Saturday, January 27, 2018

Ternyata Sarkoma: Apricity (part 3-habis)


Apricity. Sebuah kata yang saya baru tau. Padahal sudah merasakannya sejak mengalami 3 musim dingin disini. Kehangatan yang menyamankan dari matahari di suhu dingin (yaaa kira kira 0 drajat selsius plus minus 10 lah ya).

Seperti sering kita bahas dan dunia bahas, bahwa nilai dari sesuatu itu menjadi sungguh berlipat jika berada saat atau di luar zona nyaman. seperti 'apricity' tadi.

Saat saya menulis ini adalah saat sudah hampir dua bulan setelah operasi utama pengangkatan fibrosarkom di tulang belakang saya. dan sampai bulan depan saya pun harus menggunakan korset khusus. (korset dipakai untuk menyangga gerakan leher saya karna terdapat plat yang ditanam di antara sumbu tulang belakang leher dan dada). InsyaAllah kalau hasil CT akhir bulan depan baik, tulang sudah menyambung, maka sayapun boleh lepas korset itu.

Walaupun terlihat seperti superhero saat memakainya, tentu tidak senyaman orang normal. Alhamdulillah lingkungan saya disini sangat "okay" untuk manusia dengan disabilitas seperti saya (insyaAllah sementara), coba pakai sehari-hari di Indonesia tercinta, saya akan lelah menjelaskan kepada lingkungan saya yang sayang dan perhatiannya bukan main, hehehehehehhehehehehe
ga dink, ga tau juga,,

................

Banyak hal yang saya dapat dari perjalanan terapi saya kemarin. Saya dirawat di rumah sakit kurang lebih 37 hari. dua kali operasi (yang kedua karna re-open karna curiga infeksi, Alhamdulillah nya ga kebukti sih). Jujur untuk operasi kedua pada hari natal itu saya sangat galau dan mungkin bisa dibilang stres, tapi puji sukur bisa melaluinya dengan lumayan sabar dan pasrah. (terimakasih sekali untuk pelukan dan pengertian nya ya, istri aku... ).

Banyak sekali sisi-sisi lain dari perawatan , terutama yang berhubungan dengan kenyamanan pasien. Simpel saja, soal selang infus (dan selang-selang lain seperti NGT, kateter, dan terutama Drain post operasi). Hubungannya bukan dengan kontrol nyeri saja, namun berhubungan dengan mobilitas pasien, higienitas (pake banyak selang = tidak mandi ), lalu tentang siklus toilet pasien seperti pipis dan BAB (paling nyaman ya pasien bisa BAB dan bersih-bersih sendiri di kamar mandi, kan dari kecil BAK-BAB ini hal privat), siklus tidur (misal jadwal nyala-mati lampu kamar rawat, pasien itu sakit dan umumnya butuh istirahat lebih berkualitas), dan sampai hal hal lain yang mempengaruhi kualitas hidup pasien saat dirawat. Jujur selama jadi dokter dan merawat, saya sering skip pada hal-hal diatas, saya percaya sebagian besar dokter juga ga ada yang perfect dalam memperhatikan detail perawatan pasien di rumah sakit.

Percaya, hal-hal kecil yang berhubungan dengan kenyamanan pasien tadi, misal: lepas infus dan bisa mandi sendiri ke kamar mandi. adalah seperti apricity di puncak musim dingin. begitu besar pengaruhnya ke mental pasien. Setidaknya saya sendiri merasakan seperti itu.

Saya sudah lumayan lama bekerja di lingkungan tukang operasi -kasarannya begitu-, tapi dihadapkan dengan rangkaian-rangkaian terapi operasi (persiapan, bius total, bangun, nyeri fase akut, penyembuhan, dll dll dll) itu saja begitu perjuangan batin-nya. Apalagi orang awam (baca: orang diluar medis) yang ditakdirkan melewati rangkaian-rangkaian terapi untuk penyakitnya.

SALUT & RESPEK untuk semua pasien yang bisa , akan , sedang dan yang sudah melewati penyakit-terapi nya masing-masing. Kalian dan keluarga kalian benar-benar luar biasa.

