Saturday, June 03, 2017

Si kecil Kai

Yes, Minggu ke 40 dari prakiraan lahir (secara teori), jatuh pada 11 Mei kemarin. Kehamilan istri saya setelah belum segenap satu tahun usia si Kiana, anak pertama kami.
Kalo kata seorang temen saya disini: anaknya belum bisa merangkak ayahnya "mrangkak" duluan hihihi. Rasanya bersukur sekali jika mengingat saat pertama tahu, walau jujur saya dan istri sempat kaget karna ini terlalu 'nyundul' si Kiana. Tapi kami secara naluri langsung ikhlas menikmatinya. Rasanya ingin slalu memeluk istri untuk menemani sukaduka kehamilannya. Iya, di perantauan ini pasti ga se-enak di tanah air untuk menghadapi kehamilan dan proses kelahirannya. Iya sih semua-mua teratur/jelas/terjamin dll dll di negara yang sangat maju ini, tapi pasti tau lah ada barier enak-ga enak nya kalo jauh dari 'rumah'.

Iya, intinya saya pun tersiksa setiap istri yang mengalami proses yang Subhanallah sekali sejak awal hamil sampai melahirkan. Kalo ada pilihan saya ikut merasakannya tentu saja saya rela. ( #respect sama setiap wanita dan ibu umat manusia ) 
Sedikit lebay, saya pun memikirkan istri yang begitu hebat ini ( : hamil besar dan ngemong kiana yang masih todler awal ini bersamaan,) saat saya menyelesaikan fullmarathon pertama saya yang begitu suffer itu bulan maret lalu. Karna itu ga ada seujung jari perjuangan doi.

Di Jepang ini, negara maju yang punya masalah menurunnya populasi, sama seperti negara maju lainnya: negara sangat sangat sangat (kalo bisa diulang 1000x) menunjang warganya atau warga asing yang akan memiliki anak di tanah jepang. Mulai dari sejak kehamilan (periksa khamilan gretongan), proses melahirkan (fasilitas nomor wahid, gretongan juga fulll gretongan anjis ga sih, malah dapet duit loh yaa ngrasa  aneh ya nglahirin dikasi duit banyak sama negara), sampai membesarkan anak setelah lahir (jaminan kesehatan full cover, plus tiap bulan dapet uang "susu" alias di gaji cash sampe usia smp) denger denger sih sekolah sampe lulus SmA juga gretong. 

Kembali lagi ke inti pembicaraan, namanya Kai Abduljabbar (kai: laut; abduljabbar: (hamba Allah) Tegas). Lahir pada Senin, 15 mei 2017, di rumahsakit universitas Kagoshima,pukul 15.47. Usia kehamilan 40minggu lebih 4 hari (dulu kiana 40minggu lebih 5hari) ,Normal spontan, BB lahir 3234gr, pj 49cm. apgar score 10-10-10 (mnurut saya). Jujur saya brebes mili saat melagukan azan di telinga kanannya sesaat setelah lahir. Rasa yang begitu campur aduk. Alhamdulillah.

Momen-momen saat ini akan menjadi cerita yang akan slalu kami ingat dan ceritakan pada generasi kami selanjutnya, betapa seorang ibu itu hebat. Susah sekali mendiskripsikan betapa kompleksnya fisik dan mental kami sejak subuh senin itu, impartu dimulai, ketuban bocor alus, kontraksi otot uterus yang mulai rutin, masuk ruangan bersalin langsung. Beda dengan di Indonesia, disini proses lahir normal dilakukan se-alami mungkin. Tanpa obat. Tanpa induksi medikamentosa alias 'cuma' monitoring standar dan kontinyu dari impartu itu. Menurut istri sih ini ampun dah sakitnya drpd yang pertama dulu,, lebih lama juga dari impartu sampai fase 3 (lahir plasenta). Hampir 12jam. Saya Alhamdulillah full menemani (dan juga ibu mertua yang datang sminggu sebelumnya), uniknya pihak medis dirumahsakit "besar" ini ga ada yang bisa bahasa enggris, hehe, jadi proses menemani kontraksi sampe memimpin mengejan seolah langsung oleh saya sendiri yang menjadi translator si dokter obsgyn dan bidan ke pasien. Untung banget ya kebetulan saya orang medis juga hehe, ga kebayang deh kalo posisi saya bukan orang medis dan barier bahasanya terlalu jauh.

