibandingkan negara asean saja, Indonesia masih pada urutan terbawah mengenai pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan. Nyambung gak nyambung sih, lebih ke efisiensi sistem kesehatan yang belum sepenuhnya sampai ke yang membutuhkan. Semoga saya aja yang salah memahami data data itu karna bpjs ini tergolong masih baru sedang data-data global tadi belum terlalu baru, yang pasti, sistem kesehatan Indonesia masi dalam tahap perkembangan yang baik namun pelan  dan atau telat saja.

Kebetulan saya juga berpengalaman terhadap sistem ini berdasar pengalaman kurang lebih 4 tahun mengabdi, eh, bukan, bekerja, eh , bukan juga, atau apalah pokoknya slama saya menjalani program ppds di RSUD Sutomo Surabaya (2012-2015). Yang pasti, asuransi kesehatan  nasional di Indonesia sudah sangat menolong masyarakat.

Entah, detailnya mari kita lebih memahaminya mulai besok.

.....

Saya kebetulan sudah merayakan satu tahun merantaunya saya di negeri maju ini (baca: nippon), dan kebetulan juga sudah beberapa kali berobat. Yap, dibalik betapa giatnya saya dan keluarga untuk hidup sehat dan pemahaman prevensi terhadap penyakit, tidak terhindarkan juga adanya kebutuhan yang tinggi terhadap fasilitas kesehatan. Mulai dari alergi dingin dan infeksi (orang tropis gitu loch), dan beberapa kondisi fisiologis yang butuh pemeriksaan penunjang dan konsultasi ke spesialis. Maka dari itu kami merasakan efek beruntungnya mengikuti asuransi kesehatan nasional disini, iya, bpjs nya Jepang.

Sistem asuransi kesehatan di Jepang (sebut saja HOKKEN) ini sudah berjalan secara menyeluruh sejak 5 dekade lalu (tahun 60an) walau sejatinya diawali saat post perang dunia satu sampai sekarang dimana saat dekade awal, ditambah hancurnya Jepang di segala bidang setelah kukut kalah perang. Yaaa dasar Nippon, kondisi jatuh dan kepepet itu justru berakibat konsistensi untuk membangun sumberdaya dan sitem yang benar-benar-benar jitu, dimana menurut WHO , Jepang merupakan jajaran teratas negara didunia dengan sistem asuransi kesehatan nasional yang yang paling efektif. (sumber: wikipedia)

Setahu saya seluruh fasilitas medis di sini bisa memakai hokken. Singkatnya, sistem ini memungut premi asuransi sebanyak 10 kali satu tahun , pembayaran cukup mudah, bisa diatur untuk autodebet ke akun tabungan di bank, atau bisa bayar sesuai dedline setiap nomor urutnya di convenient store terdekat. kalo di indonesia kaya indomaret atau alfamaret. besar premi tergantung laporan pajak yang dilaporkan sekali setaun sesuai tenggat waktunya, contoh seperti saya yang hidup dari beasiswa pemerintah Jepang, maka akan dikenakan premi terendah, kira kira 1.500an yen (asumsi 1 yen 120 rupiah, makan sekitar hampir 200 ribu rupiah), setaun sekitar 15.000 alias 2 juta rupiah, jadi kalo dianalogikan ke BPJS yang kelas satu misalnya, perbulan 60ribu rupiah, setahun ga nyampe satu juta, broooooo. Mungkin memang karna sistem pembayaran yang tampak ribet, (padahal ga ribet loh ya), dan kompleksitas mental dan kebiasaan bayar premi bagi masayarakat endonesia yang bikin lumayan susah tepat bayar.
Untuk biaya kesehata, mirip-mirip sama bpjs yang punya sistem sendiri dengan jatah poin dan lain sebagainya yang bikin ada limit tertentu untuk setiap diagnosis dan biaya untuk menejemennya sampe tuntas terapi. Di sistem hokken ini sistemnya cukup mudah dimengerti, yaitu: 70% asuransi, 30% pribadi. Artinya, smua hal dari A sampe Z dari kelas satu sampe presidensial, biayanya 'cuma' 30% dari semua konsumsi. Walau ada beberapa kondisi tertentu 100% negara (usia, penyakit, dll, saya kurang paham).

