Saturday, October 01, 2011

Back to Basic!

Ilmu, iya, ilmu apa aja semua bakal berkembang (saya lagi ga ngomongin ilmu agama yaa), kebetulan saya bergelut di bidang yang secara global trus-trusan ngupdate ilmunya yang bahkan ngikutinnya aja perlu dedikasi tinggi. Mungkin juga begitu dengan ilmu lain.

Tapi tentu, pada dasarnya smua ilmu itu punya 'dasar'. Kaya Basket, gerakan gerakan dasar offense yang dirangkum di tripletreat(passing-dribbling-shooting). Ato di bidang saya sebagai dokter umum, ada anatomi, fisiologi, biokimia. Begitu juga di bidang-bidang yang spesialistis, pasti ada dasar yang menjadi fondasi perkembangannya.

So far saya perhatiin, dari rangkaian acara ilmiah yang barusan saya ikutin (seperti gambar diatas) atau ilmu yang saya curi dan dapat dari para guru saya, terdapat ke-khasan pada isi dari lecture atau kuliah mreka, saya nilai, bahwa semakin dalam ilmu mreka, justru ilmu dasar mereka muncul ke permukaan. Mungkin sulit ngejelasinnya, maksud saya mreka kliatan bener-bener 'megang' sama ilmu dasar mereka tanpa menghilangkan lagkah-langkah termaju sesuai perkembangan terkini. Terlihat jelas mereka sudah kbanyakan garam alias pengalaman membentuk mereka menjadi guru yang visioner dan paham akan apa yang mreka bagi.

Ada contoh ni, ada salah1 guru (terhebat) saya, prof.Arita. Ketika sedang mengajarkan tekhnik operasi pada murid-muridnya (dari beberapa negara), lalu ada yang menanyakan:
"professor, I've seen proffesor J... (saya lupa namanya, pokoknya profesor bdh srf legendaris Amerika) did this kind of operation by ...* metode. Why are u still teach us this metode, this is traditional thing?" (*: anggap aja metode keren)
"yeah right, Prof.J is genius, but I am lay person, so you are all now. And I just teach you what u can do after this without become genius person."
hmm, ngerti ga yang barusan, dia sebagai personal memegang teguh basic ilmunya padahal saya yakin dia nguasain ilmunya itu sampe tingkat tinggi. Dan sebagai guru, dia bukan pelit ilmu, tapi memberi dasar-dasar yang kuat pada muridnya.

hehe, omongan saya normatif banget ya..
Mari kuatkan basic, dan mari melaju menembus langit. =]

Tuesday, August 30, 2011

LEBARAN? CUMA TRADISI.

Slamat hari Raya Idul Fitri, taqobbalahuminnawaminkum (jujur saya ga tau artinya kalimat bahasa arab barusan)

Apapun, arti hari raya idul fitri ini, mnurut saya adalah yang paling besar di Indonesia, Momen momen kumpul keluarga dan banyak faktor lagi yang bikin hal itu. Semua pasti tau.

Solat Ied? sunnah yang uda rada berbelok jadi 'wajib' disini, sama kaya pake baju baru dan sungkem ke ortu, dan banyak tradisi lainnya yang uda ngarah ke 'wajib' alias kalo ga ngelakuin kaya ga sah aja gitu.. hehe.

Saya mo crita tentang tradisi keluarga saya yang dari saya lahir ga pernah ga solat ied di simpanglima. Sebuah cerminan solat Ied yang cuma dijadiin "BUDAYA".
Safnya campuram cowo dan cewe kaya di masjidil haram, sound-nya ga terlalu jelas buat lapangan se-gede itu. Salah siapa? mnurut saya salah PEMERINTAH. Disini, stau saya yang bertugas bikin panitianya itu pemerintah kota Semarang (memang mereka berpusat di mesjid Agung Semarang sih, tapi yang di simpang5 itu juga..). Panitia atau sebagai pengurus dari Solat Ied ini, mreka bertanggung jawab sama jamaahnya. Dan ratusan jamaah solat Ied di Simpang5 itu jadinya semaunya sendiri, solatnya gelar koran-sajadah sembarangan pokoknya di area simpang5, keliatan caos. Dan saya kira smua pada sadar kalo ini salah, ga bakal ditrima juga solat sunahnya, tapi kudu dilakuin biar krasa lebaran. Salah yang dikaprahin.

