Showing posts with label go to the East. Show all posts
Showing posts with label go to the East. Show all posts

Tuesday, March 22, 2011

My Lonely Planet: 3 days in Kyoto (End)


Halloooo, uda lama ni postingnya di draft, hehehe.. mari kita selesaikan!
Pertama, turut dukacita dalam atas bencana gempa dan tsunami yang meluluhlantahkan Jepang Utara, Siapa yang sangka negri maju seperti Jepang dengan mudahnya setengah hancur kaya gitu. hmmm, jadi sedih saya, pasti banyak cewek-cewek imut Jepang menderita *loh?!

Oke, saya sdikit utang cerita betapa indahnya Kyoto. Di postingan bagian trakhir ini saya cuma pengen nunjukin gambar2 tempat yang perlu dikunjungi di Kyoto. Umumnya kuil kuil gitu sih, 3 hari memang belum terlalu cukup buat datengin smua spot wisata di sana.
Cara tau tempat tempatnya gimana? Lagi-lagi pertolongan Tuhan, hehe, pas saya sampai di Kyoto, saya cuma tau klo kota itu banyak spot kerennya, titik! Dan yag terjadi adalah si Simpei, pemilik hostel (uda diceritain di tulisan sebelumnya) merekomendasikan dan merancangkan perjalanan 3 hari saya kemana aja. SERU kan? hehehehe
Saya membagi peta Kyoto menjadi 3 bagian, untuk mempermudah perjalanan. Ngerti kan? jadi misal saya jalan ke bberapa tempat di daerah timur untuk hari ke 1, lalu barat di hari ke2, dan seterusnya..
























Friday, December 31, 2010

My Lonely Planet: 3 days in Kyoto (2)



















































Halo halooo...
hehe

Lanjut ga nih? *ngomong ma diri sendiri*

Jadi pas dateng siang siang gitu, saya sempet 'lost' gitu, saya GATAU JALAN KLUAR STASIUNNYA! hehe brasa bego dah.. emang kepedean si, nbak-nebak sendiri awalnya, tapi ini untuk keseratus sekian kali kok, diakhiri dengan nanya,tapi kesannya lebih aj disini gara gara baru kali ini liat stasiun kereta bagus dan superhuge gitu, Tokyo kayanya kalah deh...

Oya, sbagai Turis, enaknya, kita halal banget kalo salah. Apapun itu, pasti kita di-maklumi sekali oleh orang sekitar. Paradigma itu harus kita gunain seoptimal mungkin. Rite?

Jauh dari sebelum ke Kyoto, saya uda mesen pnginepan disana via iternet. Cukup jelas, dari fasilitas, harga,dan peta lokasi. TOMATO House namanya, satu dari banyak banget hostel yang terdapat di kota Kyoto ini. hitungannya murah, semalam saya kudu bayar 2000 yen ato 200rb, dibanding hotel paling murahnya yg mncapai 5 sampe 6 ribu yen. Seperti hostel lain di muka bumi, sistemnya 1 kamar ada 4-6 kasur, alias share dgn wisatawan lain, kamar mandi luar lengkap dengan mesin cuci koin, dan dapur, serta living room yang tersedia wifi (wifi dan internet di Jepang cepetnya kaya mencret air). Cukup nyaman, karna justru suasananya jadi kekeluargaan sekali. Saya kebetulan share dengan mas mas Jerman yg sangat ramah dan 2 orang China yang apatis dan sharian di dalem kamar. si empunya hostel ramah sekali, bahkan mlm trakhir saya ditemenin nunggu bus, dan sampe sampe saya disediain ruang kosong buat solat sgala.. mantab kan?? Dan owner skaligus yg ngejaga hostel Tomato ini rajin ngirim invitation via fesbuk kalo ada acara apa loh sampe sekarang. (liat foto)

Kota ini 'katanya' memang dipertahankan sebagai kota wisata, kebetulan banyak banget tempat wisata sejarah, budaya dan religi yang bisa dikunjugi, mnurut saya 3 hari cukup ideal, itu saja saya men-skip beberapa kuil untuk di kunjungi.