Sistem ini sempat berubah-ubah sebelum akhirnya fix di tahun 70an sampai sekarang, iya, uda jalan 40tahunan.

Fasilitas kesehatan di Jepang ini standar negara maju alias semuanya bisa dibilang hi-end dan terpusat, mirip-mirip lah yaa, ada yang kelas puskesmas atau klinik yang jadi satelit, sistem rujuk-rujukannya oke, selain fasilitas, waktu dan transportasi jarang jadi kendala (sepertinya jumlah ambulan dan doctor-heli mreka ga terbatas hehe). Mereka juga ada pembagian untuk pilihan kelas untuk fasilitasnya loh..

Untuk administrasi, ga terlalu ribet, iya mungkin karna sistemnya uda established lama, tinggal urus sehari di di city hall, langsung jadi deh.. antri? yaaa tetep lah antri. trus untuk pemakaiannya di rumah sakit umum, misal seperti univ.hospital disini (analogi kaya RSCM deh kalo di jakarta), tetep antri panjaaaaaang dan laaaamaaaaaa loh, sumpa deeeh.. yang periksa di rumah sakit pusat disini juga bejibun banyaknya. Jadi yang namanya periksa ke rumahsakit pusat itu dimana-mana bakal kudu siap cape antri. titik.

Pemeriksaan semua disini sudah pakai sistem digital , terutama untuk buku status pasien, dan hasil pemeriksaan penunjang, tapi untuk informconsent dan beberapa hal lain tetep hardcopy. Jadi tetep aja pasien dan petugas bakal berurusan dengan dokumen, ga beda jauh kan?

Nah, SDM nya nih yang sedikit beda, budaya manusia disini yang respek tinggi terhadap yang lebih tua, anak-anak, dan terutama orang sakit, bikin smuanya kerasa dimudahkan. Ditambah sosial budaya kecil lain seperti antri, bersih, dan sebagainya yang sulit dijelaskan disini.

Tenaga medis disini, saya kurang bisa tau banyak sih, sepertinya ga ada masalah mengenai pendapatan mereka berhubungan dengan asuransi, ya itu tadi, karna sistem uda jalan berpuluh tahun, secara sistem semuanya lancar-lancar aja. Sepaham saya di Jepang, dokter termasuk di 3 besar pendapatan tertinggi selain pengacara dan guru.

Dan walaupun segalanya seperti sudah enak dan nyaman,  negara ini memiliki masalah tersendiri dan akan menghadapi kerumitan kedepan karna penyakit kronis dan degeneratif akan sangat tinggi mencatut biaya kesehatan karna selain masalah beranak pinak, orang Jepang dengan pemahaman dan tingkah laku sehatnya berakibat masa hidup lebih panjang dan dominasi penduduknya adalah : orang tuwir yang sepaket dengan pnyakit-penyakit yang tidak bisa dihindari yaitu pnyakit orang tua.

BPJS di Indonesia?
baru banget.

Jadi, apapun ke-negatifan dan kepositifan yang kita tangkap dari semuanya mengenai BPJS kita, InsyaAllah kedepan bakal bertransformasi menjadi baik, sangat besar kesempatannya untuk itu. bagi pasien, bagi masyarakat, bagi pemerintah, dan bagi pekerja di bidang medis, bagi smuanya. Amiin

Sekian, mohon maklum jika kurang panjang karna pendek itu belum tentu ga kuat, *halah



Tuesday, September 13, 2016

Rumah (yang) kokoh

Hai kawan!
Rasanya cari waktu yang pas untuk melakukan sesuatu yang tidak masuk daftar prioritas itu sulit sekali ya, contohnya rutin nulis di blog pribadi seperti ini. 