Dalam islam, (maaf saya ga kompeten buat nulis refrens dari Quran ato Hadist, tapi insyA beneran kok ini.. =] ), bila ada 2 orang, satu harus ditunjuk jadi pemimpin, untuk mengurus dan memimpin satunya, jamaahnya. Dan dalam islam juga diwajibkan beragama secara berjamaah, dan jamaah itu tanggung jawab pengurus/pemimpinnya. Simpelnya begitu. Contoh kecilnya mnurut saya kaya pengadaan solat ied gini.
Apa susahnya ya, pengurus solat Ied di Simpang5 ngerekrut bberapa orang, trus mreka jadi petugas buat ngarahin ratusan jemaah solat buat (minimal) bikin sof yang bener, ga terlalu susah kok menurut saya. Saya jamin kalo saya dikasi tanggung jawab itu, mislnya, insyA bisa banget ngatur itu.

yah, jatuh lagi ke kondisi ironis, ikut2, budi luhur sama tradisi keluarga sambil ngedumel dan nglakuin solat ied sekenanya biar mreka krasa lebaran ada saya. hehehehe

sekian buah rasa sebal saya mengenai tradisi Lebaran ini =]
Selamat hari raya.

Wednesday, August 17, 2011

17 Agustus dan 17 Romadon

Sebuah momen yang sejujurnya bikin saya rileks karena bersamaanya tanggal 17romadon dan 17Agustus (tau kan ya, tu diperingati sbagai hari apa aja?). Selain karena itu tanggal merah dan saya bisa tidur semau saya setelah saur (semenjak awal romadon tiap pagi saya magang di kariadi dan pada hari minggu saya kerja di Jepara, saya ga ada libur!)

Bulan puasa kali ini memang spesial buat saya sebagai orang yang dramatis dan slalu kepikiran realisasi mimpi. Iya, saya lagi di kejar mimpi, atau si mimpi itu bener bener ada beberapa jarak dari saya, smakin dan smakin dekat. Ini puasa di rumah bersama ortu sbagai anak yang belum berkeluarga sendiri untuk trakhir kali. Dengan asumsi semua bakal lancar, InsyAllah saya bakal pindah ke kota Surabaya pada sekitar Oktober-November ini, meninggalkan Semarang tercinta ini, setidaknya untuk sekolah 5-6tahun lamanya. Selain itu, saya juga kepengennya (yang ini masih negosisasi sama ortu) melamar mantan pacar saya, si Bunglon yang tak tau diri itu.. hehehe.. Doain semua lancar ya! (silahkan langsung mengengadahkan ke2tangan anda dan berdoa biar saya lancar skolah dan bisa nikah secepatnya. lalu usap wajah anda sembari Amiin) =]

Hari kemerdekaan kali ini begitu hambar bagi saya, sebagai rakyat negri ini. Saya jadi banyak tak se-acuh dulu mengenai sistem dan fakta2 berkaitan dengan Endonesa kita ini. berjuta-juta masalah. Saya banyak menghela nafas melihat kebobrokan mental dari ayah2 kita, kakak2 kita, teman2 kita, semua ada hubungan langsung dengan kita. Dari presiden, para DpR gelo, para pejabat daerah, PNS di depan matakepala sendiri, saudara kita di Papua yang serba salah karna kita salah (untuk ini mungkin saya bahas spesial kali lain), teman2 sejawat dan ga sejawat yang terjebak sistem, para adek2 dari Balita hingga dewasa yang dididik sebagai orang yang bermental 'payah'.
Bapak presiden sampai pejabat teras rumah gang saya, masih saya nilai bingung nentuin prioritas apa yang penting bagi negara, didukung polapikir masayarakat yang mengelu-elukan 'jabatan' padahal dibalik itu mreka dan kita smua slalu nggrundel. kita smua payah. Negara kita payah, mencintai tanah air dan slalu optimis seperti kutukan. Apa yang saya akan lakukan? sekarang, minimal saya tak acuh, esok saya masi punya banyak mimpi untuk negri ini. hehehe saya Mbeye banget yah (baca: normatif). 17 Agustus ini , bagi saya, datar dan tak berarti. maaf ya endonesa, hehe =]