Satu lagi hal besar yang kami harus hadapi, bahwa aturan protokol yang cukup strict dari pihak rumahsakit bahwa sang ibu dan bayi lahir normal harus rawat inap selama 5 hari post melahirkan. Tanpa boleh ada yang menemani menginap di rumahsakit dan tidak boleh ada anak dibawah 6 taun yang menjenguk. Alias Kiana ga boleh bertemu mamanya slama itu. Hal yang sangat wow terutama untuk mama kiana dan kiana, dan juga saya dan ibu mertua yang gantian megangin kiana dirumah. Sama-sama ikut sedih karna setiap hari, si Kiana yang belum 'mengerti' itu mencari mamanya saat berangkat dan pulang daycare, setiap malam selalu terlelap setelah lelah menangis, dll dll. Benar benar momen yang worth it sekali dengan kehadiran si Kai.
ada cerita.
=]

Selamat datang di atmosfer bumi ini, Kai. Nama mu adalah doa kami, filosofi yang akan kamu pahamin setiap saat nanti. Di dunia dengan percepatan perubahan peradaban begitu berbeda dengan saat ayahmamamu ini hadapin dulu. Apapun untuk kalian, Bulan dan laut kami. Kiana dan Kai =]

Monday, March 20, 2017

Kagoshima Marathon 2017: pre&post (PART2-END)

Saya jadi teringat saat saya mulai "terjun" ke hobi olahraga endurance. Memang olahraga adalah bagian penting hidup saya, walau cupu, saya tumbuh di lingkungan basket. Banyak prinsip dasar hidup yang saya dapet karena kesan yang dalam di perbasketan sejak saya SMP, terutama saat hidup saya basket banget saat SMA, lalu saat kuliah (walaupun ga ikut club lagi) tapi hampir tiap hari ke lapangan peleburan UNDiP buat main satu-dua game..

Setelah lulus menjadi dokter, rupanya tantangan hidup sedikit berbelok yaitu terutama mengenai waktu dan prioritas. Namun tetap, tidak bisa menggeser 'olahraga' dari prioritas utama hidup saya. Dan susah juga ya ngumpulin temen buat slalu main bareng, kan prioritas sendiri-sendiri dan berbeda. Walau basket juga masih banget jadi hobi, akhirnya lari dan sepeda jadi pilihan hobi. 

Tepatnya sekitar 2010-2011an, selalu menjadi fase terindah saat saya membeli sepeda balap seadanya ( total 4juta rupiah, tabungan hasil jualan kaos manusia-kamil, dari cuma nyepeda ke cfd sampe keliling semarang) dan pertama ikut event lari 10k. Adalah Adidas King Of The Road (KOTR), di Ancol september 2011, ga pernah latian lari, diajak temen, pake clana basket, 56menit, dan tentu setelah lari badan saya kaku sampai seminggu berjalan kaya wayang kulit. Tapi justru itu jadi tonggak.

Jujur, pace saya ga pernah lebih baik dari pertama saya lari sampe skrg. Tapi (berhasil) 'konsisten' sampai titik sekarang, dan sepertinya jantung saya juga lebih baik dibanding sebelumnya. Terutama, walaupun berat badan (sebagai indikator paling simpel), sejak saya SmA sampai titik ini (15tahunan) 'cuma' naik ga sampe 10kg. Hehe masih jelek sih ya ini, tapi kalo misal ga olahraga rutin, kayanya saya ga bakal bisa makan se-enaknya dan meng-gendut (seperti orang-orang di lingkungan saya). Tapini insyaAllah target mau BB ideal lagi lah ya besok besok (masi susah nih ngatur selera makan hehehhe)
.........................................................................

Ada barier seperti tembok raksasa mengenai limitasi saya sebagai pelari. Walau konsisten, saya cuma lari 10-15km per minggu, alias sebulan sekitar 50km, staun juga sekitar 600km saja. Paling jauh longrun 10km, ga lebih. Saya selalu menikmati detilnya, saat lari dan bersepeda. Udara, angin, matahari, hujan, gesekan aspal, bangunan, dan terutama alam, saya yakin sbagian besar penghobi olahraga endurance tahu prasaan itu. Dan merupakan naluri yang wajar tentang  kebutuhan akan tantangan lain. Kali ini tentang full marathon. 42,195kilometer.

Beruntung saya tau dan kenal beberapa teman yang menginspirasi saat yang tepat. Kali ini kakak-kakak di grup sepeda dokter bedah di whatsapp ( www.yscc.web.id). Ada salah satu kakak saya yang sebelumnya berkutat di kehidupan yang termasuk sedentary life, lalu saat ini bertransformasi, dan menggunakan acuan cardiobased training. Saya langsung 'fallin in lope' dengan konsep tersebut. Dan setelah ngobrol dalem sama beliau dan lanjut menjadi acuan saya untuk percaya diri menembus barier saya sebagai pelari yang sudah lama lari tapi masih virgin full M! Kagoshima Marathon 2017. Saya punya 4 bulan untuk persiapannya.
.........................................................................