Iya, memang (setiap) manusia sudah berjuang semenjak sperma yang berhasil lolos seleksi untuk membuahi, proses lahir, proses pendewasaan diri, dan smua perjuangan yang telah dan akan dilakukan dalam masalahnya masing-masing. Jadi bagi yang ga pernah dikasi penyakit tertentu, jangan berkecil hati, hehehehhe, pasti kalian juga pejuang yang hebat karna pasti pernah melalui masa-masa sulit, entah apalah itu.
Semua orang-orang besar dijamin pernah melalui mas sulit masing-masing.
-mario kamilguh-2018






Saturday, January 06, 2018

Ternyata Sarkoma: Fase Akut (part2)

Setiap menutup mata, selalu saja muncul halusinasi yang mirip seperti mimpi. Mirip, karena tidak sama, semua seperti bisa diatur awalnya , lalu berlanjut tanpa kontrol. Gambaran langit dengan ribuan bintang dengan latar belakang gelap malam, saya seperti penonton di tengah padang dengan ribuan api unggun, serigala-serigala yang bernyanyi menatap langit seolah menonton sirkus bintang-bintang yang menarikan irama yang juga hadir secara acak. Satu sisi saya membiarkan diri tenggelam dalam entah ketenangan atau kebinaran yang absurd itu. Playlist di gadget dengan lagu-lagu ambiens dan klasik dari gardikagigih dan akira kosemura saya mix begitu rupa untuk menadah khayal. Tanpa nyeri, tanpa terasa tersiksa panasnya luka-luka operasi 3 hari lalu. Tiba-tiba saya terbangun, ingin kencing, menengok jam yang ternyata baru 1-2jam dari terakhir saya melakukan hal ini, menekan tombol perawat untuk meminta tabung pispot , memiringkan tubuh sedikit, menahan kekakuan di leher-punggung atas, membuka celana sedikit dan kencing miring ke pispot, memanggil perawat lagi untuk mengambil kencing saya di tampungan itu, sambil menunggu selalu saya perhatikan warna dan volume kencing saya. Begitu saja terus sampai besoknya.. 

Hari itu malam hari ketiga setelah saya di operasi untuk kesekian kalinya. (Eh, baru empat kali denk). 

Iya, fase akut paska bedah adalah seperti neraka dunia. Puncak inflamasi terjadi sebagai respon tubuh terhadap manipulasi besar terhadap fisiologisnya. Pembuluh darah dan kapiler membesar, jantung memompa lebih giat, semua tentara sel darah dokerahkan untuk mengembalikan fungsi, berakibat medan perang di area luka operasi seperti membara demi kebaikan. Dengan efek samping ketidakberdayaan si empunya tubuh untuk membantu perang itu selesai cepat selain beristirahat penuh. Tanpa pilihan yang banyak untuk posisi istirahat. Pegal dimana-mana namun hanya bisa dibiarkan. Kontrol nyeri. Obat-obat bius saat operasi (terutama operasi panjang) yang masih tersisa dan menyebabkan daya hayal dan halusinasi.

Kali ini operasi saya adalah mengenai pengangkatan si tumor di punggung saya yang berukuran panjang 15cm-an, sedikit menginvasi bagian kecil beberapa tulang belakang, dan sedikit merasuki saluran sumsumnya. Tim dokter disini memutuskan untuk bertindak se-agresif mungkin, pertimbangannya saya ini nantinya akan bekerja aktif sebagai dokter bedah juga, masih muda dan petakilan. Maka untuk semua itu tiga ruas tulang belakang saya diambil sebagian (laminektomi v.th1-2-3) dan pemasangan cagak besi di dalam untuk menopangnya (stabilisasi dengan pedicle screw & rod), plus graft tulang dari iliaca. lalu supaya ruang kosong yang ditinggalkan tumor(dan otot disekitarnya yang ikut diambil) maka otot sayap saya sebelah kanan diputar ke tengah (rotational flap latissimus dorsi dex.)
Total 9 jam dari insisi sampai tutup lagi. Menginap di ICU dua malam (semalam ditidurkan), dan proses ekstubasi dan lepas-lepas selang lain yang saya sadar saat dilakukan, kepahitan-kepahitan yang seperti dejavu. Lebih ke ujian mental karena tidak cuma kali ini saya lalui.