Untuk Romadon ini, saya jadi lumayan paham akan arti kebersamaan akan keluarga, kakak saya udah ikut suaminya, jadi dirumah tinggal 4 orang, bersama nenek saya jadi 5. Selalu ada yang bisa diperbaiki dari hubungan setiap anggota keluarga saya, semua pada karakternya masing2, apapun, kami keluarga, slamanya. (pada ga ngerti ya? ya wis.. hehe)

Dan untuk puasa, dan ibadah2 lain, kali ini konsen saya di niat ibadah saya yang slalu aja terkotori, sadar ga sadar sih. Kita sebagai mahklukNya dikasi fitrah akan pertanyaan2 yg sbagian besar hanya tersirat di batin kita akan sisi religi, dan spertinya fitrah kita sbagai makhluk yang fleksibel ngebuat kita ngrasa slalu cukup akan pemenuhan kebutuhan jawaban2 atas pertanyaan2 dalam kita tentang hal tadi. Laknat banget tu si setan, ngebikin orang berpikirnya malah kebolak-balik, bener jadi ga bener, salah jadi bener, setengah2 jadi salah, kacau deh... contohnya nih, puasa dari subuh sape magrib itu, kita trakhir baca/blajar tatacaranya kapan? pas SD kan? ibadah beda sama cara jalan mausia, atau nyetir mobil, skali blajar langsug tambah lama tambah lihai dan ga perlu nilik basic lagi. Ibadah itu hal sensitif, tata caranya saklek, detil, ga fleksibel, ga bisa seenaknya, setan seneng banget nih main di area ini, nambah2in bid'ah lah, bisik2in biar dikurang2in lah, bla bla bla... Rosul blajar agama 25 taun, kita 6 taun, dan kita uda slalu ngrasa puas, cuma dengan siraman rohani (yang cuma bisa teriak "jamaaaaah ooooh jamaah" tanpa ngejelasin sumber hadis atau quran dan normatif kaya esbeye....)

dan..

Blajar agama? mana sempet lah! mending ngabisin waktu buat hobi n sekolah biar prestis di kemudian hari (di dunia, entah di akherat).. ya gak? hehe


Wednesday, July 13, 2011

gowes dewean Semarang-Jepara-Semarang (160km on the road)


Spontan muncul ide untuk perjalanan ini saat hari Minggu, 10 Juli 2011 kemaren dapet sms untuk tugas jaga malam di RS.Graha Jepara pada ari Senin malamnya. Senin pagi, sekitar pukul8.00, saya berangkat dari rumah. Saya sengaja tidak memili berangkat subuh karena sesuai pengalaman, pada saat mencapai pantura, saya bakal di am yang padat (pukul6-7-8).

Sesuai dengan estimasi, jalanan Semarang-Jepara lumayan lenggang, cuaca cerah, an itu mengakibatkan angin yang kencang sepanjang perjalanan. Saya jadi tambah paham dengan konsep 'aerodinamis' untuk semua kendaraan termasuk sepeda. Saya beristirahat sebanyak 2kali, yaitu di PomBensin sebelum Jalan lingkar luar Demak (30km dari rumah) dan di Masjid besar, Mayong (60km dari rumah) dengan masing masing istirahat selama 30 menit. Saya sampai di tempat tujuan saya (RS.Graha,1km dari alun-alun Jepara) pada pukul 12 siang. Lalu saya istirahat dan tugas jaga pada sift malamnya. Alhamdulillah pasien yang datang minim, sehingga saya bisa cukup istirahat untuk perjalanan pulang Jepara-Semarang pada keesokan harinya. Jarak 80km (tepatnya 79,6km) saya tempuh dengan mengayuh 2jam52menit, kecepatan rerata 27,6km/j.