Investasi pertama saya adalah membeli heart rate monitor. Pilihan saya jatuh ke sportwatch type m200 polar. (Maklum lah budget minimal), dan membuat program yang tersedia di website polar, cardiobased training. Walaupun akhirnya saya cuma memenuhi 60% saja programnya, ini sangat penting bagu keberhasilan saya di event full marathon kemarin.

Dan satu pelajaran lagi, konsisten itu sangat tidak mudah. (Padahal program latian saya buat simpel banget loh ya.. lawong target saya cuma 'finish' dibawah cutting time)
.......................................................................

Seperti yang saya tulis di postingan saya bulan januari lalu tentang 'musibah' di daerah anus saya. Hehe.
Iya, selama bulan januari saya skip latihan, karna kesembuhan luka oprasi-nya menuntut saya total istirahat. Bukan hanya itu, pada bulan febuari sampai h-satu minggu, saya masih menggunakan semacam pad/tampon di pantat saya karna luka masi basah. (Penyembuhan luka oprasi fistula-nya membutuhkan waktu minimal 6-8minggu).

Alhamdulillah saya jadi tahu, rasanya frustasi. Persiapan yang saya bangun sebelumnya, sperti cuma-cuma. Betapa menderitanya para atlet yang terpaksa bersabar cederanya sembuh, apalagi yang kehilangan kariernya karna cedera parah.

Iya, saya juga frustasi, bahkan berjalan biasa saja rasanya sakit dan 'terbatas'.  Hal ini pun bersamaan dengan puncak musim dingin. Nyambung-gak nyambung, rangkaian itu menjadi satu hal yang dramatis di persiapan full-marathon pertama saya. Karna memang cuma itu yang ada di pikiran saya.
........................................................................

Kesimpulan yang saya dapati setelah fm kemarin:

Transformasi dari short-mid distance fun runner pace 5-6min/km HR (selalu zona 3-4), menjadi long-distance runner (lover) & fun runner pace 7-8min/km (hr zone 2-3).
Menyenangkan.
.........................................................................

Okey, kemarin fm pertama saya, alhamdulillah finish , enjoy while & after running. Next project: join full marathon event (one) every year until my age is 50. Itu artinya saya bakal punya 20 medali insyaAllah. Dan ga muluk muluk lah, tujuan personal best saya 5 jam, 10tahun lagi. =]
InsyaAllah insyaAllah

Friday, March 10, 2017

Kagoshima marathon 2017: durante (PART1)

7kilo lagi.
Kesunyian sangat terasa di titik itu, sudah sekitar 5 jam-an (entah berapa tepatnya) saya ada di dalam event full marathon pertama saya. Sebuah hal besar bagi seorang saya, sudah mulai 'lari' 4 tahun sebelumnya, rutin (disamping bersepeda), hidup di lingkungan (terutama teman sosmed) yang bahkan sudah finish beberapa kali fm padahal baru 1-2tahun mulai lari). Barier mental yang akhirnya saya tembus di usia saya yang sudah kepala 3 ini. Lumayan lah ya..

Check point kilometer 35, terhampar pemandangan laut dan kaki gunung sakurajima di sebrang sana. Iya, kaki saja karna hampir semua tertutup awan tebal sejak malam sebelumnya, gerimis dan hujan bergantian tanpa mengijinkan sinar matahari bebas menerpa para pelari. Angin yang biasanya bertiup dari utara kini berkhianat karna seperti datang dari mana-mana. Bukit bukit indah yang ditutupi kabut di sisi kanan, dan jalan raya sebagai jalur kami yang kelihatan legam paduan aspal dan genangan. Mungkin untuk sebuah event marathon pertama, kondisi cuaca buruk adalah sangat diluar ekspektasi.

Mungkin saya rombongan yang trakhir-trakhir di titik itu dari total hampir 10.000 peserta, (kalo dilihat dari sertifikat setelah finish, saya urutan 6600an) cuma segelintir yang masih 'lari' termasuk saya, semuanya berjalan sambil hanya konsen pada nafasnya. Kelam. Betapa hebatnya para penonton yang masih saja ada di setiap 1-2km sambil memberi semangat ke semua pelari yang lewat. Begitupula para volunteer yang memakai jaket panitia yang tetap berdiri kedinginan di pos mereka. Paling tidak kami ini ada kesamaan, kehujanan dan kedinginan.