Sebelum malam ketiga tadi, datangnya malam adalah sesuatu yang saya kurang suka, ngantuk sekali namun tak bisa tidur karna halusinasi dan ketidaknyananan super yang mengganggu, perasaan kepanasan dan kedinginan yang berganti dan serba salah,, ketenangan yang bisa didapat hanya beberapa saat setelah obat antinyeri masuk.. adaptasi yang terasa gagal secara mental. Namun saya secara sadar cuma berbekal percaya bahwa itu hanya sesaat, itu hanya fase sebentar, dan Alhamdulillah bisa melaluinya walau terasa babak belur secara perasaan, tapi itu langsung terhapus perasaan sukur yang saya bangun diparoh otak saya yang lain.

Iya, semua ini tergantung pikiran kita yang kita bisa kontrol walaupun tidak seluruhnya.

Cuma Alhamdulillah. =]




Wednesday, January 03, 2018

Ternyata Sarkoma (part1)


Got my (another) surgery last thursday. Not A surprise fo me n wife coz it planned well since we had Kai inside my wife’s uterus. Kai born-my diaphragm surgery (the metas one)- then my main spine tumor. 
But it’s really cool coz totally i have 3 big incision on body, 1 of them is 3 times like hattrick, and some small incisions (iliac graft, chest chube, blablabla..)
‘Cool’ because even i couldn’t take the negativity out of my cranium, they will be having a party every single night, but if i have a light even it small like a candle versus black big ocean. We can live with it. We can see everything brighter.

Yes I am young, and it happens, I am special, at least for me my wife, kiana n kai, also my family there, Spritually to keep hi-low relation to the God.
I have low grade fibro sarcoma. Means: cancer. Number one nontraumatic modern human killer. I have that molecular problem since 10 years ago based on the pathological review from the first op. I dont know how He changed the diagnosis i got before in that milisecond hehehe, Alhamdulillah.

Don’t worry i keep my candle here, i will do something to the human who got the feeling like me. Another research, another surgery (ofcourse as a surgeon, coz i am neurosurgeon wannabe =] ), another help to their heart singing, their family struggling. They will see the human being shudn’t lost. 

Maybe not a big thing, but i m promise it will brighter than the darkness nightmare .
The winter was begin. kagoshima , desember 14th, 2017.
( diunduh dari postingan iG di akun saya @kamilmoon_ )
———

Bulan Oktober kemarin, di bawah bayang langit cerah berwarna ungu kelabu itu (lebay ya),, saat itu si prof memanggil saya, untuk ngobrolin hasil diagnosis saya. Kaget? Ya iyalah..
Hasil pemeriksaan analisis jaringan tumor saya: tumor diafragma kemarin, tumor di punggung dan spine (hasil FN biopsi terbaru), dan review parafin block tumor punggung saya hasil operasi tahun 2006&2014 di Indonesia (yang sebelumnya diagnosis PA-nya adalah Neurofibroma):
“ Low Grade fibromyxoid sarcoma “
.......
Nama yang cukup buruk untuk diderita pada diri. Iya, sarkoma termasuk jenis kanker.
.......
Saya memang cukup terlatih untuk tidak panik, mungkin karna pengalaman-pengalaman seru saya saat koas dan residensi dahulu. Jadi ingat saat operasi kraniotomi evakuasi EDH temporobasal dahulu di tengah malam di OK IGD rs.Sutomo. Tiba-tiba ada darah mengalir vertikal seperti air mancur, lalu saya (sebagai operator) refleks menggunakan ujung jari telunjuk saya untuk menghentikan hal itu. Nafas. Lalu becandain asisten saya supaya dia tenang karna terlihat tercengang panik beberapa saat. Lalu baru mikir lanjutnya ngapain. Iya, apapun ga boleh panik.

Kembali ke laptop.
Saya bergegas menemukan literatur mengenai jenis tumor saya membaca dengan teliti, lalu baru diskusi dengan ibunya anak-anak dan dengan keluarga besar saya. Dari badai ini ternyata banyak banget yang bisa disukuri, karna jenis kanker yang ga terlalu agresif dan ganas, walau dengan angka rekurensi (kekambuhan) yang cukup tinggi dan penyebaran / metastasis yang cukup tinggi pula. Iya buktinya saya sendiri uda kambuh sampai operasi 3x di punggung dan satu kali di diafragma saya (metastasis). Jadi ya saya mirip-mirip anggap aja kaya anggotanya X-men yang punya kemampuan khusus ga bisa ngendaliin pertumbuhan tumor, hehehe..
InsyAllah harapan hidup saya besar secara biologis, dan sepertinya menjadi tantangan yang sangat seru untuk jalanin cerita hidup saya yang masih panjang ini.