Sudah hampir satu tahun saya di perantauan yang sebenarnya, digaji untuk belajar mengenai hal yang nyata namun butuh maintenance terutama untuk menyambung semangat. Seperti iman, semangat belajar itu, walaupun sesuai passion, itu sungguh seperti rollercoaster. 

Kehadiran Kiana Naira, si putri bulan kami, juga hampir terhitung satu tahun. Kami masih merasa separoh mimpi dikaruniai si mungil ini. Kami sadar kami termasuk spesies manusia yang normal yang setelah ada anak di keluarga kecil kami ini, segalanya ya untuk anak. Pengorbanan pengorbanan kecil sampai mungkin besar,(ga pernah nonton bioskop, ga pernah spedaan lebih dari 2-3jam, ga pernah belanja , makan makan hedon, baju simple yang ga ada bukaannya buat nyusuin, tidur pelukan tanpa baju , dll dll) kami jalani sepenuh hati, mungkin kadang kami meratapi, tapi menjadi ikhlas sekejap setelah melihat gelak tawa, bahkan membayangkan nafas tidurnya saja. Seperti jadi adem gitu, kaya relanya tu rela banget gitu..

Begitu natural alami atau apalah bahasanya,, 
Hari hari yang terasa pendek dirumah dan panjang di laboratorium karna ga nemenin si kecil, Subhanallah ya pemberianNya ini.
Betapa rasa akan 'rumah' itu setiap waktu akan tumbuh dan luas, dahulu kita anak yang  tak tahu apa apa, lalu menjadi pemberontak dan tak merasa disayang, sampai merasa orangtua dan saudara itu priceless saat kita melamun dan dirundung rindu akan bau masakan ibu dan keunikan kakak adik kita saat harus lama tidak dirumah. Lalu kita menikah, memiliki orangtua asing yang menjadi orangtua kita juga, dan kita pun berkembang biak, lalu kita menjadi orangtua anak yang setiap detilnya adalah tanggung jawab kita, tanpa merasa harus maintenance rasa kasih kepada mereka karena semuamuanya begitu didapat secara otomatis dan gratis (rasa).

Iya, membangun rumah (yang kokoh) itu ternyata sudah dimulai sejak kita lahir, sejak kita dirawat penuh ikhlas oleh leluhur kita, sekelompok manusia yang kita sebut keluarga.

Hehe,
Have a good day, homosapiens!




Sunday, July 17, 2016

(im)possible? -rekap musim 2015/2016-

Sebenernya uda pengen nulis dari dulu rekapan hasil hasil dari liga liga banyak cabang olahraga skala internasyenel yang saya ikuti. Tapi uda kaya beruntun aja ga slese slese sejak mei kmrn, ni aja tour de france masi baru slesai duapertiga tapi ya gimana ya mumpung sempet. Oya sebelumnya, saya ga nulis rekapan tiap taun tontonan saya (liga inggris, nba, basket indonesia & tour de france) kalo ga spesial, trakhir taun 2009 pas  boston celtic juara.
*belagak ini tulisan penting

Oke taun ini (musim 2015-2016) memang ajib. Saya itu bukan pengikut setia smua liga sepakbola bahkan liga indonesia saya ga tau (eh masi ada ga sih?). Tapi liga inggris jangan tanya ya (baca: sel setan merah mengalir di vena saya), yang dijuarai sama leichester city, iya, smua tau dan stuju kalo cara mreka menjuarai EPL taun ini ajaib. Dimana secara fakta awal musim taruhan mreka menjuarai EPL (bandar taruhan apa gitu saya lupa, pokoknya kelas internesyenel) itu 5000:1, perbandingan angka yang sama kaya kim kadharsian jadi presiden Amerika. Hehe

Lalu ada kisah dimana tim CLS surabaya yang 'akhirnya' pertama kali jadi juara iBL. Memang nyatanya si Jamar yang mulai musim pertamanya d CLS ini menjadi rookie of the year sekaligus MVP musim ini tanpa tandingan, tapi yang ga cuma liat final IBL kemaren itu pasti setuju kalo mereka membangun timnya uda sejak ratusan tahun lalu, perlahan dan pasti gitu hehe.. Sebagai penduduk kota (kedua saya) Surabaya, saya turut berbahagia (sangat).