Di kilometer 30, sportwatch polar m200 saya tiba-tiba lowbat dan secara otomatis menonaktifkan gps dan hrm-nya. Artinya saya uda ga tau pace saya brapa, hr saya brp, uda brapa persen saya lari (saya pakai %  jarak kali ini). Yaa memang ekonomis sih itu sportwatch, jadinya ya maklum deh ya erornya cepet, tapi kok ya pas event to ya... hadeeeh). Tujuan saya kali ini cuma 3, niru om muramaki di buku "what i talk about when i talk about running" yang lebih mirip atobionya doi soal dirinya dan hobinya: pass the finish line, keep running not walking, enjoy the event.

Alhamdulillah saya berhasil memenuhi 3 itu.
Dan di kilometer terakhir saya bisa naikin pace sampe 7. Finish dengan senyuman, karna memang benar-benar bahagia saya bisa menyelesaikan 42,195 km dengan berlari, tanpa berjalan, dan menikmati setiap detil moment-nya. Tanpa kram, tanpa kelaparan, tanpa kehabisan nafas.6jam30menit (nett 6jam2menit) 


Sampai km30(sebelum jam saya mati) tercatat hr saya 150an terus (zona3 latihan), pace sampai sebelum berhenti pipis (yang ke 5) dan lutut kanan dan kedua angkle saya mulai nyeri (lebih ke fatigue) saya bjsa jaga di sekitar 8-8.30. Setelah itu kayanya pece saya 9 sih hehe.. selain godaan untuk pace terlalu cepat pada kilometer pertama setelah start, saat semua orang dengan semangat mulai berlari, godaan untuk jalan muncul terus terutama setelah km 35, tapi Alhamdulillah saya nahan diri =]
Maintanance untuk hidrasi dan balans elektrolit saya jaga dengan minum air dan sportdrink 100-200cc setiap waterstop, makan pisang di foodstation tiap 10km, juga saya lahap gel carbohidrat setiap 10km dan 5km trakhir. 
Justru masalah paling besar kmrn yang diluar estimasi adalah toilet time. Entah kenapa, diluar kbiasaan tubuh saya, saya sering skali pipis. (Sebelum start aja saya pipis 2kali). Mungkin kaitannya dengan suhu dingin dan hujan (realfeel sekitar 5-10celsius). Dan bukan saya saja sepertinya, karna semua titik yang disediakan toilet, terlihat antrian yang paaaaaaaanjaaaaaaaaaaang. Di catatan jam saya (dan 10km trakhir pakai nikerunning stelah jam mati) waktu aktif lari saya adalah 5 jam 56 menit. Berarti kalo 5 kali antri pipis, saya rata rata ngabisin 5menit setiap berhenti itu, dan tentunya bikin kacau adaptasi tubuh juga kehilangan momentum. Di sisi lain, saya memang perlu ngitung secara cermat rehidrasi saya, walaupun berhasil ga dehidrasi tapi kalo buang buang waktu karna overbalans juga ga asik.


Wah, panjang juga ya cerita saya, hehe
Oke saya lanjut ke tulisan lain tentang kisah persiapan dan post race-nya yaaaa

Wednesday, March 01, 2017

Soal mimpi

Tentang bermimpi dan cita-cita(dunia), kiranya akan saya bebaskan kepada generasi penerus saya. iya, setelah berkeluarga dan melihat perkembangan si kecil, secara naluri saya menaruh harapan dia akan menjadi apa saat nanti sudah dewasa. Tapi beneran ga mau itu menjadi batasan. Soal penanaman nilai nilai hidup, agama, tentu saya dan istri memiliki pandangan (yang normal pula) untuknya, tapi ini mengenai cita cita yang spesifik. 

Mungkin orang tua si pendiri gojek (atau transportasi online lain) tak pernah berpikir anak mereka , bahkan cenderung agar anak mereka tidak menjadi sekedar pengelola sopir speda motor, jika itu menjadi cita-cita si anak sejak kecil. Begitu juga si pendir-pendiri  usaha online / sosial media global saat ini , saya yakin saat kecil mereka bahkan ga pernah ngebayangin apa yang mreka dirikan.