Gondok dengan misdiagnosa penyakit saya sebelumnya? Ada sih sedikit. Tapi apa daya saya lupa caranya menyesal =]

We are all a fighter and love to fight, right?


(Gambar: sesaat sebelum masuk ruang operasi tumor punggung saya awal desember kemarin)

Saturday, October 07, 2017

Diafragma: salam supersaiya (3-habis ajalah ya..)

Kadang jika kita menutup mata dan membayangkan 'what if' ini dan 'what if' itu, semua hal bisa sangat berkebalikan, ada yang sangat bisa disukuri dan bisa jadi juga membuat satu sisi kita (sering) tak sengaja negatif.

What if, saya hidup di keluarga yang berbeda, atau bagaimana jika saya punya istri Raisa. #halah

Semua sawang sinawang.

Tentu Cristiano Ronaldo kesal setengah mati, di level "pmain sepakbola pro yang jarang banget cedera", dia malah cedera saat final euro terakhir kemarin saat pertandingan baru jalan beberapa menit. Ya untungnya sih menang.. kalo kalah, bisa beda banget ceritanya, untuk dia, untuk banyak hal di dalam karirnya.

Mungkin Leonardo Davinci tak bakal se-Amazing itu jika dia dilahirkan saat perang dunia kedua, penemuan-penemuan pentingnya sudah ditemukan orang lain, dan dia mungkin cuma jadi tentara infanteri yang mati tertembak di perbatasan Sisilia. Atau LebronJames jika terlahir saat basket belum ditemukan, mungkin doi cuma jadi jagoan di pasar lokal di Acron.

Atau saya, jika lahir dengan tumor yang sama , bisa banget mati muda tiba-tiba tanpa makna jika hidup di peradaban tengah saat bekerja di ladang di jaman Majapahit.


Hehehe. Maaf analogi saya semrawut tanpa benang merah.


Semua hal adalah berharga. Termasuk fungsi fungsi 'sepele' tubuh seperti batuk, bersin, nafas dalam, dan bahkan tertawa. Iya, operasi yang saya lewatin kemarin membuat hal kecil diatas selalu disertai nyeri sangat. Alhamdulillah itu berangsur membaik seiring penyembuhan. Walaupun harus berdamai dengan ambang batas kesabaran diatas rerata (mungkin).

Semua mengenai zona nyaman, seperti pemuda yang akhirnya menghargai sebungkus nasi bebek di saat ga mungkin gampang dapetin itu saat rantau di negri orang. #curhatdulusayanya
Atau arti sebuah keluarga, orangtua, pekerjaan, dan lainnya yang menjadi berlipat-lipat nilainya setelah keluar dari zona nyaman itu. Sengaja atau tidak.

Mungkin pelari profesional atau amatiran, penghobi roadbike yang bisa dan punya waktu untuk nglakuin longride/longrun bakal lebih merasa waktu yang dia telah habiskan itu sangat-sangat berharga: jika dia cedera, atau jatuh dalam kondisi yang membuatnya dari nol lagi, atau bahkan terpaksa berhenti. Rasanya pasti frustasi sekali. 



Mungkin tak smua orang diberi kekuatan yang sama untuk menghadapi jarak yang jauh dengan zona nyaman tadi. Juga kemampuan menjadi ikhlas yang membutuhkan waktu lama atau sebentar, karna keluar dari zona nyaman itu bukan dalam kasus yang kita bisa memilih saja (untuk keluar, untuk mencari tantangan, dll) , tapi itu juga semacam hukum alam dan relatif, atau sebagian besar kita menyebutnya qadar.
Dan sebagaimana manusia standar, setinggi apapun ikhtiar/rekornya/supersaiya-nya, tetap saja adalah se-atom partikel hasil evolusi yang sama sekali tak berdaya. Kecil sekali.