Tarsportasi dalamkotanya gampang, ptunjuknya lebih 'jelas' dibanding kota-kota di Jepang lainnya yang slalu ditulis dalam karakter huruf kanji. hmm..
Bus dalam kota adalah yang paling ideal, kota ini cukup besar, perlu 1-2jam hanya untuk naik kendaraan dari ujung satu ke ujung lainnya. Bagi backpacker seperti saya, ada paket tiket bus seharga 500yen untuk naik turun bus sesukanya dalam atu hari, saya bisa sampe naik turun sebanyak lebih dari 10 kali, sedang harga normal skali naik 220 yen. tiket trusan itu dapat dibeli di dalam bus. Penduduk disini lumayan faseh berbahasa inggris, mirip2 di Bali, mungkin karena terbiasa hidup berdampingan dari turis asing.
Tapi untuk yg (mnurut saya bakal boring n kurang seru) ada paket bus 2000yen yang terdapat Guide di dalamnya, rute ditentukan sononya..

pada hari pertama dan setengah hari ke dua, betapa beruntungnya saya karena saya berjalan muter-muter Kyoto bersama pasangan suami istri dari Singapore, Mike&Fiona, pasangan ramah Chinese-Singapore.. Awalnya kebetulan kami dalam 1 bus dari stasiun, lalu ketemu lagi, langsung saya ngajak ngobrol mreka dan ternyata rute tujun kita hari itu sama persis (What a wonderful coincidence!), jadi kami bertiga jadi rmbongan bacpaker hari itu, walo dalem hati rada ga enak si ganggu hehe.. Miss those part, Mike&Fiona!
Oiya, kalo di Jepang, gampang banget ngebedain yang mana cewek Jepang dan cewe asia lainnya. gampang bgt. hehe

Gimana? terbayangkan enaknya kah?

(gambar: atas ke kanan: tersesat gang gang sempit nan molek di kota, nunggu bus d halte (suwung), bersama Mike&Fiona, bersama Simpei(sang pemilik hostel, Hostel Tomato(hostel yg nyaman), Peta jalur Bus (hidup dan mati saya di peta ini), Hotel simbol Kyoto )

Tuesday, December 07, 2010

My Lonely Planet: 3 days in Kyoto (1)
























Akhirnya setelah sekian lama, saya tergerak untuk cerita disini, daripada memori ilang..
Bulan Juli kemaren, (uda pernah cerita kan?) kalo saya nglakuin sebuah perjalanan yang mungkin masuk dalam klasifikasi "BackPacking". Saya ngabisin kira-kira 10 hari, sendiri, sebagai Alien yang legal, menempuh setengah dari luas negri Jepang, menginjakkan kaki dalam arti sebenarnya ke 5 kota (Tokyo-Matsumoto-Kyoto-Hiroshima-Fukuoka) secara seadanya. yap, saya 'hanya' ngabisin sekitar 5-6juta rupiah (kata orang ini GILA hematnya loh!)

Memang saya lumayan matang nyiapin ini, dibantu sahabat saya disana (pa kabar ya dia?) Koji & Shoota, saya ngrencanain transportasi untuk perjalanan 'besar' ini. Sayang mereka ga bisa ikut karena meski uda musim kemarau, tapi belum masuk summer holiday-nya..

Pilihan transportasi antar kota secara umum di Jepang banyak. Contoh saja, dari kota dimana saya tinggal. Kagoshima, yang berjarak terbang 2 jam ke Tokyo. Namun biaya transportasi yang tinggi menyebabkan Alien jenis saya terpaksa tidak memiliki banyak pilihan, ambil saja, pesawat Kagoshima-Tokyo termurahnya (kalo dirupiahin) sekitar 5-6juta SEKALI jalan.
Sinkansen juga harganya berkisar sama dengan pesawat, kbetulan karna saya berbeda pulau dengan Tokyo, bila naik kereta harus gonta ganti stasiun 3-4kali, baik Sinkansen atau kereta api biasa. Kereta api biasa disini makan biaya (Kagoshima-Tokyo) sekitar 2-3 juta. Nah, Kalo naik bus, harga sekitar 1jutaan, saya ngabisin 1,2 juta rupiah untuk ini. Bus malem, 18jam perjalanan darat dari Kagoshima ke Tokyo.