Dunia ini dinamis, berubah setiap rotasi dan revolusi bumi. Di bidang saya, bedah saraf, mungkin saat saya masuk kuliah medis dahulu, sama sekali ga ada bayangan akan terjun ke hal hal yang berbau molekuler. Masih jelas di ingatan saya saat pilihan belajar bedah saraf atau bedah ortopedi ada di hati saya sebelum akhirnya memutuskan blajar otak. Dan masih jelas juga saat berangkat belajar kemari, saya masih membayangkan saat pulang nanti akan menjadi ahli pembuluh darah otak.
Dan akhirnya ninggalin cita-cita trakhir itu untuk lebih mendalami bidang molekuler untuk keganasan. Pelan-pelan saya mencintai itu.

Kadang kita semacam kaget atau menaruh kedalam hati kata-kata ungkapan diri sendiri yang terucap. Pernah suatu saat saya siratkan kepada istri saya saat pillowtalk, "menjadi apapun kelak nanti, aku cuma yakin satu hal: bahwa ada hal besar yang menunggu aku di depan."
saya sendiri menjadikan ini sbagai salah satu kalimat motivasi diri sendiri, dan sudah tersurat sejak dulu, contoh pas lulus s1, trus sumpah dokter, masuk residensi, meski saya bersukur sekali bisa melewati tahap-tahap tadi, tapi rasanya saya ga ada bangga-bangganya sama diri sendiri, sangat menganggap perayaaannya berlebihan, ngrasa ga pantas diucapkan selamat, istilahnya itu semua ga ada spesialnya gitu heheheh, mgkn lebih ngrasa spesial dapet medali fm pertama saya nanti hehehehehehhehehehehe



Saya selalu exciting dengan masa depan, untuk karier saya, terlalu banyak yang saya khayalkan sejak dulu, terlalu banyak inspirasi yang saya temui di setiap mata saya memandang, telinga saya mendengar. Ilustrator medis dan bikin buku, menolong komunitas penderita kanker dan menjadikan mereka keluarga, ikut membuat pondasi sistem di tempat bakti saya nanti, banyak hal, banyak, dan yang paling penting, bisa menjaga konsistensi dalam passion saya yang lain seperti sepeda dan lari, dan terutama, tidak kehilangan waktu dengan keluarga dan akherat. Duh banyak banget yak, kayanya 24jam ga cukup hehehe
Orang bilang kalo cita-cita ketinggian kalo jatuh terjun malah bikin lebih sakit, jadi yang realistis aja, ,,,,,,, iya terserah sih ya semua ini ungkapan-ungkapan general yang ga ada garis batas jelasnya, setiap individu cuma dibatasi imaji dan khayalannya, caranya mengelola rasa ihklas terhadap semua hal, caranya memilih senyum atau sedih jika diri sendiri dikasi ujian sama yang Kuasa, cara lobus limbiknya merespon lingkungannya, caranya adaptasi di setiap perbedaan.


Btw, buat kiana dan brother K -nya nanti, jadi apapun kalian nanti, TERSERAH.
=D

 

Friday, January 20, 2017

Mr.Nyeri

Hai kawan, saat menulis ini sudah 2 minggu post operasi pngangkatan hemoroid dan kantung abses di an*s saya hehehe
Ada ada aja ya pnyakit saya, Alhamdulillah slalu dikasi ingat sama Pemilik saya =]

Sekilas mengenai 'nyeri'.

Secara ilmu patofisiologi medis, rasa nyeri berarti sebuah diskripsi berdasar pengalaman hidup yang sangat subjektif dari setiap individu terhadap sinyal yang diberikan tubuh yang secara umum disebabkan oleh kerusakan jaringan/proses aktifnya reseptor nyeri karna impuls tertentu. (ini pengertian berdasar pengetahuan saya pribadi, pas nulis ini kuota internet abis jadi ga bisa nyari sumber, hehehehe)

Rasa nyeri, secara antropologi, menimbulkan banyak gambaran yang dihubung-hubungkan dengan dewa kegelapan. Contoh saja konsep 'neraka' yang pertama muncul di mitologi Yunani, underworld adalah tempat yang penuh dengan kengerian, rasa sakit. Peradaban lain lalu memiliki konsep yang mirip mirip tentang dosa-siksaan-nyeri, pradaban mesir kuno memunculkan paham timbangan baik-jahat, dewa kematian, dll,,(kalo diceritain detil panjang banget, males). Jadi presepsi nyeri (karna siksaan) adalah yang membuat spesies manusia menghindari hal-hal yang dianggap negatif, hidup dengan luhur, kalo bisa tanpa nyeri sampai abadi setelah mati. Dan sebagian penemuan manusia, mungkin sepertiganya adalah di bidang medis, penyakit adalah sepaket dengan kehidupan, dan adalah rasa nyeri sebagai indikator. Ribuan tahun terus berkembang, dan membuat rasa 'nyeri' adalah sesuatu yang sangat ber-jasa pada perkembangan peradaban (yang menurut saya) diatas perasaan lain seperti rasa senang, atau rasa asin. 