--------------------------------------


Saya ingat sekali saat saya berulang kali memanggil perawat melalui tombol itu saat saya cuma mau ambil minum atau hanya meminta tolong merubah posisi badan saya di kasur(tentu saya melakukannya karena terpaksa, karna saya tidak berdaya untuk itu, saat itu). Disaat hari ketiga setelah operasi, saya dilatih untuk berdiri dan berjalan yang menjadi berdiri tersulit (dalam hidup saya, so far) karena post 3 hari cuma tidur di icu, atau hari ke 5 post operasi, saat saya (mulai) latihan berjalan dan bernafas dengan diafragma 'baru' saya, yang cuma menempuh 500meter (tapi) rasa 5km.
Pada akhirnya saya seperti ditampar karena menyadari semua hal kecil yang saya sering anggap sepele atau bahkan tidak kepikiran itu berharga, berhargaaaaaa sekali. 

Semoga saya tidak lupa semua kenikmatan ini, karna saya diberi qadar untuk keluar dari zona nyaman saya sebagai manusia normal, untuk diberi pemahaman bahwa semua hal , kluarga, teman, talenta apapun, batuk , bersin, ketawa, menelan, sendawa, berpikir, senang, sedih, nyeri, nyeri banget, pemahaman spiritual, cara menikmati langit, pringles, nasi bebek, nasi goreng pak Hadi, nasi goreng tek-tek lewat depan rumah, gojek, martabak telor, sepatu nike, internet, otot diafragma, dan smua smua smua smua smua (hehehe apalagi ya.. pokonya smua) itu berharga sangat tinggi.

SALAM SUPER


#termarioteguh


Gambar: asik nih karna kena sakit di rantau jadi dijengukin oma nya anak-anak.. hehe (baca: perbaikan gizi)

Sunday, September 24, 2017

Diafragma: mimpi (ter)buruk (part2,from3)

"hasbunallah wani'mal wakil ni'mal maula wani'nan nasir"
Adalah doa yang semalam sebelum operasi itu saya baru hapalkan. Doa untuk menikmati rasa nyeri. Yang terucap dalam ketidakberdayaan saya dimulai saat saya pelan pelan sadar di pagi itu. Tentu saya disorientasi sampai profesor Sato , ahli BTKV-sang operator, datang dan menyapa saya ohayou gozaimasu.
Tangan saya terikat , dan mulut saya tak berdaya akibat ada selang endotrakheal beserta ganjel-ganjelnya di dalam mulut saya, iya, saya masih terintubasi dan dalam proses ekstubasi. Lalu mungkin saya sedikit gelisah dan diberi obat supaya tenang karna saya ingat saya merasa sedikit teler sampai sadar penuh kembali saat tim dokter ICU melepas selang endotrakeal saya. Rasanya sakit sekali saat benda itu bergesek di dalam saluran nafas di dada saya terutama saat sekitar tenggorok (saat proses melepas selang). Saya pun disuruh batuk, tapi perih di luka oprasi saya (dada kiri) begitu nyelekit juga saat saya batuk. Saya ingat sekali dua kali saya merasa seperti tersedak, ada lendir besar di tenggorok saya yang sangat sulit keluar tapi saya pun sulit baruk karna terbatas nyeri. Sampai keringat dingin, walaupun berhasil pada akhirnya.

Saya sepenuhnya berorientasi baik sesaat setelah ekstubasi menyakitkan tersebut, karna itu pula ikatan saya dilepas. Saya bisa mengeluarkan suara walau serak dan pelan, dan masih ganjel di tenggorokan selang hidung-perut (NGT), kateter urin, 2 IV line, 1 Arterial Line, banyak kabel kabel monitor di sekujur badan saya, dan terutama 2 buah selang besar yang tertancap di dada kiri saya. Sangat jelas betul  semuanya di ingatan sampai saya menulis ini.
Walau terbatas gerak, saya langsung menemukan jam dinding yang kelihatan di kanan saya dan monitor di sedikit kiri belakang saya. Sayapun menemukan tombol penggerak kasur untuk mengelevasi kepala atau kaki saya.

Saya beri tahu untuk pembaca disini: orientasi baik dan kepahaman akan pengetahuan medis dan hampir smua hal di ICU adalah seperti kutukan jika diri sendiri yang dirawat di ICU. Sungguh.
 