Perjalanan pulang juga saya lakukan pada pukul 8.00. Entah kenapa badan saya terasa lebih segar, saya menempuh perjalanan nonstop sampai pombensin yang terletak sebelum jalan lingkar luar Demak (jarak 40km dari Jepara), lalu kembali mengayuh sampai pit stop ke-2 di pombensin depan Unisula (jarak 67km dari Jepara) dan setelah itu saya mnempuh tanjakan Jl.Rinjani dan terus langsung pulang kerumah. Total jarak Jepara-Semarang(rumah) sepanjang 82km, saya tempuh dengan mengayuh slama 3jam6menit, dengan kecepatan rerata 26,4km/jm. Pukul 12.10 saya sampai dirumah dan langsung mrebahkan diri secara damai di teras rumah, tidak berganti posisi selama 1 jam untuk menikmati penyiksaan diri indah ini. =]

Begitulah kira-kira cerita perjalanannya. Sebenarnya ada beberapa hal yang bikin rada awas dan mengurangi kenikmatan bersepeda (tidak) santai ke luar kota ini. Salah satunya adalah kendaraan-kendaraan besar, mobil, dan motor yang masih berekspektasi bahwa sepeda adalah kendaraan 'santai' yang selalu pelan dan gampang dikendalikan, jadinya hal itu rada bahaya buat kita-kita yang 'ngebut' dalam bersepeda. begitulah,,,,

Saran saya, ciptakan perjalanan sendiri. bukan masalah tujuan , tapi setiap perjalanan itu sungguh menyenangkan.

Wednesday, July 06, 2011

'kerasukan'




"faceless fairy"
acrilic on canvas 65x50cm.

tiba2, saya nglukis ini pas stuck males ngapa2in pas kebangun jam 2 malem itu, lalu saya mulai itu dan selese skitar jam 6-7an... tangan saya ngikutin hati saya, warna dan peri tak berwajah itu, entah saya dapet ide dari apa... hehe.. seru banget 'kerasukan' kaya pas nglukis ini.. =]

NB: cek juga www.kamilpopo.deviantart.com untuk lihat keisengan saya lainnya

be Fearless

Keberanian. itu absolut dimiliki oleh seseorang. Saya dan temen-temen pastinya juga dikelilingi sama orang-orang yang memiliki tipikal tingkat keberanian yang berbeda.

Ada satu quote yang masuk banget (saya baca di majalah bycycling):
"Fear Of Pain Is Worse Than Pain Itself "

Dalam hipotesis saya, keberanian yang saya maksud itu berhubugan dengan optimisme, keyakinan diri, atau hal semacam itu. Saya mengalaminya, dan saya jamin situ-situ juga ngalamin banyak hal yang menimbulkan semacam 'KERAGUAN" dalam melakukan sesuatu. Yang akibatnya, mnurut saya fatal: Pembatasan potensi diri, dimana seharusnya: Mencari batas dari potensi diri.

Dari mulai hal besar seperti ber-mimpi, memiliki cita-cita (yang kedua ini gratis), sampai hal kecil seperti menyatakan prasaan terhadap seseorang (bisa cinta atau ke-gak sukaan), sampai mendaki gunung, bersepeda jauh, backpacking, menggambar, dan lain lain, dan lain lain.

Saya dan semua manusia dicipta, diberi kebebasan yang memungkinkan manusia berekspresi dan berapresiasi, tentunya degan berbagai batas-batas (agama, sosial, dll) sesuai kepahaman dirinya masing-masing.

hmm, mungkin tulisan ini sangat 'kosong' hehe
tapi alangkah baiknya kita tidak selalu berteman dengan ketakutan.
Karna Allah bersama prasangka/keyakinan hambaNya (AlHadist).