.....

Tubuh adalah kumpulan organ yang tersusun dari jaringan yang kompleks. Satu kesatuan dan komperhensif, jika ada sesuatu yang diluar proses fisiologis, maka akan berakibat respon untuk menjadikannya se-fisiologis mungkin. Prosesnya yang membuat rasa nyeri muncul, hampir bisa dikatakan derajat nyeri sebanding dengan derajat 'kerusakan' yang timbul baik dalam proses awal atau selanjutnya untuk kembali ke level fisiologis tadi. (walaupun rasa nyeri tergantung dari densitas reseptor nyeri di lokasinya, misal kulit wajah dan selangkangan yang tinggi daripada kulit bagian lain). Kerusakan tadi bisa sangat macam-macam, contohnya: hancurnya sel yang bukan karna proses apoptosis, tekanan tinggi yang menyebabkan perenggangan ikatan antar sel dilanjutkan oleh pernggangan kapiler berlanjut awal proses infark/kekurangan pasokan sirkulasi sel-nya. Hal hal tadi bisa sangat dihubung-hubungkan ke semua hal yang menimbulkan nyeri. Dan tubuh kita yang ajaib ini pun memiliki proses untuk mengontrol rasa nyeri tersebut, salahsatunya dengan pengecrotan endorfin / morfin endogen ke dalam sirkulasi tubuh jika nyeri sudah di ambang tertentu. Dan (hampir semua) terapi medis itu berdasar gejala dan tanda berupa rasa tidak nyaman, iya, berupa nyeri.

Bagaimana jika seorang tidak bisa merasakan nyeri? (*diluar proses medikasi anestesi atau kondisi iatrogenik tertentu). Bisa dipastikan tak ada kontrol terhadap dirinya, jika kita ambil contoh ekstrim: kaki diabetik, pada penderitanya, salah satu komplikasi kronis berupa neuropathy distal yaitu kemampuan sensorik di ujung tubuh (kaki) berkurang sampai hilang, menyebabkan luka di kaki yang tidak bisa sembuh sampai membusuk tanpa merasa apa apa selain mencium bau busuk pada kaki dirinya sendiri (kondisi ini diperparah vaskulopati dan imunodefisiensi, dan lain lain). Mungkin secara kasar bisa di analogikan dengan kondisi umum jika tak ada kontrol terhadap bayangan nyeri(hukuman) akibat dosa (misal) mungkin manusia biasa (seperti saya) enak aja gitu ngelakuin hal negatif, bebas sampai melanggar norma apapun. Baik , ini salah satu contoh saja.
........

Baik, mungkin narasi diatas sangat melanglang tanpa tujuan. Kita ambil saja kesimpulannya. Untuk saya, nyeri adalah teman, seperti Kapten Tsubasa terhadap bola. Kita harus bisa akrab dengan nyeri, mengerti bahwa rasa 'nyeri' ini berperan besar terhadap sejarah, merupakan kontrol terhadap kehidupan, dan perlu banget dimengerti, obat pereda nyeri tidak boleh dibiasakan dikonsumsi alias harus sesuai indikasi ekstrim. Karna kalo dikit dikit ga nyaman tanpa dinikmati dulu langsung konsumsi obat anti nyeri lalu ngrasa enakan, niscaya hal tersebut lebih kepada efek placebo. (Hipotesa pribadi). Selain itu reseptor nyeri di setiap inci tubuh kita bakal berkurang fungsinya, hingga jika diberi kondisi nyeri yang 'beneran' nanti, reseptornya ga terlalu sensitif dan membutuhkan anti nyeri yang lebih tinggi tentu dengan paketan efek samping obat yang tinggi juga, jadinya ya ngrusak fisiologi tubuh. Oke kembali lagi, ambang nyeri setiap individu berbeda, tergantung pngalaman terhadapnya, bagaimana individu tersebut menikmati dan berhubungan baik dengan si mr.nyeri ini. 


Oke saya mulai gajelas karna mulai memanusiakan myeri, sebaiknya sekian dulu. 
Terimakasih =D


Wednesday, January 04, 2017

Kenapa kanker otak?

Rasanya sebagai dokter yang pengetahuannya sungguh dangkal, boleh juga kan ya share tentang kesehatan? 