Perjalanannya cukup oke, kebetulan disana highway semua. jadi ga ngrasain liat jalan tengah kota yang ramai, nyetirnya mulus, tanpa nyelip Truk kaya di pantura, tempat duduknya woke punya, kaya kelas bisnisnya Flight Mandala/Sriwijaya (jujur saya ga pernah juga sih), dapet sarung kaki lengkap dengan tutup mata, sayangnya jarang dapet makan, adanya mampir ke peristirahatan (kaya pom bensin dan resto2 yang jadi satu di beberapa Restpoint di Cikampek, lengakap banget uda kaya Mol hehe)

Untuk transportasi kota-kota yang ga gitu jauh, misal Tokyo-Osaka (jarak tempuh 2-3jam darat) lebih asik naik kreta ekonomi antar kota, dijamin ga kaya 'ekonomi'nya sini, yang naik cantik2 gila euy (kaya Miyabi kabeh huahahah), tapi untuk antar kota yang jarak tempuh darat diatas 5jam, kalo saya sih, untuk idealnya naik bus malem, brgkt malem sampe pagi2, tinggal cari tempat mandi umum deh, hemat biaya bus, juga hemat biaya nginep.. seperti saya, alan 10 hari, cuma pernah nginep di pnginapan (itu aja hostel doank) cuma 2 malem, sisanya saya bener2 nge gembel. seru banget asli! hehe

Oya, sebenernya, ada yang enak buat para turis. Japan Railway/JR (BUMN kereta di Jepang) menyediakan JR-Pass (paket satu harga bisa naik kreta kemana-kemana keliling jepang seenaknya) yang harusnya bisa diurus sebelum keberangkatan ke Jepang, ngurusnya kudu di kedutaan Jepang di negara asal, sayangnya saya baru tau ada ini pas disini, jadi ga bisa make itu deh, hehe..




Kalo urusan perut mungkin rada perlu 'puasa'. Sekali makan paling murah ngabisin 40-50 ribu rupiah. Harus pinter2 ni ngaturnya. dari mulai makanan nasi isi ikan-ikanan/sayursayuran dibungkus segitiga (namanya saya lupa) kaya foto diatas, sampe bento yang bisa minta
dipanasin di convenience store (mirip-mirip indomaret) sampe ke franchise yakiniku-don Yushinoya ato Sukiya. Beli minum, minimal bisa minum sepuas puasnya dari kran, kalo mo variasi beli di kotak minuman (yag make koin) yang bener-bener tersebar merata di setiap sudut di jepang (sampe ke pelosok-pelosok, sumpah), minuman kaleng kaya cocacola harganya rata-rata 90-150 yen (1yen=100rupiah). mahal ya?bersukurlah hidup di Indonesia! =]

Singkat cerita, setelah puas jalan 2 hari di Tokyo n 2 hari ke Matsumoto, saya minggat ke Kyoto. Disini saya uda nyewa hostel yang saya pesen uda dari awal saya nglakuin perjalanan ini, kbanyakan lewat internet, cukup mudah, apalagi kalo ada orang jepang yang bantu (masi bersukur bgt ada Koji&Shoota yang tiba-tiba mau bantu se-gitunya =D ). Kyoto itu kota 'budaya' di Jepang, sejarahnya, kota ini adalah kota 'tertua' dan ibu kota Jepang jaman dulu, dan sampe skrg emang sebagian dipertahankan tatakota kunonya itu sama pemerintah Jepang. Buat wisata asik sekali. Mirip-mirip Bali kalo di kita, hampir smua orang lokal faseh bahasa Inggris, banyak Bule sliweran, banyak tempat bisa dikunjungi, saya juga langsung jatuh cinta sama kota ini. sangat direkomendasikan untuk temen-temen, kalo belum ksini belum ke Jepang deh. hehe

Oke, disini dulu, tunggu episode selanjutnya yaaa,,, Kyoto banyak crita euy =]



Monday, August 09, 2010

Hiroshima (pick my past back)











































Just for u all to know, that I used to spent my childtime in Hiroshima. I had lived in that nice city around 1987-1993 (6years), when I was 1 year old till I was 7. My father took a kind of master school in Hiroshima University,
I went to the Okko hyakuen (kindergarden) since 2yearsold, then I entered Okko Shogakko (Elementary school) before I went back to Indonesia while I sat in the beginning of 2 year of Elementary school.
I think I was lucky coz that really great oportunity that I could spent my chiltime not in ordinary way, despite of we are the same as human, I was still An alien, hehehehe.. the only weirdo black skin child in the middle of all Japanese student. That's pretty cool, wasn't it? hehe..

The unlucky is, I can not remind those 6 years! hhhhh.. I think I was too young and my immature temporal brain haven't save those memory..

That was motivating me, to went to the Hiroshima. to pick my past back.
With my googlemaps in my smart phone, like unbelievebly, I could find my old residence/home, my kindergarden, and my Elementary school! That was bloody amzing! =D
Nothing canged, I could remain all of the place, each corner, my memory's came back spontanously like just explode..hehe..
That was very exiting! And I advice you all, someday, you should come back to your oldplace, and you will feel what I felt. sooo fuckin cooollll =]

like Japanese said : "iiiii neeee !!"