Lanjut cerita heroik kakak LebronJames yang mematahkan kedigdayaan Goldenstate warriors yang secara lagi anj*ng banget (hehe maaf saya ga suka mreka), baru aja mecahin telor, eh, rekor musim nba dengan angka kalah menang 73-6. Padahal difinal cavs ktinggalan 1-3, iyap sejarahnya ga ada tuh yang bisa bangkit dari ketertinggalan segitu di final nba sejak hercules lahir di ribuan taun sebelum masehi. Saya nonton finalnya sampe terharu, secara sedikit paham posisi mas lebron yang punya alasan sendiri balik ke cavs dan ikut bangun tim itu,, keren yaa..

Lalu lanjut ke piala eropa, dunia di pertontonkan oleh kisah heroik mas mas islandia, siapa yang naroh ekspektasi ke mreka? pasti banyak juga yang ngarep mreka bakal nyampe lebih jauh daripada prempat final nyamain kisahnya leichester tapi beneran uda cukup ngasi tau dunia bahwa mreka eksis. Iya, negara yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit daripada followers akun instagram cr7. Ternyata masuk akal setelah kita tau bahwa keseriusan menejemen (sepakbola) negara yang cuma bisa mainin liga 4 bulan dalam setaun itu, dan ratusan excuse buat ga usa maju di sepakbolanya, berhasil mulai memanen yang mreka tanam semenjak 2002. Inspiratif, seperti juga cara mreka merayakannya ala ala viking yang dengan konyolnya jadi inspirasi buat tim prancis yang niru pas lolos ke final namun sangat gagal niru hehe, langsung kena karma kalah di final. Bahkan belum habis cerita karna sang juara, adalah tim yang sampai ke final dengan 'cuma' sekali kemenangan sejak penyisihan dalam 90 menit pertandingan, lolos dari grup aja karna konspirasi michel platini (sbagai kepala uefa) pas maksa 24 tim di final euro dan itu bikin beberapa tim pringkat tiga di fase pnyisihan, termasuk tim portugal ini. Kisahnya tambah dramatis karna ronaldo cuma main 10 menit scara efektif dan nyentuh bola 8 kali saja. Kalo kata pange (penulis favorit saya via pandit footbal.com) ituh mas ronaldo jelas lebih baik daripada messi yang (putus asa setelah) ga pernah jadi juara satupun di 4 final negaranya yang dia ikut main, dan setidaknya masi rutin bayar pajak. Hehe. Emang sih saya juga nangkep si platih portugal (pak santos) ini jenius, terutama pas mutusin masukin si bebek buruk rupa 'eder' yang tiba tiba jadi angsa cantik di perpanjangan waktu dengan gol classic no.9 nya. Wah, panjang juga ya ceritanya..

Trakhir saya nulis ini, beberapa hari kemarin rada epik lagi karna di stage 12 tdf, si froomey (pmegang sementara jersey kuning) melakukan hal yang baru skali terjadi di spanjang sejarah tdf berlangsung seabad ini. Iya, dia lari, pake spatu cleat, tanjakan, ventoux pula. Ditambah sampai hari ini si kaka cavendish, di taun taun trakhirnya di pro cycling, uda menangin 4 stage. Kalo kata paman sam: what the F*ck!

Hmmm apa lagi ya hehe

Kira kira begitulah ya,, 
Disini uda summer, ga enak blas, enakan panas di indonesia. Huff, dasar saya manusia, slalu aja ngeluh hehe

*foto lari dibawah terik di udara summer (pertama) saya disini*