Tulisan ini saya bikin saat duduk di ruang makan di rumahsakit khusus, maaf, penyakit daerah anus. Hehe Tadi pagi saya baru masuk kesini untuk rawat inap dalam rangka operasi pnyakit yang tiba tiba muncul dan demi kelancaran jadwal studi dan terutama jadwal event full marathon saya (dua bulan lagi), walaupun tidak terlalu mengganggu, saya putuskan untuk di terapi operasi karna ada resiko penyakit bertambah parah jika dibiarkan. Pengalaman ter-akward yang pernah saya alami selama ini ketika bukan hanya di RT (rectal toucher), tapi di USG intra rectal alias ada alat probe yang dimasukkan ke lubang saya, anjay. Dan tadi pagi si prawat (standar) cantik, mencukur rambut di sekitar lubang saya itu. Hahahhahahahahahaha 

Semoga ini terjadi skali aja seumur hidup saya, dan ini sangat berarti bagi saya sbagai dokter umum yang pasti pernah memeriksa RT ke pasien. Betapa hebatnya pasien yang bisa 'rileks' saat diituin. #respect

Iya, kesehatan adalah salah satu nikmat yang paling yahud diberikan Sang Pemberinya. Dan bukan hanya pada diri, tapi pada keluarga atau orang dekat yang pasti kena dampaknya jika kesehatan terganggu, jadi secara naluri, manusia normal harusnya jaga diri(kesehatan). Dan caranya itu tergantung pemahaman individu terhadapnya, ada yang seperti saya, jaga output input psikis natural tanpa suplemen apalagi obat. Ada juga yang punya pemahaman: sehat itu ya minum suplemen semaksimal mugkin, dan ga boleh ada gejala apapun di tubuh alias dikit dikit ngobat, dilemari rumahnya pasti penuh dengan pil dan macem macem macem macem obat yang seperti di stok. Ada juga yang tipe, nanti aja deh jaganya, belum sakit ini, misal para perokok yang dalam hatinya selalu tersirat "mulai besok saya berhenti". Terserah sih.. =]

Alangkah bersukurnya ketika hobi seorang berkaitan erat bukan hanya dengan kesehatan mental tapi juga jasmani. (Kebetulan menimpa saya), tapi apakah hobi olahraga sepenuhnya karna ingin sehat? Tentu saja tidak, hobi berhubungan dengan keegoisan manusia untuk sekedar merasa puas secara psikis, jika tak percaya monggo tanya aja yang pada ekstrim lari/speda/atlet, mereka pasti ga cuma nyari sehat tapi nyari titik kenyamanan diri setelah mencapai kenikmatan khusus saat melakukan hobi itu. *Hehe ini kok tulisannya ga ngarah gini ya*

Saya sendiri sejak kecil akrab dengan penyakit. Saat Sekolah menengah pertama, mata kiri saya terkena koroiditis karna parasit toxoplasma, terapi 6 bulan obat plus berakibat kecacatan lanjut mata kiri saya. Pas itu sempet drop secara mental karna awal mata kiri cacat sempat ga bisa main basket, sekolah mata satu dan pesimis tentang cita cita saya sbagai scientist (ciee kamil). Tapi alhamdulillah, itu ga terlalu berpengaruh karna makula perifer di retina kiri saya beradaptasi dan saya malah diplot sbagi shooter di tim basket SMA juga tim inti di fakultas saya saat kuliah. Dan kegalauan sempat hadir lagi saat saya ikut seleksi sekolah spesialis bedahsaraf, tapi atas ke-objektifan dan kebijaksanaan tim seleksi saya akhirnya lolos untuk mengambil sekolah itu, walaupun saya cacat seperti itu. *susah dijelaskan*

Penyakit hebat saya yang lain, yaitu tumor yang selalu ada di bungkus saraf punggung saya. So far sudah dua kali operasi di tempat yang sama di level vertebra thioracal 2-3-4 , ramus posterior nervus spinalis sinistra saya (maaf pake bahasa latin, susah pake bahasa indonesia hehehe). Dan gejala itu muncul lagi blakangan ini, barusan terdiagnosis, insyaAllah kalo lancar saya akan naik meja operasi lagi pertengahan tahun ini untuk pengangkatan tumor yang sama (disisi yang beda). Kenapa tengah tahun dan bukan sekarang? Hmmm bukannya saya sok sok tahan dengan gejala nyeri yang menerpa lokasi tumornya, bukannya saya sok sombong tumornya ga akan kompresi sumsum tulang belakang saya sampai saya lumpuh, tapi ini karna prioritas lain (keluarga) dan secara medis masih bisa "ditunggu" untuk dioperasi lagi. Cuma butuh tahan aja nyerinya. Sekali lagi, saya anti obat, jadi nahan nyerinya ya pake nafas , ngeluarin endorfin (morfin endogen) secara optimal hehehe,
Trust me, it works 
*gaya bicara iklan L-Men*