Setiap detiknya saya bisa merasakan bahwa jam berputar sangat lambat karna diiringi rasa tidak nyaman oleh nyeri-posisi-selang-selang. Alhamdulillah si NGT & kateter di lepas setelah si tim bTkV datang visite pada sorenya, walau didahului drama plebhitis di sekitar Arterial line yang mau acc aff nya aja nunggu prawatnya nanya dokter jaganya, hadeeeeh , itu nyerinya ga nyaman banget..
Oya, jangan tanya rasanya saat aff NGT dan kateter urin. Jujur saya traumatik secara psikis untuk aff-aff ini.

Setelah diberi tahu bahwa saya akan menginap semalam lagi setelah itu di ICU untuk monitoring nafas saya, perut saya keroncongan, ya iyalah ya, itu selasa sore dan saya terakhir makan makanan padat minggu malem. Dan ironisnya jatah makan saya baru boleh diberi rabu pagi. (Artinya saya puasa makan minum , tentu dengan parenteral rehidration, selamat sekitar 50jam).
Perut saya lapar, lalu sangat menjadi lapar, lalu perut saya seperti sebah, tidak enak, lalu gas  seperti memenuhi perut saya, kentut banyak kali dan sendawa juga sering, TETAP TIDAK DIBERI MAKAN, mgkn memang kasus saya memang mengharuskan lambung tidak boleh terisi bahan padat selamat fase akut post op. Saya kolik pada tengah malam, saya meminta sejumput apapun untuk diisi ke lambung saya yang perih naik turun itu, akhirnya 1jam kemudian diberi obat untuk lambung 'saja'. Sekitar jam 3an saya merasa kolik yang mereda akibat obat tadi, datang lagi dengan kekuatan super. Mungkin saya adalah pasien ter-resek malam itu bagi perawat ICU karna setiap setengah jam saya memencet tombil panggil perawat untuk semua hal kecil. Bahkan saat subuh saya meronta-ronta kesakitan karna tidak kuat menahan semuanya hanya dengan diam. Jujur saat itu nyeri kolik perut saya mengalahkan nyeri oprasi saya. Malam yang buruk. Tanpa tidur seditik pun.

Dengan sangat pelan jam akhirnya menunjukkan pukul 7.55 saat makanan datang: sekotak kecil susu, stangkap roti tawar plus sesachet selai anggur, dan 1/3 pisang. JUJUR INI SARAPAN TERNIKMAT SEUMUR HIDUP SAYA. Walau sempat seperti tersedak saat awal makannya, karna pasti sistem tubuh saya kaget karna di tidurkan dengan terintubasi lebih dari 24 jam dan usus ini dipuasakan hampir 3hari.

Jam 10.30 hari rabu itu, saya dipindahkan ke ruang rawat saya. 
Lega rasanya saat kembali ke ruangan, 
Dengan operasi sebesar itu (terutama dalam hal resiko komplikasi), walau di tempat dengan sarana terdepan, rasa itu tetap ada: takut tidak kembali.

-------------------------------------------

Thoracotomy yang dilakukan terhadap saya membuat dada kiri saya terdapat bekas sayatan insisi sepanjang sekitar 15cm, tepat di Intercostal space 6, batas depan linea axilaris anterior , batas belakang linea scapularis lateral. Durante, ditemukan tumor kesan berasal dari diafragma (seperti DD awal preOp), diameter terbesar 10cm, putih, batas tegas, berbenjol-benjol ke superior dan ke inferior, batas ke lien dan paru mudah dilepaskan dengan peritoneum dan pleura yang intak. Dilakukan wide eksisi dengan defek eksisi tumor di ganti dengan artifisial mesh (gore-tex) dan dijahit sangat erat dengan tepi diafragma yang masi ada (Alhamdulillah bagian otot diafragma kiri saya katanya sbagian besar masi utuh), terdapat sedikit kesulitan karna tumor sedikit 'mepet' ke posterior dan mengakibatkan ikatan mesh ke bagian posterior tidak mudah.
Lalu operasi dilanjut eksisi nodul di bagian apical dari lobus inferior paru kiri saya, yang diduga tumor juga. 
Sekiranya begitu yang saya simpulkan sendiri dari laporan tim oprasi ke saya.
Lama oprasi sekitar 6jam (tepatnya saya ga tau).