(left to right: my kindergarden (front view)- my elementary school (front view) - took a image with 2nd year student (I was that short 18years a go)- my residence (left) and the temple (where I spent every afternoon) - my kindergarden (gate) - Hiroshima station )


Tuesday, July 20, 2010

(2) in Daily -ends-


Sometime if you met new things in your life, everything would gonna be fascinating.

The sentence above, is conclusion for my lonely and speechless life in Kagoshima. Everything was new. Can you remind Meggi Z songs? "makan, makan sendiri. nyuci baju sendiri, bla bla bla seeen diriii ...." .. yah, closely like those lyrics. I went clean up my (full of mini-cochroaches) room, washed the dishes (argh... I was sooo lazy for this stuff), washed all my clothes and cooked all my breakfast and dinner by myself.. yap, 'by myself' means very comlplicated for me. Since I was born in 24 years a go, I stood behid my mama-papa's back. That was shameful, wasn't it?

But amazingly, I had enjoyed all those things. You can imagine that my lips went smile during cleaning up or cooking, although my lonely life still messy. hehe..

Because of my programs was not A full scholarship (I only NO need to purchase education&accomodation payment), I had to manage my living cost all by my self. Morever, The living cost in Japan is around 4th or 5 th highest in the world! Especially for food, uhm, for example, you have to ready 500-1500 yen in your pocket (1yen = 100rupiah) for only once time eat. And either did transportation cost, communication, etc etc .. huhhh.. If you will life there, you shouldn't convert anyprice to rupiah, except you want your brain going cramp.hehe

Everyday, I went to the hospital by walking on ascending way, it tooks 20-25 minutes. It's a little tough for me at the beggining, but it's going to be like healthy habbit for my low extrimity's muscle and my lungs immunity. (alhamdulillah, I had never fallen to ill condition there)

If I had sparetime, I ran some of my afternoon by bicycling around the city, I went to explore what there were in my radius 2-3 kilometers around my accomodation place. There were 2 Mall, so many shop and so many delicious-looks restourant. Walking around this city by bicycle is the one of my entertainment, feeling the light wind blow, looking at the cute Japanese girl with hotpans everywhere, and no body cares you (yeah, Japanese people is the most passive people in the world). That all so lovely for me! wuuuuh, I miss those day huhuuuu....

Thursday, July 15, 2010

(1) in Daily


















It was 8 weeks (From the beginning of May until The end of June) I went through those study program. I joined almost all of the activity (which I could join and My profesor ask me to joined) at Neurosurgery(NS) Departement, Faculty of Medicine, Kagoshima University, Japan.

There were so many members compare with NS dept. in my hospital here (Kariadi). 1 professor, 7 staff of NS, and lot of NS residents (around 11-12 peoples) . Coincidentally, These departement was A kind of International outlook departement, some of international students became NS resident, one from Nepal, and one from Indonesia and from Colombia. I was the first student for this studentexchance program there. English is not the one of requirment for this program. (since language and writing were the paramount problem to study in Japan). so I didn't need to study Japanese languange in serious way.. hehe

Prof. Kazunori Arita was my professor. He was is one of famous Neurosurgeon in Japan (especially in Adenoma case). For me, he like my father and my great teacher at once.
He asked me to make a study about intraoperative MRI(iMRI) during my program. So everyday, beside attended to NS departement activity, I studied about that (iMRI and some patients case using iMRI).

Generally, In my opinion, we were left behind too far, the educational systems, the health insurrance systems, bla bla bla, and especially the Technology..
In braveness, I can use analogy that currently, for cooking, we still used fire-wood stove, but they had used digital&electric stove..
ironic, right? but I don't have competency to talk about our (trouble) country, yet..

I think, this program really work for me, i got very lot of experiences and it open my mind in all side. And I hope I can comeback to study here. Amiin.

Overall I love Japan (for study, and for life, there)
=]

*I am sorry for bad english, I know my grammar is miserable. hehe
*oya, u can see in some photo image , they taken in University Hospital, Kagoshima.

1.iMRI
2&3. Studying with other med.students
4. microsurgery tryning
5. The proffesor's teaching about imaging
6.farewell party with NS staff, secretaries, and students.
7. w/ Prof.Arita & Oyosi sensei (my mentor)