Saya pun sudah bekerja sbagai klinisi (2008-2010 sebagai koas di RS.Kariadi semarang & 2011-2015 sebagai residen di RS.Sutomo surabaya), iya kira kira total 6tahun. Saya pun aliran yang mengakrabkan diri dengan pasien dan keluarganya. Mungkin karna pengalaman sendiri bahwa sakit itu bukan cuma individu si pnyakitan itu sendiri tapi juga keluarganya. Sepaket. Jadi tugas dokter pun adalah mengelola si pasien dan si keluarganya. #prinsip

Atas dasar itu pula, menjadi faktor keputusan saya untuk mendalami salah satu bagian kecil di bidang sekolah saya.
Satu waktu saat saya residen dahulu, pas saya jadi penanggung jawab poliklinik bdahsaraf, datanglah suami istri dari kota terdekat surabaya, membawa beberapa hasil mRI kepala sang pasien (si suami). Saat itu si suami "cuma" mengeluh pusing dan kalo ga salah masalah bicara (apasia motorik), MRI menunjukkan adanya gambaran keganasan. Saya secara pelan-pelan menerangkan kepada keluarga dan pasien secara konkrit sesuai kaidah edukasi secara medis. Saya kasih rujukan ke rumahsakit terdekat rumahnya, saya hubungi ahli bedahsaraf di rumahsakit tersebut lalu pasien pergi membawa entahlah itu solusi atau apapun yang pasti kenyataan bahwa si suami terjangkit kanker otak dan waktunya secara biologis tak lama walau diterapi maksimal. Kira kira 4-5 bulan setelahnya saya dapat sms dari si istri, saya lupa detilnya, intinya berisi: " terimakasih, benar kata dokter, suami saya sangat cepat buruknya dan meninggal sesuai prakiraan, tapi saya masih ga sangka secepat ini, bagaimana nasib saya dan anak anak saya selanjutnya saya masih belum tahu".
...
Sekilas isi smsnya cuma sebatas info ke saya, bahwa si pasien meninggal, bukan minta pertanggungjawaban saya, bukan minta saya untuk mengawini janda. Bahwa sms itu sungguh terlekat ke kepala saya bahwa, apa yang saya bisa lakukan untuk pasien lain seperti si suami tadi. 

Kanker adalah musuh utama di kehidupan antropologi homosapiens sabagai pengontrol populasi. Pnyakit yang tidak menular, tapi tidak bisa dicegah timbulnya, sangat acak, mematikan, cepat, ngobatinnya aja bikin si pasien dan keluarga, bahkan teman-teman dekatnya menderita. 

1 dari 5000 manusia secara data menderita kanker otak setiap tahun. (wHO) Kalo diitung estimasinya jika pasien itu meninggal setahun, maka di Indonesia yang penduduknya 250juta, maka setiap tahun ada 50.000 orang yang terjangkit lalu meninggal cepat di Indonesia. Kemungkinan kesembuhan: nihil. Harapan hidup dalam 5 tahun: rendah , itu pun dengan terapi lengkap (termodern), oprasi plus kemo plus radiasi *silahkan search sendiri tentang glioma, wikipedia aja uda lengkap banget, ini musuh sluruh dunia*

Di indonesia kita tercinta yang miskin data, se-pengalaman saya di lingkungan bedahsaraf saya, glioma (kanker otak primer) masih merupakan momok. Standar global yang mengharuskan diagnosis molekuler untuk terapi yang benar benar tepat supaya angka survival meningkat BELUM SAMA SEKALI bisa jalan di Indonesia. Ketahuan-oprasi-kemo-radiasi-sehat bbrp bulan-kambuh-mati/oprasi lagi. Knapa di Indonesia bisa begitu? Fasilitas ada, sistem bisa diusahakan, tinggal tenaga yang mau belajar 'lebih'. Kejar-kejaran. 

Iya, itu yang bikin saya memutuskan mendalami musuh itu, research saya selama 4tahunan disini. Lanjut mendalaminya terus di center bedahsaraf di indonesia. Demi pasien di Indonesia insyaAllah.

Doaken ya!