--------------------------

Saat menulis ini saya sudah H+14 post operasi. Kemarin saya discharge dari rumah sakit dengan kondisi Alhamdulilah terlihat seperti orang normal. Hehehehhe
Maaf tulisannya mungkin ringkas kali ini, jujur masih meninggalkan trauma jika diingat detail.

Oya, masi ada part 3 ya setelah ini.. hehe..

#keterangan gambar: luka op saya sesaat setalah lepas chest tube..

Saturday, September 16, 2017

Diafragma: Kejutan (part1)

Kali ini , lanjutan dari sekuel pngalaman saya sebagai penderita neurofibromatosis pada post-post saya sebelum ini, (ya kali pada baca ya hehe)

Ada kejutan yang cukup membuat saya menyadari bahwa selama ini ada teman yang tumbuh dalam diri saya yang seperti 'diam diam'. Setelah menjalani pemeriksaan PET-Scan, semacam imaging ct-scan tapi ini ke seluruh tubuh memakai indikator FDG (gula) untuk menskrining "keganasan" atau tumor lain yang bisa muncul di setiap bagian tubuh. Berguna untuk keganasan dan penyebarannya atau yang kaya saya (harapannya) jinak tapi bisa dimana-mana.
Dokter Radiologi yang menjelaskan kepada saya bahwa ada tumor di atas limpa (lien) saya. Cukup besar, dan ada efusi pleura.
Iyalah, saya kaget, galau, mbuh opo lah ngono rasane, tapi uda bisa biasa aja langsung sih setelah menenggak espreso warung kopi voila yang terletak dekat dengan tempat PET Scan tersebut.

Ada sedikit kecewa namun langsung memaafkan dan maklum, bahwa setelah dicek, hasil ct scan saya tahun lalu dan MRI yang saya lakukan sebelum PET Scan tadi , ternyata sudah ada. They didn't even mention it on radiologic review. Saya juga sering melakukan kesalahan yang sama saat bekerja sebagai ppds di surabaya dan saat jadi dokter umum dulu. Tidak melihat secara komperhensif. Rada takjub juga sih dokter disini juga bisa melakukan 'skip' yang sama. Not a mistake, though.

Saya pulang kerumah, ngobrol sama istri, memikirkannya beberapa hari, menghubungi kerabat di indonesia yang sudah ahli bedah (umum) dan bedah thorax (karna efusi), mencari sejumalah case report dan jurnal, juga dengan sensei di bedahsaraf yang seharusnya akan melakukan oprasi tumor saya yang di punggung. Semua setuju menunda yang punggung demi sesuatu yang lebih mengancam jiwa saya. Alhamdulillah akses saya di fasilitas medis disini sangat enak, jadi bisa mikir sendiri tanpa nyusahin temen-temen lain. Untuk disisi ini, pengetahuan saya membantu. Dengan pemeriksaan lanjutan yang dilakukan, kesimpulan terakhir adalah tumor ada di diafragma. Memebesar menekan lien ke bawah, dan paru keatas, karna ukuran yang membesar makanya terjadi gangguan gerak sebagian diafragma saya. Pelan, kronis, dan pada satu titik saya menyadari bahwa sejak sekitar bulan puasa, nafas saya ga bisa spanjang biasanya saat tadarusan, slanjutnya penurunan performa saya dalam hal lari dan spedaan. Kalo diterusin mungkin juga akan ganggu aktifitas sehari-hari.
Dan kalo dipikir lagi dengan ukuran lebar 10cm-an tersebut, jika memang venar jinak, itu uda mulai muncul sejak 5-10tahun lalu.. hmmm...

Persiapan lain dilakukan bebarengan kerja semirodi untuk research saya yang sudah tinggal dikit selse, hehe.. diantara ga boleh kecapean dan tekanan prioritas studi.

Satu lagi yang skali lagi sangat membuat semangat sembuh satu sisi, tapi kudu sama-sama ngelewatin masa sulit dikala saya oprasi dan pemulihan: istri dan anak-anak.

Oke.. nanti lanjut episode dua yaa hehe
*keterangan gambar: anatomi diafragma (grab random via google)